Saya hidup dengan keragaman budaya yang mengalir dalam darah saya. Mama saya yang asli boru batak. Papa saya yang melayu, minang. Kemudian saya menikah dengan lelaki berdarah jawa, betawi. Kalian bisa bayangkan ada berapa macam darah yang mengalir di tubuh anak saya, Tangguh?
Dari keragaman budaya tersebut. Saya terbiasa dengan perbedaan-perbedaan. Entah itu tradisi, dan juga agama. Opung saya adalah penganut advent, dan seluruh keluarga mama tidak ada yang muslim. Hal tersebut membuat saya terbiasa mendapatkan parsel natal. Coklat-coklat, serta permen-permen manis yang kerap kali di hantarkan kerumah setiap kali menjelang natal. Hal serupa terjadi di hari raya idul fitri. Mama akan tergopoh-gopoh menghantarkan ketupat opor ayam dan rendang. Saling mengucapkan selamat di hari raya masing-masing. Menurut saya adalah hal yang biasa. Di saat kami merasa di hargai dan di hormati akan agama yang kami anut. Di saat yang bersamaan juga kami melakukan hal yang serupa.
Hal yang kurang lebih sama juga terjadi di keluarga suami saya. Nenek moyang dari suami saya ternyata ada keturunan China. Agama yang mereka anutpun berbeda. Tapi tradisi yang persis sama juga mereka lakukan. Lebaran Cina adalah saat di mana semua keluarga suami saya akan menikmati kue keranjang, mendapatkan angpao, serta rejeki-rejeki yang lain. Lebaran idul fitri, mereka akan datang berkunjung lengkap dengan baju muslim terbaik yang mereka miliki. Sekedar untuk mengucapkan selamat, bersalaman, sambil menikmati hidangan lebaran yang telah di sediakan.
Sampai di sini, adakah kalian bisa menangkap maksud dari tulisan ini?
Perbedaan, adalah ciri khas dari keragaman budaya kita.
Di dalamnya ada rupa-rupa tradisi, rupa-rupa adat dan agama.
Saya rasa keragaman itu sudah terjadi lama sekali sebelum jumlah manusia menjadi sebanyak ini. Menjadi seramai ini, dan entah kenapa belakangan menjadi semakin kacau seperti ini.
Banyak hal yang saya tidak kuasai. Terlebih-lebih lagi bicara tentang agama, haduh…ampun, angkat tangan saja saya. Tapi setidaknya saya mengerti batasan akan saling menghargai dan menghormati. Setidaknya saya tau persis bagaimana tata cara kami melaksanakan ibadah kami masing-masing. Sama seperti saya yang punya kewajiban kepada Tuhan saya, sama halnya juga dengan penganut agama lain. Umat muslim punya rumah ibadah, hey…umat yang lain juga, kan?
Ketika kita menganggap suci rumah ibadah kita. Bukankah umat lain juga sama?
Ketika saya mendapatkan ajaran yang baik dari guru pengajian saya, di saat yang bersamaan Opung saya juga kerap mengajarkan alkitab dan memberitahukan hal-hal yang baik juga kepada saya.
Oppung memang sempat marah ketika mama memilih keluar dari agamanya dan memeluk agama islam seperti sekarang. Saya tau itu, persis. Tapi saya juga tahu, bahwa opung menjadikan adik saya cucu kesayangannya, sampai kelak jika oppung meninggal beliau meminta agar nama yang di tulis di nisannya adalah Oppung dari Achmad Reza Mardian.
Tidakkah itu menjawab, bahwa opung saya menghargai perbedaan?
Bahwa oppung saya menghormati keputusan anaknya selama anaknya bertanggung jawab dengan pilihannya itu?
kalau oppung saya, yang sejatinya adalah manusia dulu, pemeluk Advent ortodoks, yang katanya pemikirannya sering kali masih sering gak masuk akal dari pada masuk akalnya…
Bisa menghargai dan menghormati perbedaan itu.
Kenapa ormas-ormas itu tidak, ya?
Apa ada pembelajaran kekerasan dalam Al-quran?
Apa ada pelajaran menyerang ?
Setau saya kesamaan dari masing-masing agama yang ada di muka bumi ini adalah pembelajaran tentang kedamaian dan cinta kasih.
Apa saya salah, ya?
Sebelum saya benar-benar tutup tulisan ini, saya ingin ajak kalian untuk berkunjung ke postingan teman saya, mas Deka. Postingannya tentang perbedaan disini, dilihatnya dari surut pandang yang berbeda, yang dahsyatnya amat sangat menyentuh. Setidaknya, menurut saya.
Oh ya, saya sedang naksir berat sama lagunya Bondan featuring fade2 black…liriknya keren banget. Semoga saja, kita semua bisa seperti lirik itu…Selamat berpuasa ya teman-teman, semoga ramadhan kali ini kita bisa berbasuh diri, menjadi manusia yang lebih baik lagi. Amien.
Bondan Prakosa & Fade 2 Black Ya Sudahlah Lyrics
Bondan Prakosa:
Ketika mimpimu yg begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu,
dan tak pernah sampai..ya sudahlah (hhmm)*reff:
Apapun yg terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything’s gonna be OKAYSantoz:
yo..Satu dari sekian kemungkinan
kau jatuh tanpa ada harapan
saat itu raga kupersembahkan
bersama jiwa, cita,cinta dan harapanLezz:
Kita sambung satu persatu sebab akibat
tapi tenanglah mata hati kita kan lihat
menuntun ke arah mata angin bahagia
kau dan aku tahu,jalan selalu adatitz:
juga ku tahu lagi problema kan terus menerjang
bagai deras ombak yang menabrak karang
namun ku tahu..ku tahu kau mampu tuk tetap tenang
hadapi ini bersamaku hingga ajal datangBondan Prakoso:
Sempat kau berharap keramahan cinta,
tak pernah kau dapat..ya sudahlah
yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala
heyyeye yaya dedudedadedudedudidam..semua ini belum *****hirback to *reff
Fade 2 Black:
satukan langkah..langkah yg beriring!
genggam hati, rangkul emosi!Bondan Prakosa:
Genggamlah hatiku, satukan langkah kitaFade 2 Black:
Sama rasa, tanpa pamrih
ini cinta..across da seaBondan Prakosa:
peluklah diriku..terbanglah bersamaku, melayang jauh.. (come fly with me, baby)Fade 2 Black:
Ini aku dari ujung rambut menyusur jemari
sosok ini yg menerima kelemahan hati
yea..aku cinta kau..(ini cinta kita)
cukup satu waktu yes.(untuk satu cinta)satu cinta ini akan tuntun jalanku
rapatkan jiwamu yo tenang disisiku
rebahkan rasamu..untuk yg ditunggu
BAHAGIA..HINGGA UJUNG WAKTU..back to *reff 3x
WAaaaah advent ortodoks…. aku bisa bayangkan kemarahan oppung!
Perbedaan selalu ada. Keluargaku juga amat beragam. Dan aku sendiri menikah dengan orang Jepang yang katanya tidak beragama (meskipun pada dasarnya mereka Buddha). Sulit sekali memang untuk menjaga keharmonisan, tapi asalkan kita mau saling berusaha, apapun bisa dilewati.
Dan kalau kita bisa melewati semua perbedaan itu, dan memakluminya, jadilah kita manusia yang dewasa.
very nice post yess
EM
wahhhhh yess suka banget tulisan ini!!
hidup dengan perbedaan memang indah kalau orang yang hidup didalamnya saling menghargai perbedaan itu.
Aku besar diMakassar dimana sekeliling tentanggaku banyak yang menado-china dan bisa di tebak bagaimana perbedaan itu malah menyatukan kami semua. Ketika lebaran tiba mereka akan datang kerumah kami dengan pakaian terbaik mereka bahkan sebelum lebaran mereka akan mengirimkan parcel yg isinya bahan membuat kue dan sirup. Ketika mereka merayakan natal atau imlek kami akan melakukan hal yang sama…menghargai perbedaan dan menghormati mereka.
ikutan mbak imel…very nice post sist!
Kalau secara budaya dan agama, keluarga nyaris tidak ada perbedaan; minang-muslim. Tapi, dari perjalanan perantauan dan pergaulan, aku menemukan banyak warna dalam kehidupan ini. Aku memahami bahwa ada banyak ragam budaya dan kepercayaan, yang semuanya itu memegang teguh kebenaran yang dimilikinya. Dari pergaulan itulah aku bisa belajar soal perbedaan dan bagaimana menghargainya.
Konsepku: “sebagaimana engkau bersikap, seperti itu jugalah orang bersikap terhadapmu”. Jika kita ingin dihargai dan dihormati, maka hargai dan hormati jugalah orang lain.
Ormas-ormas yang terkesan anarkis itu, menurutku karena mereka terlalu “pede” untuk menyatakan diri mereka paling benar. Sehingga, muncul persepsi tentang mereka sebagai “ulama yang preman”. Miris memang, tapi itulah realita.
Yessy… selamat berpuasa juga ya. Maafkan atas segala kesalahan. Semoga puasa kita penuh keberkahan…
everything’s gonna be OKAY
yeeah..dengar ku bernyanyi..lalalalalala
heyyeye yaya dedudedadedudedudidam
Yang jelas …
Perbedaan itu indah …
Selamat Berpuasa Yess
Mohon maaf lahir bathin ya …
Salam saya
Setuju..
Semuanya tergantung dari 2 hal, kan? MAMPU dan MAU.
Semua orang pasti mampu bersikap hormat dan toleransi. Tinggal mereka mau atau tidak untuk melakukannya…
Selamat puasaa
apapun yang terjadi ( sambil ikut senandungnya Bondan)
perbedaan akan selalu ada,
nggak bisa hidup ngikutin maunya kita sendiri
Perbedaan, apa pun bentuknya, adalah hal yang akan terus ada, ada, dan ada terus…
Selamat berpuasa ya Yess… semoga lancar hingga hari Suci itu datang…
Keragaman budaya, perbedaan yang ada justru meningkatkan kemampuan kita dalam berhubungan baik satu sama lain.
Bukankah keragaman itu indah?
apa ap main pb yuk