Saya kembali pulang ke Bandung.
Pada mama dan papa saya katakan, saya akan menetap, memulai diri saya yang baru, mencoba berbisnis saja ..entah apa..karena Jakarta sepertinya tidak ramah kepada saya.
Papa bertanya, dengan gurat wajah yang gusar dan seperti sedang berpikir gerangan apa yang terjadi pada kehidupan saya yang lalu.
Mama menyambut kepulangan saya dengan suka cita…
Tanpa tuduhan apa apa , mama hanya memeluk saya penuh kasih, dan menjamu saya dengan makanan berlebihan…katanya saya terlalu kurus.
Tapi papa hanya menaruh curiga sementara, selebihnya kami sekeluarga melepas rindu, membayar segala waktu yang sempat hilang….
Sekilas saya memikirkan Dimas…
Tapi kegalauan akan mengungkapkan jati diri saya kepadanya lebih besar…
Dimas memang pemicu segalanya,
Pemicu segala perubahan yang saya inginkan, termasuk pendorong keputusan untuk lepas dari jerat simpanan seorang pengusaha kaya.
Tapi apakah Dimas akan menerima saya jika saya betul betul jujur padanya?
Saya rasa tidak.
saya ingin saya yang baru, dengan kehidupan baru…dan Dimas sepertinya tidak masuk rencana masa depan saya.
Saya hanya ingin berbaik hati pada dia, karena dia sungguh tak layak mendapatkan saya….itu saja.
Seorang lelaki tampan, mapan, bisa saya jadikan pasangan..hahaha..selamat datang di dunia mimpi Sari.
Loh bukannya kamu sempat bersama dengannya?
Iya…
Tapi Dimas tak pernah tau siapa saya yang sebenarnya…
Dunia percintaan tidak pernah seramah itu terhadap perempuan mantan simpanan orang seperti saya..dan saya betul betul tidak ingin Dimas menjadi benci kepada saya.
Ratna kerap kali menelpon, dan setiap kali dia menlpon selalu ada kabar Dimas terselip, Dimas yang kangen ingin bertemu saya, Dimas yang putus asa dan ingin cepat cepat bertemu saya lagi. Dimas hanya heran, kenapa saya tiba tiba menghilang. Ratna pun tak berani menyampaikan apapun ke pada Dimas…saya percaya betul dengan sahabat saya itu.
Biarkan saya menjalani nasib saya di sini.
**********
Bandung, setahun kemudian.
“Bu…ini pesanan yang baru sudah datang..saya taruh mana?”
“Taruh di meja aja ya Des….biar saya yang mengatur nanti.”
“Kalau sepatu lelaki ini bu?”
“Oh..taruh di gudang dulu..biar nanti saya dan Indah yang atur atur..makasih ya Des”
Desi mengangguk.
Disinilah saya sekarang,
Uang bapak saya gunakan untuk membangun bisnis ini, masih kecil kecilan, taapi saya yakin dengan kerja keras saya bisa mendapatkan yang terbaik.
Saya mendirikan sebuah butik pakain, tersedia untuk pria dan wanita, mungkin berlebihan kalau saya sebut butik, karena berkesan mahalan…mungkin tepatnya hanya toko pakaian..ya mungkin itu terdengar lebih bersahabat untuk telinga konsumen saya.
Dibantu Indah adek saya yang perempuan, karena Yuda gantian merantau ke Jakarta dan bekerja di sana.
Menjelang sore
Saya jarang main kekamar Indah, entah kenapa sore ini saya ingin sekali main di kamarnya.
Mata saya tertumpuk pada suatu kliping di pojok meja…judulnya lucu..
“Pacar impian”
Hihihi..saya segera membukanya…
Banyak gambar Artis luar negeri dan dalam negeri, ada beberapa yang saya tidak kenal siapa mereka, mungkin model.
Namun satu foto justru membuat saya menahan nafas, mendadak gemetar, dan seperti …ada celah hati yang membisikan sesuatu..entah apa.
Di foto itu ..ada Dimas
Foto itu mirip seperti foto yang saya lihat pertama kali ..yang terjatuh secara tak sengaja dari majalah Ratna…
Hanya saja..beda pose.
Mata itu, wajah itu…saya rindu.
Dimas..kamu sedang apa sekarang?
Kamu masih ingatkah padaku?
Ternyata tak semudah itu melupakan dirimu..
Dalam hati ini ..aku selalu berusaha lupa, menjalankan kehidupan kedepan..karena aku tak tahu..apa yang ada dalam hatimu sekarang.
Kau tak pernah tau aku siapa.
AKu takut kau hanya mengagumi fisikku, sementara hatiku? diriku? adakah kau mengerti Dimas.
Indah masuk..
“Eh kak..ngapain?”
Saya menyeka ujung mata saya yang sempat tergenang air …
“In..ini apa?” tangan saya menunjukan kliping yang berjudul aneh itu.
“hihihih..bukan apa apa kak..cuma foto cowok cowok cakep..Indah suka”
“Banyak foto yang kakak gak kenal In..”
“Ya..karena mungkin mereka baru mulai kak…mau tau gak favorit ku yang mana?”
“Mana..”
Indah mengambil kliping dari tangan saya dengan semangat dan membuka halaman kliping cepat cepat. Tangannya berhenti, tepat di halaman yang memasang foto Dimas.
“Ini kak..namanya Dimas Danang ramdhan…..dia udah lumayan lama jadi model..cuma emang kayaknya gak total gituh..katanya si dia sebenarnya arsitek kak…mantep kan..hehehe..udah ganteng..pinterrr..beuhhh..eedduuaaan deh kalo jadi ceweknya dia..hehehe”
Saya tersenyum.
Indah memiliki selera yang bagus..
Dimas…saya rindu kamu.
Sebuah Telepon
Saya terbangun dari tidur saya, ya semenjak di Bandung..tidur saya menjadi beberapa jam lebih cepat..pukul 10 malam sudah merupakan malam yang amat larut bagi saya.
Privat number.
siapa?
“Hallo?”
………………….
“Hallo?”
tetap tidak ada suara
“Saya matikan teleponnya..”
“Sari?”
“Ya?”
“Hai..”
Dan saat itu juga, seperti ada kupu kupu yang bermain di perut saya, seperti ada lantunan lagu lagu evergreen di telinga saya…saya amat sangat mengenal gaya dan suara sapaan itu.
Dimas…lelaki yang saya rindu.
“Hai..”
“Akhirnya..aku mendapatkan nomermu..”
Saya diam.
“Sari….aku hampir jadi gila ketika kamu tidak ada”
“Baru hampir kan…syukurlah..”
“Sari..aku sedang tidak mencoba jenaka”
“Maafkan saya..”
“Kenapa?”
“Apanya?”
“Alasan kamu pergi…aku kira ..kita punya sesuatu bersama….aku hilang akal ketika aku mencari mu di apartemen..sudah tidak ada orang…aku telpon Ratna..dia juga tidak mau memberikan informasi apa apa.”
“Maaf”
“Aku tidak minta kamu minta maaf pada ku Sari!!…aku cuma minta kamu memberikan alasan..kenapa kamu pergi?…dan tanpa memberitaukan aku?”
Saya kembali diam.
“Aku harus ketemu kamu sekarang?”
“Kamu tidak tau alamat ku…dan aku tidak akan memberitaukan padamu..tidak”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau bertemu dengan kamu lagi..” Saya berbohong…
“Terlambat…aku sudah ada di depan pagar rumah mu sekarang..aku tunggu…please..”
Telepon di tutup.
Saya kaget…
Dimas ada di sini…
Saya liat jendela.
Mobil Solunanya terparkir manis di depan pagar…
Ada Dimas….sekarang.
Saya membuka pintu rumah.
Dimas berdiri di depan saya…
Dia sama tampannya seperti terakhir kali saya mengenalnya dulu, hanya dengan sedikit janggut di pipinya.
“Kamu belum cukur”
“Malas”
“Duduk..”
Dimas duduk, dia masih wangi seperti dulu… Bvulgary for Men….dengan jeans birunya, kemeja lengan panjang berwarna putih. Makhluk ini memang memesona.
“Aku habiskan kira kira 10 bulan mencari kamu…Ratna sama sekali tidak mau memberitaukan sedikitpun informasi tentang kamu…Aku cuma tau orangtua mu di Bandung..tapi di mananya?..aku sama sekali tidak punya petunjuk.”
Saya masih diam, tidak berani mengangkat kepala, tak berani memandang mata jernihnya yang dulu begitu bening dan teduh.
“Kira kira 2 bulan yang lalu , ada anak magang di kantor ku, namanya Yuda”
Saya terbelalak…..Yuda..adik saya.
“Dia anak yang baik, cepat akrab, mau capek, berkeinginan tinggi dan selalu belajar. Lantas dia bercerita tentang keluarganya. Tentang orang tuanya, tentang adeknya, tentang kakaknya….yang kembali ke Bandung karena merasa Jakarta tak lagi ramah…dan Yuda memperlihatkan foto keluarganya….dan saya yakin sekali..Sari..kakak yang Yuda maksud..adalah kamu.”
Saya tak mungkin terus menerus diam.
Saya pandang matanya ….dengan dingin ..
“Kita sudah ketemu sekarang..lantas?”
“Kamu belum menjawab pertanyaan ku..kenapa kamu pergi tanpa merasa perlu memberitau aku”
“Untuk apa?”
“Untuk apa!?!?..kamu barusan tanya untuk apa!?!?..Sari..aku sudah menganggap kamu kekasih hatiku!!..calon istriku!!…dan kamu pergi menghilang entah kemana!?!?..meninggalkan sejuta tanya dan rasa ingin tau!?!?”
“Dimas..dengarkan saya…kamu belum tau banyak tentang aku!!..kamu sama sekali tidak mengenal aku!!..siapa aku…bagaimana aku bisa tinggal di apartemen padahal kamu tau aku cuma pegawai kantor biasa!! …KAMU GAK TAU APA APA TENTANG AKU DIMAS!!…JADI KU HARAP BERHENTILAH UNTUK BERPIKIR BAHWA KAMU MENCINTAIKU!!”
Saya meradang…
Saya menangis
Saya ingin menghilang ..sekarang..
Dimas mendekat , menghampiri saya…saya menolak pelukannya..demi Tuhan saya tidak membenci dia, hanya jika saya masuk dalam pelukannya..saya tidak yakin apakah saya ingin di lepas lagi.
“Sari..aku tau..”
Dimas tidak melanjutkan kata katanya….namun kemudian..
“Saya tau …sebelumnya ..kamu siapa….”
Saya menatapnya..tepat dikedua bola matanya yang tajam…
“Berita bahwa kamu…….ya..berita itu…..saya sudah mendengarnya Sari..”
“Simpanan..kalau kamu jijik menyebutkan kata kata itu!! kamu juga pasti jijik sama saya Dimas!!”
Saya kembali emosi
“Tunggu dulu..tunggu…”
“Aku gak mau kamu tersinggung Sari…Sayang..”
“Aku bekerja di kantor yang ternyata salah satu anak perusahaan milik orang yang ..yang menyimpanmu.”
Untuk yang kesekian kalinya..saya diam
“Aku pernah melihatmu sekali, jauh sebelum kita kenal…kamu datang sebentar..menunggu di lobby..dan kemudian pergi”
“Tadinya aku tidak yakin ..ketika kita bertemu lagi di apartemenmu….tapi kemudian, perlahan tapi pasti..aku tau..Kamu sari yang waktu itu aku lihat di lobby kantor bersama si empunya perusahaan.”
“Dimas…?”
“Aku juga tidak yakin dengan hati dan perasaan ku sendiri Sari, tapi semakin aku mengenalmu, aku semakin jatuh hati, dan sulit untuk melupakan mu.”
“waktu kamu pergi..separuh hatiku lega..mungkin seharusnya aku tidak usah masuk dalam masalah yang aku sendiri nanti tidak tau bagaimana menyelesaikannya….tapi separuh hatiku…pergi bersamamu Sari..”
“Dimas..aku sama sekali gak layak untuk kamu…sama sekali gak sebanding “
“Tau apa kamu tentang layak dan sebanding..kalau kamu sendiri memperlakukan dirimu seperti itu?”
“Sari…aku datang ..untuk mengambil separuh hatiku bersamamu…dengan kamu…aku mau kembali seperti dulu..”
“Tidak mudah Dim…gak mudah..”
“Apanya??…aku akan tetap menyanjung mu seperti dulu”
“Bahkan sudah setahunan ini …perasaan ku tidak sedikitpun berkurang padamu sari..”
“Dimas…apa ini nyata?..apa aku boleh bahagia?”
Saya menangis..
“Ini nyata Sari…dan ijinkan aku membahagiakanmu..please Sari..”
Saya menangis sejadi jadinya..namun kali ini saya berlari dalam pelukan Dimas…
Dimas memeluk saya erat sekali.
“cubit aku..aku mimpi gak?”
“Aku cium aja gimana ..hahaha”
Bandung malam menjelang pagi…
Ternyata kisah cinta tak selalu harus didramatisir oleh bumbu bumbu yang bertele tele..atau memang hanya saya yang beruntung?
**************************
Saya Maheswari Prasetya
Perempuan berusia 30 tahun
Saya tidak tau kapan saya akan menikah
saya hanya bersama seseorang yang saya cintai…dan mencintai saya.
Ya…akhirnya saya bahagia…
Itu sudah cukup sekarang
Saya tidak tau akan bagaimana
Akan ada masalah baru..pastinya
Tapi saya tenang..
Tak lagi ragu
Tak lagi malu
Saya perempuan baik baik
Bersama lelaki baik baik.
Ahhh..kamu pasti iri pada saya..:)
+++++++++++++++++++++
sapaku yang pertama!
akhirnya aku ucap selamat atas akhir dari ceritanya. aku tunggu yang lainnya ya,jeung?
salam hangat selalu
jadi larut aku baca ceritanya
kapan2 aku mampir lagi ya mba buat baca cerita2nya yg lain
Dimas itu mantan loe yang tukang pecel lele itu kan…??
ada lanjutannya ngga nih…?? Atau sambungannya berupa primbon…?? Hehehehe…
Ditunggu cerita selanjutnya ya…
Siiip dech, selesai sudah.
Cerita fiksi lainnya di tunggu.
mbak …bagus sekali…mbak yessy sudah bisa jadi penulis. Coba tunggu komen teman teman yang lain…waah…pastisemua larut membeca cerita fiksi yang indah ini…
Haduuhh.. Kok diTAMATin sihh..
REsikonya Mesti bikin cerita baruuuuu.
Ayoooooo!!
Seneng deh akhirnya happy ending, sebab aku tidak suka sad ending. Dirimu berbakat juga menulis Jeung, kapan novelnya ditulis dan diterbitkan?…
Thanks
Yaaahhh… Yess. Kok ditamatin sih?! Klimaks-nya diperpanjang gitu lho…
orang yang ada di foto itu beneran ada…?
kenalin dong…
siapa tahu saya ketularan ganteng dan modis dari dia…
sepertinya tulisannya perlu saya kompliasi terlebih dahulu…
[senyum]
cerita bersambung yg kereeen
nggak nyangka Yessy is a very talented writer
hmmmmmm……
cuma kok buru-buru
tamat ya……soalnya masih
pengen berlama2 nih
wahhh……
ternyata si mbak jago nulis yah………
gimana kalau buat novel ajah mbak????
haha…
Wuih…dah bisa nulis cerpen juga mbk yessy …. *geleng2 kepala..*
huaa…
mustinya sad ending, Yes..
Kata seorang editor yang gua kenal nih, Bu.. Hari gini, yang lagi musim tuh cerita2 dengan sad ending atau yang kocak dan gila pol!
Bikin yang sedih-sedih, Bu…. Kolaborasi sama gua, gimana? Biar pembaca pada nangis semua… hihihihi…
Sip, deh..
Yessy udah pinter!
panjang
Plok.. plok.. tepuk tangan buat Mbak Yessy..
Ditunggu cerita lainnya *menanti sambil baca laptop dan masak, hehehe perempuan multitasking*
Bagus kok Mid…


Tapi bener kata Lala, keknya yang sad ending lebih tragis jatohnya
Btw, bikin buku kolaborasi antara elo sama Lala ??? *mikir*
Keknya malah jadi buku yg bakalan menyaingi Kambing Jantannya Raditya Dika dunks
Gue bagian ngisi sontrek aja dah
*piss Mid… Piss*
cerita ini bakal jadi saingan film “laskar pelangi” lho…segera dapetin buku dan CD nya… wakakak…
wehhhh………HIDUP itu RUMITSSS yeee!…..
gw kalo baca postingannya big sis bikin minus kacamat gw jadi tambah dech…
Untung happy ending Yes…aku nggak suka sad ending….
Tapi kecepetan tamatnya…..bikin lagi dong…..
duh…untung….untung…aja!!!
untung akhirnya bahagia…sengaja nelatin bacanya…biar gak nunggu2 sambungannya…untung selesenya bahagia…hahahaha…makasih!!!!
ahhhh……happy ending, demen deh gw, jadi ga perlu nangis2 bombay
Toyota Soluna? Heummmmhhhh…..