Ada dua orang perempuan yang masih betah di bar itu.
Bukan malam yang asyik untuk minum-minum sebetulnya. Bukan malam Minggu, belum juga tengah Minggu. Juga telat di bilang awal Minggu.
Malam itu malam Rabu, hari Selasa.
Dua orang perempuan yang berstyle rapi, trendy, bermake-up sempurna, tapi raut wajahnya kentara dengan gelisah. Dua perempuan itu sendiri, bukan pemandangan cukup indah untuk di nikmati di malam itu.
Adalah perempuan yang satu, yang sepertinya ingin memulai pembicaraan. Tapi dia urungkan kembali niatnya.
Di hisapnya Flava, dalam-dalam. Di hembuskannya dengan gaya yang kata sebagian orang elegant. Entahlah, merokok itu sendiri bukahlah hal yang baik, tidak juga akan membuat seseorang terlihat menarik.
Sementara perempuan yang lain terlihat sibuk dengan gadget yang ada di tangannya. Terkadang senyum sendiri, terkadang tanpa ekspresi. Rambut keluaran salonnya sudah tidak lagi indah, awut-awutan berantakan. Di liriknya rekan sebelahnya, yang memaksanya untuk menghabiskan waktu di sini. Hampir muntah rasanya bersama perempuan ini. Perempuan yang telah mengambil tunangannya. Perempuan yang telah menikungnya di tengah jalan menuju pernikahan, menuju mahligai rumah tangga. Perempuan ini bukan sahabatnya, tapi jelas-jelas ia mengenal perempuan ini.
“Jadi mau apa kita di sini?”
Katanya tanpa sabar.
perempuan yang satunya belum juga menjawab pertanyaannya itu. Dia tetap menghisap rokoknya, tetap belum menatap wajah perempuan di sebelahnya itu.
“Hey, Jawab dong! gue gak happy kali lama-lama ada di sini bareng lo!”
Perempuan yang satunya menatap dengan lirikan mata sipit, kerucut bibir yang sinis, dan kembali membuang pandangannya.
Bersamaan dengan isapan terakhir, dia buang puntung rokok yang berbercak lipstik tanda bibirnya itu.
“Santay, say…lo kira gue pengen banget duduk di sini bareng sama lo?”
Katanya dingin. Tanpa ekspresi. Tenang.
Sementara perempuan yang satunya sudah mulai terbakar emosi, terdengar nafasnya yang memburu, namun ia tetap jaga lengkingan suaranya.
“Lo tau, gue punya hak buat benci sama lo…”
“Hehe…Cuma itu? Cuma benci kan? Belum sampe pengen bunuh gue???”
“Gue punya moral, ngerti? Gak bejat kayak lo! Yang berani dekatin laki orang gak pake perasaan!”
“Laki orang? dia belum menikah tuh…”
“Jelas aja dia belum nikah! Tapi gue sama dia udah sebar undangan! Dasar perempuan sialan lo! Gak tau diri!
Perempuan ini sudah mulai berdesis. Sementara yang satunya belum terpancing emosi. Sungguh, orang bisa melihat ada drama yang sedang di mainkan oleh keduanya, keduanya memainkan pemeran utama, hanya saja yang satu terlihat tenang dan menguasai panggung, yang lainnya terlihat gugup dan grogi.
Perempuan yang baru saja membuang puntung rokoknya itu mulai menyalakan rokoknya yang berikut.
‘lo pikir gue kenalan sama cowok orang yang udah nyebar undangan nikah itu sesuatu yang udah gue rencanain? Mm? Lo kira ngebatalin pernikahan seseorang itu gak bikin bingung gue? Laki-laki itu gak cuma dia, boss…pake otak dong kalo ngomong…”
Katanya tenang, sambil terus menghisap rokoknya yang baru saja tersulut.
“Ya kalo gituh kenapa gak lo aja yang sadar diri! Pada akhirnya kan lo tau kalo dia udah punya tunangan! Udah punya calon mertua! Udah punya gedung dan catering yang udah bayar DP puluhan juta! dan semua itu buyar sia-sia cuma karena dia lebih memilih elo dari pada gue! Dan itu juga karena elo godain dia!!! Iya kan? Gue yakin kalo dia juga cuma main-main aja berhubungan sama lo! Tapi lo nya aja yang terus godain dia! Perempuan kegatelan! Kayak cacing kepanasan!!!
Berapi-api perempuan ini berkata. Kali ini ia tidak begitu perduli dengan desisannya yang semakin meninggi. Tidak perduli dengan mata bartender yang sering kali melirik kearahnya dan mencari tahu, apakah keadaan aman-aman saja. Perempuan ini, terbakar emosi.
Tak lama kemudian, jawaban datang dari perempuan yang lain.
“Denger ya say, lo boleh ngomong apa saja yang lo pengen ngomong. Lo boleh bilang apa saja yang lo pengen bilang. Satu hal yang mungkin gak pernah kepikiran sama elo. Cinta hati laki-laki itu tidak bisa di curi. Kalau dia memang tidak menjadi milik lo, maka sebenarnya dia belum pernah menjadi milik lo seutuhnya. Sadar gak sih lo? Apa lagi? Lo bilang gue godain, dia? Fine…tapi dia juga gak menolak gue godain. Lo bilang gue kegatelan? Cacing kepanasan??? Well, guess what dear…Perempuan kegatelan dan cacing kepanasan inilah yang akan di nikahi mantan pacar lo, dua minggu lagi.”
Dengan anggun perempuan itu mengeluarkan sebuah undangan berwarna emas dengan foto prewed cantik menghiasi sampul depannya. Terlihat anggun, gambar itu seperti mengatakan kebahagiaan, keceriaan, kemenangan.
Di sodorkannya undangan dengan desain mewah dan lux itu kepada perempuan yang satunya.
Sebelum benar-benar pergi, dia berkata.
“Wake up, darling. Dunia ini tidak selalu seperti cerita film-film hollywood. Tidak selalu tentang sang putri dan sang pangeran. Tapi tentang kenyataan. Itu saja”
Serta merta perempuan yang lain terpana di buatnya. Sejurus sesaat setelah perempuan yang baru saja pergi itu keluar dari pintu utama. Dia menutup matanya. Terasa ada air mata panas yang mulai mengalir. Dalam remang sudut cafe dan sendiri di sudut bar. Dia menangis.
“Wake up, darling. Dunia ini tidak selalu seperti cerita film-film hollywood. Tidak selalu tentang sang putri dan sang pangeran. Tapi tentang kenyataan. Itu saja”
jedeeerrr …
emang begitulah hidup. terkadang orang mimpi terus sih. Eh tapi kalo bukan cerita hollywood tapi disney gimana? Cinderella gitu hahahaha. (cinderela aja udah buat sampai yang ke 3 atau 4 tuh
EM
Jadi keinget episode infotemen riil limis dan kerisdinti
Cerita hollywood dan disney masih tetap merajai 21, makanya meski jaman udah canggih tetap banyak pemimpi.
perempuan gatel bisa digaruk,cacing kepanasan bisa didinginkan. hidup ini cuma mimpi,gak usah terlalu mendalam,hidup sebenarnya justru saat kita mati nanti,betul gak yes??
dan herannya beberapa orang itu hidup di dunia mimpi
kisah nyata mbak ?
the winner is….cowoknya itu. Let Me Guess cowoknya itu kalo ngga juragan minyak? Atau Boss property…kalo yg tongpes sih si cacing adem aja…he…he..
Hmm dunia nyata kadang lebih sadis dibanding dunia film.
Ini cerita nyata:
Sahabat suami saya pacaran 10 tahun, ceweknya kuliah di ITB, cowoknya kuliah di ITS..mereka akan ketemu tiap libur panjang semesteran…semua terlihat berjalan lancar dan indah. Pas undangan udah disebar, tamu sudah datang, pengantin laki-laki tak muncul…dicari-cari..tahunya dia sedang ada di kamar pacarnya…..bayangkan, betapa sakitnya cewek yang kuliah di ITB itu.
Lima belas tahun berlalu, suatu ketika saya dikenalkan sahabat suami yang masih sendiri itu (dia jadi tak percaya laki-laki), dia masih cantik, dan udah jadi nomor satu di perusahaan besar. Tapi dia udah tersakiti….
Jadi, pelajarannya…kadang takdir menentukan lain, pesan ibu alm..jangan terlalu cinta pada seseorang, dan harus percaya pada takdirmu, karena dunia ini luas…..so, jangan pernah patah hati, menangislah dua minggu, lalu jalani hidup selanjutnya
ah cinta….masih ada trauma sama yang namanya cinta…heuheu…susah kalo bahas hati deh…. *masang konde
Lelakinya jado amat ya mainin dua perempuan sekaligus..
[...] Dan postinganku kali ini tidak ada hubungannya dengan postingan sahabat saya Yessy yang berjudul: Cacing Kepanasan. Kenapa juga si cacing saja yang diperhatikan kalau kepanasan ya? Karena dia bergerak [...]
Ini kisah nyata kah Yess?
Hm…enak bener ya…yang jadi rebutan..
Somehow, sepertinya tulisan ini terinspirasi dari kisah Raul dan KD ya.. Atau aku aja yang GR? *loh?
ngesellin banget endingnya…huhuhu..kacian si embak ituu…disudut cafe pula…semoga dia dapet yang lebih baik ya mba yess ya, buatin cerita happy endingnya dong mba buat si embak-embak tadi..hihi