Untuk Reza.
(jangan marah kalo lo baca ini, gue cuma mau lo tau..gue sayang banget sama lo. Melebihi dugaan lo selama ini)
Ja…
Apa yang mau kakak bilang di surat ini, gue rasa lo udah tau. Apa yang mau gue omongin, gue rasa juga lo udah tau. Apa yang ingin gue sampaikan dan gue harap elo mengerti. Itu yang gue rasa lo belum tau.
Ja..
Gue harap lo mau belajar banyak dari peristiwa ini. Bahwa manusia tidak hanya butuh otak yang pintar, tidak hanya butuh uang, tapi juga butuh kesabaran, butuh usaha..dan …berhati-hati jika bicara.
Gue dan mama…bahkan papa…atau juga Tangguh. Pasti bangga sama lo…bangga banget. Seorang anak, adek, uncle…yang pintar di sekolah, juara kelas. Menjuarai berbagai lomba kecerdasan tingkat DKI, bahkan ikut olimpiade biologi. Bohong kalo gue bilang kita gak bangga. Satu sekolah mengakui, bahwa lo termasuk murid yang pintar..oh, okey, bahkan pihak sekolah mau repot-repot memberikan tanda tersebut. Itu tidak pernah gue dapatkan disekolah, Ja. Gue gak pernah bikin mama dan papa bangga sama kemampuan akademis gue. Gue hanya bisa bagus dalam nilai seni, tapi ya…lo kan tau…papa mama kita gak begitu menghargai bakat gue di situ.
Ja…
Ketika lo memutuskan tidak mau mengambil swasta jika sama sekali tidak lulus SPMB. Gue menjadi orang rumah yang nomer satu menentang keinginan lo. Apa-apaan tuh?!?! Gak masuk negri? So?? Masih banyak universitas swasta yang bagus dan bermutu…well..cuma harus kuat di duit aja siy…
Lo menolak..
Sama sekali gak mau..
Dengan alasan..masak siy lo sebego itu untuk bisa gak keterima di SPMB.
Well, Ja…Masuk di universitas negri itu bukan perkara pinter gak pinter. Ada yang namanya keberuntungan. Ada yang namanya nasib dan rejeki, dan semua itu ada di tangan lo. Tergantung sama seberapa kuat usaha lo. Ouw…lo kan anak pinterrr..iya-iya…Satu sekolah respect sama elo..karena lo pinter..Ouw iya..maaf deh..Gue lupa. Maklum, kakak kan gak pernah ngerasa ada dalam posisi lo, Ja. Gue gak pernah merasa ada dalam posisi sebagai siswa cemerlang. Seperti elo.
Terus Ja…
Gimana Akhirnya???
Lo ternyata gak lulus spmb. Yak..dua pilihan lo untuk fakultas kedokteran itu…tidak menerima elo. Lantas? Lo sibuk ikutan ujian saringan masuk di universitas swasta terkemuka. Gelombang terakhir.
Ugh….
Gelombang terakhir Ja? Dan cuma satu pilihan itu??? sementara yang lain sudah menutup pendaftarannya???
Kembali lo harus menelan pil pahit. Lo gak diterima.
Apa yang salah Ja???
Bukannya lo pinter?
nilai lo selalu bagus?
Lo bahkan salah satu finalis olimpiade biologi, Ja??? Ouw God..bahkan ujian saringan masuk universitas swasta aja lo gak masuk?!?!?
……….
…………………
Dan, ya…Ja…lo akhirnya menangis.
Separuh hati gue ingin memeluk lo, ingin mengobati rasa kekecawaan lo. Tapi separuh hati gue ingin berteriak dan bilang..SOKOOOORRRRRR!!!!
Kenapa?
Ouw..bukankah gue udah bilang dari awal???
Ikut yang gelombang pertama aja dek, peluang masuknya lebih besar. Ini kedokteran, bukan ekonomi, bukan fisip, bukan satra…biasanya cuma membuka kelas terbatas.
Apa yang lo bilang waktu itu???
“Kakak!! kok lo nyumpahin gue masuk swasta mulu siy?!?! bukannya doain adeknya masuk negri.! Gue pinter! gak sama kayak elo!!!”
Ouwh…
Okey…
Tapi sekarang Ja?…sekarang? gimana???
Lo gak dapat negri…dan semua universitas dengan fakultas kedokteran yang ada di Jakarta sudah menutup pendaftarannya.
Terpaksa, Ja…lo harus menunggu tahun depan.
Terpaksa Ja…seperti yang lo mau dan lo minta…lo bisa ikutan SPMB tahun depan ..lagi.
Dan lo akan mengisi hari-hari lo dengan ikut kelas bimbingan belajar itu.
Sedih, Ja?
Kecewa?
Marah?
Kesal?
Ohh…..PASTI!
Gue bahkan terpaksa mempertanyakan lagi pertanyaan itu kemarin sore…”Lo beneran mau masuk kedokteran gak si, Ja? Soalnya kalo enggak, kita masih bisa cari swasta niy..masih ada yang buka kalo bukan kedokteran mah!”
Dan jawaban lo…
“Reza emang beneran pengen masuk kedokteran kok, kak! Buat apa Reza nolak bangku IPB sama sastra Inggris UI yang di tawarin guru Reza kemarin??? Reza pengennya jadi dokter! bukan yang lain! bukan asal kuliah dan masuk negri tanpa tau mesti jadi apa?!?!”
Owhh…dari situ saja, gue masih mendengar nada sombong dalam kalimat lo, Ja. Entahlah, apa emang gue yang terlalu sensi atau lo emang gak pernah denger kata-kata gue.
Jadi, Za…
Hapus air mata sedih dan kecewamu itu. Lo memang rugi waktu setahun ini. Tapi lo bisa isi waktu lo dengan tetap belajar kan? ingat….test gelombang pertama universitas swasta yang kita incar sudah buka Oktober nanti. Sinting kan? Kemana aja lo dulu sampe sama sekali gak tau tes gelombang pertama itu di mulai jauhhhh sebelum ujian-ujian akhir tahun ajaran dimulai.
Ini pelajaran, Za…
Bahwa kita manusia tidak boleh sombong. Bahwa masih ada yang jauh lebih hebat. Masih ada yang jauh lebih pintar dari yang kita sangka.
Pasti ada hikmah dari setiap kejadian. Pasti ada maksud Tuhan dari semua kejadian ini.
Sementara itu…
Gak usah malu…gak usah kecewa berlebihan. Mungkin tahun depan lo bisa aja sekelas dengan adek-adek kelas lo di sekolah yang sekarang. What the hell!??! yang penting lo tetep bisa sekolah! Ini bukan masalah biaya…bukan sama sekali. Ini cuma masalah kelalaian lo, dek…itu aja. Dan semoga tahun depan ini tidak terulang lagi.
Tanpa lo minta pun, gue selalu mendoakan lo Ja…Selalu. Kita cuma berdua, selisih 11 belas tahun di antara kita membuat gue otomatis menjadi pelindung lo. Cuma akan ada elo, dan gue…jika sesuatu terjadi nanti.
Gue tau lo hebat…gue tau lo pasti bisa…dan gue tau. Kekecewaan ini akan menjadi cambukan buat lo. Untuk menjadi seseorang yang lebih baik nanti.
Hey, Ja…ini cuma masalah terlambat. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, bukan?
Love you, will all my heart.
your one and only sister
Yessy Muchtar
