Menjadi Mungkin.

Gue selalu percaya tentang pilihan dan percaya.

Maksudnya adalah, ketika gue sudah memilih, gue percaya bahwa gue harus bertanggung jawab sama segala pilihan gue itu.

Gue juga percaya bahwa segala keputusan, yang sekali lagi, menghasilkan sebuah pilihan, adalah jodoh-jodohan.

Nah, gue percaya lagi nih…(kebanyakan percaya minta di timpuk)

Yang namanya jodoh-jodohan itu, harus di usahakan, harus di perjuangankan, harus butuh…pengorbanan. Dan suksesnya kita, bukan tergantung atas seberapa besar pengorbanan yang kita buat itu. Tapi tidak lebih dari merasa ikhlas dengan segala pengorbanan yang kita buat.

Bingung?

PEGANGAN!!!

Jarang-jarang niy gue pengen bikin tulisan bener kayak ginih, jadi tolong yaaa, bukannya mau sok-sok nasihatin. Gue cuma dapet cerita baru dari temen gue yang sudah bercerai, padahal menikahnya saja belum genap dua tahun.

fuuichh…

Setiap kali gue mendengar berita teman seusia yang bercerai, gue makin deg-degan.

Apa iya, segampang dan semudah itu sekarang? Apa iya, sesantay itu untuk orang-orang Indonesia saat ini mengajukan kata cerai?

Perempuan yang siang itu ada di depan gue, cuma mengucapkan kata-kata yang lambat-lambat gue cerna. Entah bodoh, entah cuek, entah memang itu sudah gayanya.

“Gue cuma udah gak cinta lagi sama pasangan gue, Yess…”

Begitu katanya.

“Segampang itu?”

Tanya gue dengan tampang terlongo.

“Yah gak segampang itu. Cuma gue males lah cerita detailnya. Gampangnya ajalah, kalo hati masih sayang, mau masalah kecil atau besar, pasti selesai kan? Karena apa yang kita pikirkan adalah kebersamaan tanpa harus saling menyakiti. Masing-masing dari kita masih menginginkan satu sama lain. Tidak seperti yang gue alami kemarin.”

“…”

“Mukalo biasa aja kali, nyet! Gak usah bikin gue merasa sebagai perempuan penuh dosa gituh deh !!!”

“Sorry…gue cuma gak habis pikir. Pacarannya kan 2 tahun…sedenglah, gak sebentar-sebentar amat. How come nikahnya gak sampe dua tahun ya? Lagian…gak nyesek sama biaya pesta kawinan ya? Gue aja kadang masih sakit hati kalo inget biasa kawinan…mbok ya di pertahankan, gituh…”

“Sinting lo! Lo kira gue bisa bertahan cuma gara-gara biaya nikah? Terus gimana hati gue? Gimana perasaan gue? Hellooowww???”

“Kenapa lo gak bilang gimana hati dia? Gimana perasaan dia? Hello? ..Mm..?”

“Lo ngomong apaan siy, Yess. Lo bukannya temen gue ya? Harusnya belain gue! bukannya menyudutkan gue.”

That’s It…

Maka sejurus kemudian segala kata yang hendak gue lontarkan tertahan dengan sendirinya. Lidah yang sesunggunnya ingin menari dan berucap banyak kata, tertahan, kelu.

Mungkin…Gue bukan siapa-siapa untuk menilai orang lain dan pernikahannya. gue juga bukan siapa-siapa untuk mencoba mengamati seseorang dengan pasangannya.

Gue dan pasangan gue sendiri sering mengalami ketidak cocokkan. Sering mengalami ribut. Kadang besar, kadang kecil. Kadang cuma bumbu, tapi sering juga mengganggu.

Sekali lagi, siapa gueeee, sok-sok menelaah apa yang sedang teman gue alami saat ini.

Gue hanya berpikir. Bagaimana bisa. Pasangan yang sudah amat sangat cocok begini saja mengalami perceraian?

Mari kita lihat teman gue ini, ya…

Mereka memiliki hobi yang sama. Memiliki ruangan lingkungan tempat mencari nafkah di tampat yang tidak beda. bukannya seharusnya kendala yang akan timbul menjadi jauh di mengerti?

Setidaknya tidak akan ada kejadian muka pasangan yang cembetut hanya karena dia tidak mengenal suasana dan lingkungan tempat dia berdiri. atau mungkin tidak ada kejadian tidak percaya kepada pasangan hanya karena orang yang ada di sekeliling pasangannya adalah lawan jenisnya.

Tidak ada aturan pakaian. Bebas mau pake rok mini kayak apa. Terserah mau pake baju seksi kayak gimana. Tidak ada aturan harus di rumah jam berapa. Tidak ada aturan pamit sana-sini hanya untuk ngopi-ngopi sebentar selepas pulang kantor.

Owh…Kurang apa ya?

Hal-hal yang gue sebutkan di atas itu sudah merupakan keistimewaan buat gue. Edan…do they even communicate each other???

Bukan.

Sekali bukan maksud gue untuk menilai, maaf banget kalo jadi ada yang merasa begituh….

Teman gue terus berkicau. Terus bercerita. Sampai kepada hal-hal yang gue bahkan gak ingin taupun, dia ceritakan.

Anehnya…

Gue tidak bisa memberikan simpati sedikitpun kepada teman gue ini.

Gue bahkan gak yakin, apa temen gue ini mengerti akan definisi pernikahan. Haduh…Temen gue-temen gue…

Lantas dia mulai menghisap rokoknya dalam-dalam. Dia menawarkan rokoknya sebatang, yang gue sambut dengan kata-kata…

“Lo tau kan, rokok gue itu gak ada asapnya, dan biasanya gue nikmati malam hari…”

Yang di sambut dengan ledak tawa sang teman gue itu. Aneh, padahal gue kan gak lagi bercanda.

Hening.

Gue membiarkan dia melamun dan mengawang. Rokok yang ia bakar tadi tidak di hisapnya.

Kemudian dia berkata lagi.

“Eh, dari tadi tentang gue aja, Yess. Lo gimana? Tatang sehat? Tangguh udah bisa apa? Cerita-cerita dong?”

Kali ini dia mengubah intonasi suaranya menjadi seolah-olah riang dan ceria.

“Kabar gue baik, lo kan bisa liat sendiri . Tatang alhamdulilah sehat. Tangguh udah bisa semua, gue siy takut dia minta mama baru sama bapaknya…”

“Haha…Dasar lo…Are you happy, Yess?”

Gue mengangguk.

Really happy?”

Yes, sure…do i have another reason to not be happy? Mm?”

“Ya enggak siy, cuma gue suka curiga aja kalo sama pasangan muda. Masalah yang lo hadapi juga kan gak jauh beda lah sama masalah gue. Hehe…Saran gue siy, Yess…jangan di tahan, nanti lo stress juga, Kalo lo merasa ada sesuatu yang gak bener…ungkapkan…nanti jadi bom waktu yang meledakkan semuanya. Gak ada yang tersisa. Lo gak mau end-up kayak gue, kan?”

Gue tersenyum. Separuh tulus, separuh tidak. Hanya saja masih diam, dan rasanya belum saatnya untuk gue mengoceh kata-kata yang sedari tadi gue tahan.

“Gue inget ketika D**** pertama kali menyuruh gue suatu hal yang gue gak suka. Awalnya gue turutin, toh sesekali. Tapi lama kelamaan dia banyak ngelarang-ngelarang gue. Gue kan manusia, Yess…Bukan binatang, ada cara yang pantas dan masuk akal untuk melarang-larang gue!”

“Apa siy yang dia larang?”

“Ya begini ini…dia larang gue kalo keseringan pulang ke rumah malam-malam. Padahal lo kan tau. dia juga sering banget lembur! Nunggu di rumah sendirian tuh BT banget kali! seenaknya aja kalo nyuruh orang! gue juga kan butuh pertemanan dan dunia luar.”

“Owh…”

Dan …ya…

Gue tiba-tiba tidak ingin melanjutkan percakapan ini.

Dengan amat sangat terpaksa, gue layangkan sebuah kebohongan dalam rangka menyingkirnya gue dalam waktu cepat dari hadapan dia, padahal dia masih berapi-api dan nyerocos bercerita.

Tapi gue tetap pamit.

Sepanjang perjalanan pulang, adegan demi adegan seperti berulang. Saat pertama kali bertemu dengan pasangan gue. Saat kunjungan pertama kali ke rumahnya. Saat bertengkar pertama kali. Sampai akhirnya saat kami melangsungkan akad nikah.

Banyak hal yang berubah setelah pernikahan. Benarkah? Ya, setidaknya itu yang gue alami.

Dari mulai berubahnya cara berpakaian. Karena ada beberapa batasan yang di berikan suami. Keterbatasan waktu diluar rumah. Kalau yang ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pasangan. Karena semenjak punya anak. Gue toh memang jadi gak bisa seenak udelnya menentukan kapan pulang ke rumah. Ada malaikat kecil nan ganteng bernama Tangguh Radian Muchtar yang akan menunggu di rumah.

Ribut? Ah…biasa…

Salah paham? Sesekali, pastilah…

Tapi keinginan untuk menjauh satu sama lain? Ah…Tidak pernah terpikirkan.

Jika Tuhan memang sudah mempertemukan gue dengan suami gue. jika Tuhan telah membuat kami berdua menikah. Maka gue percaya, yang harus kami lakukan hanyalah bertahan. Segemuruh apapun petir yang menyambar. Sedahsyat apapun ombak yang menghantam. Karena semuanya hanya akan kembali ke tangan kita.

Mau atau tidak.

Iya atau tidak.

Bukan tentang  seberapa besar pengorbanan dan pengertianmu. Tapi tentang seberapa suka dan ikhlas kau melakukannya.

Segalanya memang tidak pernah pasti. Tapi taukah kalian, apa yang paling gue suka dalam ketidak pastian?

Dia membuat segala sesuatunya, menjadi mungkin.

Mungkin saja akan ada ujian dan cobaan yang akan mendewasakan setiap hubungan suami istri.

Mungkin saja, akan ada salah satu pihak yang tidak mengerti.

Dan yang pasti…

Mungkin saja, pembuktian akan bertahannya suatu hubungan, ada dalam kemauan dan niat kita masing-masing.

Ah, tulisan ini gak usah berat-berat banget lah…Cukup di pahami, bahwa segala sesuatunya….tidak harus melulu di korbankan. Melainkan, di perjuangkan!

Kantor.June 23. 2010

Saat Yessy Sedang waras.

14 pemikiran pada “Menjadi Mungkin.

  1. sempulur mengatakan:

    nah itu dia..DIPERJUANGKAN, betul..betul..betul.
    menjadi sebuah pelajaran

  2. Kimi mengatakan:

    nah itu yang terkadang membuat saya bertanya-tanya: menikah untuk kemudian bercerai. lantas menikah itu untuk apa?

    • yessymuchtar mengatakan:

      Kimi,
      Menurut saya menikah adalah ibadah. Ibadah adalah melaksanakan perintah Tuhan. Tapi sekingkali menikah juga pilihan. Selama kita bertanggung jawab atas pilihan kita masing-masing, saya rasa masing-masing dari kita bisa mengambil ilmunya.

      Jadi menikah untuk apa?
      Owh, masing-masing orang punya jawaban yang berbeda,

      Kalo kamu tanya sama saya, jawaban saya adalah…Menikah membuat saya dan pasangan saya melakukan sex dengan cara yang halal ;)

      thank you for the comment ya dear :)

  3. frozzy mengatakan:

    tulisan lo membuat ketakutan gue sama yang namanya pernikahan sedikit berkurang….
    thank you, tante megaloman….*bighugfortante*

  4. ikkyu_san mengatakan:

    hahaha menikah = sex yang halal? gokil ah

    aku pake perumpaan dansa Tanggo aja. Butuh dua orang untuk berdansa, yang selaras yang indah… dan itu ada aturannya. Kalau tidak ikut aturannya, ya tabrakan atau tidak indah lagi. Kalau maunya nari balet, ya bisa sendirian, sesekali aja nempok sama pasangan nari, tapi ngga usah duaan terus.
    Sekarang maunya apa? mau nari tanggo, atau balet atau… sama sekali tidak menari :D

    menikah = pengorbanan? Benar, tapi namanya bukan pengorbanan jika dilakukan dengan cinta :) (Sedangkan dalam sex aja perempuan banyak harus berkorban kok. Melahirkan? apalagi hihihi)

    Well… aku bangga punya teman seperti kamu yess. Dan jika suatu saat kamu capek dan ada ribut-ribut dengan Tatang. Baca tulisan ini lagi ya, sebagai pengingat. Kamu SENDIRI yang tulis ( I’m proud of you), dan bisa menjadi renungan untuk pasangan lain.

    EM

    • yessymuchtar mengatakan:

      Banget mbak, tulisan-tulisan serupa kerap kali Yessy baca kok, gunanya memang untuk tidak lain dan tidak bukan mengingatkan diri Yessy sendiri, bukan orang lain :)

      Thankyou ya mbak :) *hugs*

      BTW, gak ada pilihan nari striptease ya, mbak? *dipancung*

  5. g mengatakan:

    Bicara soal perceraian itu memang ga pernah gampang. Tidak setuju, wajar, tp harus dan perlu dipahami bahwa suka tak suka hal2 yg tidak diinginkan semacam ini pasti terjadi, cinta tiba2 mati dan tidak bisa atau tidak mau diperjuangkan dan dipertahankan akan terus terjadi, buktinya banyak yg bercerai, kalopun ga bercerai pada jaman dulu itu karena kondisi masyarakatnya yg tidak sepermisif skrg soal perceraian.

    Bersyukurlah bila tidak mau dan tidak akan pernah mengalami hal semacam ini, sebab ini adalah sebuah penyakit sosial yang berjangkit dan bisa menyerang siapa saja, bahkan yg kondisi hubungannya nampaknya kuat dan kokoh, ternyata bisa hancur juga.

    Apakah mereka yg menghadapi sebuah perceraian mmg berniat dan berharap demikian? Pastinya tidak. Mengapa hal itu terjadi? Banyak kilah dan alasan. Bisakah dicegah, mungkin bisa, mungkin juga tidak.

    Yang seringkali sulit utk diterima adalah ketika kita merasa seharusnya dia bisa, atau seharusnya gw bisa melakukan sesuatu untuk mencegah sebuah perpisahan/perceraian… tetapi kenyataan berbicara lain. How do i know… been there, pernah ngotot2 juga, sampai akhirnya menyadari bahwa mereka yg sedang menjalaninya justru sedang melalui tahapan yg terberat dalam kehidupannya. So… mengapa saya justru menimbang apa yg saya rasakan ttg kondisi mereka, bukannya mencoba menimbang apa yg mereka rasakan. And believe me.. mendengarkan curhatan frustrasi orang lain dan merasa “buset, cuma gitu doang bisa jadi masalah?” itu membuat ingin sekali tutup kuping atau justru teriak2 di mukanya. Which doesn’t help at all, wakakakaaa….

    • yessymuchtar mengatakan:

      Duh Mbak G, komentar mu selalu pas, dalam, dan mengena!

      Sku setuju banget sama semua yang dirimu katakan. Aku juga gak pernah mau menilai seseorang dan bagaimanan mereka dalam pernikahan mereka. Karena aku juga sama sekali tidak mau di nilai ! Gak mau!!!

      Cuma ketakutan akan perceraian, ijujur aku mengalaminya.

      Sampai di mana aku dan pasanganku sanggup bertahan. Sampai di mana ujian yang akan kami hadapi. apakah kami mampu, apakah kami bisa?

      See? Segala sesuatunya menjadi tidak pasti. Tapi segala sesuatunya tentu saja menjadi Mungkin! Hehehe, itu kata favoritku hari ini.

      Aku tidak pernah menilai orang yang bercerai adalah orang yang gak mau ribet. Enggak mbak, sama sekali tidak bermaksud begitu. Siapa aku bisa bilang begitu? Aku bahkan gak mengerti dan terjun di dalamnya. Sama seperti berenang. Jago teorinya, apakah jago prakteknya? Yakin kalo nyemplung gak tenggelam?

      Tapi jujur, melihat kasus temanku ini. Aku prihatin. Aku prihatin akan kemasa bodohan. Aku prihatin akan rasa tidak takut kehilangan pasangan. Aku juga prihatin akan kemandirian yang berlebihan. Aku cuma ingin orang memiliki sedikit rasa takut. Dengan demikian, ia menjadi sedikit lebih bersyukur.

      Doh!!! Si Yessy ini ngomong apa lagih siy!?!? hihihi

      Thankyou for the comment ya mbak :)

  6. partnerinvain mengatakan:

    aku setuju banget 100%, perkawinan itu ada up and downnya dan ngga selamanya bulan madu doang, tapi yang namanya perkawinan itu perlu proses, tanggung jawab, dan hati yang luaaaaaas untung saling memaafkan dan menerima dan memberi. tanya aja ama orang tua yg udah puluhan tahun bersama, semuanya perlu di USAHAIN…jangan hanya masalah sepele langsung bilang cerai.

    • yessy muchtar mengatakan:

      Dear, mungkin yang benar adalah. Perceraian itu tidak mudah dan tidak gampang. Melakukannya sulit. Jadi, mungkin saja, kita juga gak bisa seenaknya menilai, siapa yang salah dan siapa yang benar. Toh kita kan gak ada dalam situasi orang-orang yang cerai itu, ya :)

  7. yustha tt mengatakan:

    saya sangay suka tulisan ini mb yess….
    menjadi pelajaran bagi sy untuk ke depan..
    terimakasih sangat…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s