Sometimes, things don’t turn out how your imagined them. Because some times they are BETTER.
So they say.
Seseorang dari masa lalu saya muncul beberapa waktu lalu. Sebegitunya kehadiran dia membuat saya tidak nyaman. Saya lama menonaktifkan BB saya. Gak tau kenapa. Saya rasanya gak siap aja dengan ping-ping yang muncul dari teman saya yang sepertinya akan menanyakan kabar terbaru orang itu.
Dia, seseorang dari masa lalu saya ini memang banyak kenal dengan teman-teman sepergaulan saya jaman kuliah dulu. Dan kebanyakan teman yang ada di list bbm saya, memang teman kuliah, bukan teman yang lain.
Memangnya siapa dia?
Kenapa saya mesti sibuk menonaktifkan BBM saya segala???
Jawabannya simple.
Saya gak mau pikiran dan otak saya melayang ke masa-masa lalu. Saya tidak mau menimbulkan kesempatan untuk saya, atau mungkin untuk dia. Intinya saya tidak ingin ada apa-apa. Belum lagi, saya ingin menghormati pasangan hidup saya yang sekarang. I have my own live now, and this person i am talking about, is not in it.
Bersama dia, dulu…saya pernah punya cerita.
Bersama dia, dulu…saya pernah punya cita-cita.
Bersama dia, dulu…saya pernah berjanji.
Tapi itu semua dulu. Saya yang sekarang, tidak harus melakukan apa-apa karena dia tiba-tiba iseng melakukan kunjungan ke negeri ini.
Sekarang orang ini sudah kembali ke asalnya. Kembali ke tempatnya bekerja, jauh di seberang lautan sana. Ada perasaan lega saat dia sudah pergi. Dalam hati saya bersorak. “Njrittt! Hebat bener gueeee, dia dateng gue gak ketemuan! Yippiiiie!! KEMAJUAN!!!”
Saya ingin merayakan kesuksesan saya. Rasanya seperti saya benar-benar sudah melupakan dia. Melupakan segala rasa sakit hati yang pernah membara dalam dada, mendendam dan ingin menuntut balas. Tapi ahh…sudah tidak perlu lagi sekarang…
Beberapa hari ini saya mulai aktifkan lagi bbm saya. Hasilnya?
Beberapa teman bersaut-sautan menanyakan kabar.
Intinya semua sama.
Tentang dia.
Tidak ada satupun yang saya jawab. Tidak ada satupun yang saya gubris. Saya pasang status BBM saya hari ini.
You are so History,
![]()
Yak, dengan tanda senyum. Tanpa tampang suram bin sedih yang saya ingat betul pernah saya pampang berbulan-bulan, hanya karena dia memilih orang yang lain, bukan saya. Dulu.
Saya tidak pernah menikmati patah hati. Menurut saya tidak ada pembelajaran yang positif dari hal itu, selain saya tetap menyakiti hati sendiri. Membodohi diri sendiri. Dan saya menolak hal itu terjadi lagi.
Berlarut-larut memang, rasanya, ketika sosok yang kita impikan dan dambakan ternyata bukan yang di jodohkan. Tapi siap-siap saja dengan semua kejutan. Mungkin saja semuanya tidak sesuai rencanamu, tidak sesuai permintaan kita. Ketidak sesuaian itu memungkinkan segalanya. Seperti kisah saya. Saya tidak dapatkan yang saya minta, tapi Tuhan memberikan yang lain, yang lebih baik.
Apa ada yang lebih tau dari Tuhan?
Ps:
Berdasarkan curhat seorang teman.
***************
Mencintai, menyayangi, memberi, mengasihi, mengerti.
Saya pelajari semuanya dalam hubungan saya dan suami saya. Selama 4 tahun kami bersama. Ada banyak hal yang saya sukai dari pasangan saya, tapi banyak hal juga yang saya mati-matian untuk coba mengerti darinya. Tentu saja cuma itu yang bisa saya lakukan, apa lagi? Selain mencoba mengerti?
Saya pernah menertawakan selera pakaiannya, yang kemudian saya sesali karena membuatnya tersinggung. Sebaliknya dia pernah olok-olok saya dengan gaya dandanan saya, yang kemudian dia tak pernah ulangi, karena saya memang begini, ini adalah paket yang sudah harus dia terima. Harusnya dia tidak usah nikahi saya kalau dia memang tidak suka wajah make-up dengan mata ber eyeliner plus rambut bergelombang ini, ya kan?!?
Lantas sifatnya, kelakuannya, segala gaya bicaranya. Yang kemudian hari saya mengerti adalah karakternya. Saya coba tonjolkan kelebihannya, saya coba lengkapi kekurangannya. Kadang berhasil, seringkali gagal.
Begitupun sebaliknya.
Banyak hal yang pasangan saya tidak mengerti dari saya, kenapa saya suka berpikir aneh dan terburu-buru. Kenapa saya suka sok detail akan hal yang sebenarnya sepele? Sayakan perempuan, kelak dia sadari betul itu.
Hubungan kami penuh emosi. Banyak tawa, banyak canda, ada airmata. Pasti. Tapi kami berjanji untuk menggandengkan tangan ini bersama. Entah kemana arah perahu kami ini berjalan.
Saat salah satu dari kami meragu, adalah tugas yang lainnya untuk meyakinkan.
Ketika salah satu dari kami terhambat dan terlambat, adalah tugas yang lainnya untuk menunggu dan menjaga.
Masing-masing kami memiliki rasa ketidak puasan terhadap masing-masing dari kami. Tapi saya mensyukuri itu, apa yang bisa kami dapatkan setelah kata puas? Kami akan bosan, dan kami ingin kata itu tidak akan pernah mendekat.
Ada masa salah satu dari kami terluka, penyebabnya tentu saja berasal dari yang lainnya. Tapi kami berusaha mengerti. Kami sedang belajar, dan kepada Tuhan kami serahkan untuk mendidik kami di bumi ini. Bukan kepada penilaian orang-orang dan sekeliling kami yang mulai pintar berbisik-bisik tentang bagaimana yang seharusnya atau tidak.
Bersama kami yakinkan, kami ada di jalan yang benar.
Jalan kami adalah cinta, dan kami sedang berusaha bersama.
Sampai nanti, sampai mati.
Dear lovely,
karena marahku adalah sayangku yang berlebih. Mungkin bisa terkikis, Tapi tidak pernah habis. Love you, my melody.
maju terus…. jangan toleh ke belakang
dulu aku berprinsip begitu sehingga tidak pernah buat catatan harian.
tapi sekarang kenyataannya aku menyimpan banyak kenangan dalam bentuk tulisan
tapi…. aku bisa menghadapi dengan dewasa dan menganggap itu hanya episode hidup.
apa saja caranya, menulis atau tidak, mematikan BBM atau tidak, asal tidak menyakiti dan menyesali diri. Kalau bukan kita yang menyayangi diri kita sendiri, siapa lagi?
EM
EM
Jadi sadar,thank’s
kalo udah menikah itu emang kudu pake kaca mata kuda dan terus melangkah ke depan. Ternyata Jeung Yessy bijaksana juga…sebuah pemikiran yg menyentuh.
Setuju banget, Mbak. Masa lalu ya masa lalu. Jangan digubris2 lagi. Close those pages and open new ones. Salut sama Mbak yang tekadnya kuat! Hehehe…
hai salam kenal yaaa…
seneng bisa nemu blog nya yessy….n suka bgt sama tulisan yessy yg ini…
seumur2 jadi penggemar gelap blog ini, tapi hari ini saya gak bisa nahan diri lagi untuk gak komen. Seribu juta jempol untuk postingan ini Yes!!! Semoga bisa membuka mata dan hati siapapun yang membacanya
masalah lalu memang bukan buat dilupain ya…tapi kita jangan sampe terobsesi *ini memperingatkan diri sendiri
*
thanks for this post dear…gw juga mengalami hal yang sama walaupun ceritanya berbeda…
muach
katanya kalau tentang kebaikan kita tulis di atas batu,kalau tentang kesalahannya kita tulis diatas pasir.
kebaikan biar kita ingat2 selalu,kesalahan biar cepat kita lupakan.
katanya ini resep buat hubungan yg harmonis dan awet selalu… semoga kalian awet selalu ya sampai akhir nanti
Biarpun ini History …
Tetapi ini nggak perlu dihafal-hafal terus ya Yess …??
Salam saya
mba tulisan mba yang ini sama persis dengan keadaan saya sekarang…
Abis baca tulisan ini jadi sadar sekarang itu cuman masa lalu…masa lalu yang indah si…heheh
Yessy… masa lalu itu hanya bayang-bayang yang tak perlu dirisaukan. Kenyataan yang ada di depan mata, itulah yang harus dijaga dan dipelihara.
Keluarga adalah segalanya, pupuk dan pelihara ia sebaik-baiknya, karena ia adalah harta yang paling berharga yang kita miliki di dunia ini. Jangan biarkan masa lalu, merusaknya, sama sekali…
Aku suka sekali dengan catatanmu pada alinea-alinea terakhir, benar-benar dari hati…
Yessy…tahu nggak baca tulisanmu ini, rasanya adem gitu…
Yup, patah hati itu masa lalu, dan sebaiknya berikan waktu hanya untuk 2 minggu menangis..setelah itu jalan terus dan jangan tengok kebelakang.
Kadang ada teman atau sahabat yang pernah dekat dihati, berupaya terus untuk menghubungi…lupakan (hahaha…lha aku yang sudah setua ini aja ada kok yang nelpon melulu, dan tak saya jawab)…..masa sekarang adalah pilihan terbaik dari Nya. Kita berjuang untuk bahagia bersama keluarga kecil kita.
Saya suka pada alinea bawah (seperti komentar Uda)..sungguh indah…aku tahu Yessy, keluarga bahagia adalah tujuan kita semua.