Warning; tulisan ini akan amat sangat narsis. Silahkan di lanjutkan jika anda sudah paham dan mengerti akan resiko dari membaca tulisan saya kali ini. Jika tidak, silahkan tinggalkan saja
Masih ingatkah kalian bagaimana rasanya memiliki pengagum? Iya, pengagum yang saya bicarakan di sini adalah sosok lawan jenis yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik kalian, menyimpan perasaan terdalam di hatinya, mengharap anda melihat matanya sebentar saja, untuk kemudian dia ingat sebagai salah satu moment terbahagia dalam hidupnya. Anda ingat perasaan itu?
Haha…
Rasa-rasanya sudah terlalu uzur buat saya membicarakan pengagum. I mean, come on…saya kan bukan mahasiswa 10 tahun lalu yang masih segar dengan rambut bonding lurus sepinggang, dengan lipgloss tipis-tipis dan blush on merona warna peach yang saya kenakan setiap harinya. Saya bukan lagi gadis 10 tahun lalu yang memiliki berat badan 48kg. Dengan rambut yang bahkan seminggu sekali di hair spa, dengan kulit yang seminggu sekali masuk salon untuk di lulur, dan bukan gadis yang ehem…di taksir banyak orang seperti halnya saya sepuluh tahun yang lalu.
Wekekekek….
Tapi suatu ketika, saat saya sedang mengunjungi sebuah lantai di gedung ini untuk proses administrasi yang memang harus saya lakukan demi terbuatnya sebuah account. Saya lumayan tercengang dan ternganga di buat oleh salah satu rekan saya.
Bukannya mau GR lagih nih…(udah di bilang kan ini cerita narsisssss) kalo cuma orang naksir dan tertarik atau mencoba menggoda sih ada aja, bukan cuma seorang dua orang, dan saya terbiasa dengan itu. Tapi yang hendak saya bicarakan ini, pengagum…pe-nga-gum…rasa suka dan tertariknya pada saya ada di atas rata-rata orang yang biasanya mencoba mendekati saya.
To make the story short…here it is…
Saya datang dengan sebuah file berisikan beberapa lembaran agreement dari calon customer baru. Lengkap dengan customer profile, copy NPWP, SIUP, serta API dan APIT.
Saya datang pada seseorang yang akan menganalisa semua data yang saya berikan. Saya sentuh pundaknya agar menengok kepada saya.
“Hey, tolong ya…mau langusng ada kiriman perhari ini” Kata saya sambil tersenyum.
“I-i-i…ya, mbak…”
Katanya tergagap, matanya sebentar menatap wajah saya, lantas kemudian dia palingkan cepat-cepat. Mungkin ia kaget saya sentuh bahunya, tadi. Mungkin saja dia sedang serius. Saya juga kalau sedang mengerjakan sesuatu dengan serius, saya akan terkaget-kaget jika ada orang yang tiba-tiba menyentuh saya.
Sesudahnya saya menghampiri teman saya yang mejanya di sebrang si analis tadi. Maklum, beda lantai kadang membuat kita hampir tidak pernah bertemu, apalagi kalau masing-masing department kami tidak punya urusan. Satu gedung tidak menjamin silaturahmi bisa terjaga dengan baik, ternyata.
Tidak lama kemudian, saya putuskan untuk segera kembali ke meja saya di lantai atas. Meninggalkan meja lama-lama itu cukup berbahaya. Kadang si boss butuh di saat saya tidak ada. Saya sapa kembali sang analis data, tujuannya supaya dia mempercepat proses pembuatan account tersebut, tentu saja.
“Oh ya say, titip ya yang tadi…jangan lama-lama yaaaa” Kata saya dengan lagu sedikit manja. Suara itu bukan suara menggoda, kalau kalian terbiasa bercakap-cakap dengan saya lewat telepon, kalian akan terbiasa dengan nada suara saya yang seperti itu.
Si analis yang saya sapa barusan hanya mengangguk, matanya sedikit melirik ke arah saya, tapi kemudian kembali lurus menatap monitor komputer.
Dia anak baru, kalau tidak salah baru bergabung di perusahaan ini kurang lebih 6 bulan. Sebelumnya dia bekerja di salah satu bank, sebagai analis kartu kredit. Umurnya baru 26. Yah…lebih tua setahun dari umur saya lah…*di tendang ke Zimbabwe*
Sesampainya di meja, telpon saya berdering.
Cepat-cepat saya angkat. Sebelum saya memberikan salam kebanggan dari perusahaan tempat saya bekerja, orang di sana sudah teriak duluan. dia teman saya, perempuan yang tadi saya hampiri mejanya yang bersebrangan dengan analis tadi.
“Lo mesti pulang bareng gue, nanti! Gak pake enggak” Katanya galak…
Saya iyakan saja. Toh memang saya sedang tidak di jemput, dan saya memang tidak memilih untuk bareng mbak Ibeb kalau pulang. Mbak ibeb sering pulang maghrib.
Dan dalam perjalanan pulang, inilah cerita yang saya dapatkan dari teman saya tadi.
“Lo tau gak, si anak kecil itu kan sukaaaa bangetttt sama elo!”
‘Si anak kecil? Siapa?’
“Yang tadi lo samperin buat bikin account!’
‘Owh, dia…gile lo! suka ngarang deh jadi orang…lo tau dari mana dia suka sama gue? Pake banget lagih….” Kata saya mencibir.
“Wakakakaka, udah bukan rahasia kaliii di lantai gueee. Makanya setiap lo masuk keruangan dan bikin account orang-orang langung diem dan ngeliatin. Secaraaaa, kita semua tauu tuh anak sering deg-degan kalo di samperin sama lo. Hihi…”
“Belum menjawab pertanyaan tuh, mbak. Tau dari mana dia suka banget sama gue?”
“Wihihi, dia tuh, pengagum lo kali :p. Pertama kali dia dateng, dan elo bikin account. Dia langsung tanya lo siapa, nama lo, jabatan lo. Ketika dia tau lo sering pulang bareng sama gue, dia malah nanya-nanya lebih jauh lagih. Dia bahkan tanya lo udah nikah apa belum. Wekekekek! Waktu gue bilang udah, mukanya kecewaaaa bangetttt. Pas gue tambahin udah punya anak, dia tambah kaget. Dia bilang, kok gak keliatan yaaaa…..”
“Ah mbak, lo mengada-ada deh. Kalau baru tanya kayak gituh mah belum tentu dia suka kali sama gue. Itu kan biasa…”
“Jiah, mana biasa kalo dia selalu ngeliatin elo kalo lo udah mau keluar ruangan. Terus Facebook lo tuh, kalo istirahat dia selalu mantengin FB lo, ngeliatin foto-foto lo…kekekekek….Dia lucu tauuuuu. Terus lagi nih, dia pernah tanya…suami lo kayak apa, anak lo gimana…jiahhh segituhh nyeeee…”
Sampai di situ saya tersenyum.
Dia memang sudah menjadi teman di facebook saya. Rasa-rasanya saya tidak pernah terlibat pembicaraan panjang di luar proses pembuatan account dengan dia. Hubungan saya sama dia tidak pernah di bumbui cerita di luar hubungan pekerjaan. Bahkan untuk urusan pekerjaan aja, kalo gak penting-penting amat saya tidak akan konsultasi dengan dia. Rasanya lucu saja, bagaimana orang yang bahkan tidak mengenal kita sebegitu baik bisa memiliki ketertarikan dengan cara yang lebay seperti itu.
“Inget waktu ada meeting besar sama sales?” Teman saya tiba-tiba bersuara lagi.
Saya mengangguk.
“Dia tanya, nanti di meeting itu ada mbak Yessy gak ya?” Wakakakaka, dan begitu tau ada elo di meeting itu. keknya dia gak sabarrr bangettt menunggu timing meeting itu. Beneran!”
Haha…Ya, ya. Saya ingat. Moment itu kami gunakan untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan account bisa berjalan lancar, tanpa harus tertahan lama di meja analis kredit. Aneh, dia sendiri lebih banyak diam menunduk, dan tidak berkata-kata. Hanya sesekali menjawab pertanyaan yang di tujukan kepadanya, selebihnya. Meeting di ambil alih oleh bossnya, sang senior manager billing and collection.
Teman saya kembali bercerita panjang lebar tentang si anak kecil itu. Saya mendengarnya sambil tersenyum-senyum. Tidak ada perasaan berbunga-bunga dalam hati saya. Tidak juga ada perasaan ingin menggoda atau mengolok-olok si anak kecil itu.
Pikiran saya hanya kembali ke masa-masa kuliah dulu.
Jujur, saya jadi mudah tersenyum. Pemikiran bahwa perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak serta mendapat pengagum dengan umur yang jauh di bawah saya…membuat saya menjadi, mm…apa ya?…
Saya sedang mencari kata-kata yang pas.
Owh..okey…ini dia kata-katanya.
Damn, i still got it. Isn’t ?
Secret admirer
Julukan yg pas buat pengagum Yessy.
Gue juga kagum sama loe, beneran sumpah *sisiran*
gue rasa dia bukan seorang diri deh yess. Pasti ada yang kamu tidak ketahui.
Well, aku suka cara kamu menuliskannya, dan ini bukan narsis. Ini alami…bener bener alami.
Dan sometimes cerita begini membuat hari kita beseri …kalau bisa tahan sampai 3 hari deh itu senyum. Dan… sama sekali ngga salah kalo menurut gue. Asal…. jgn dilanjutin aja hihihi
hmmm dia baca blog kamu ngga ya?
EM
pengeeeeen banget ada secret admirer begitu
(sambil liat KTP …pengen tipp-ex th kelahiran hihihi)
hmmm kapan ya aku bisa nulis seperti ini? someday deh
EM
Hemm.. dia pasti udah buka2 blog Mba Yessy hari ini, kan pengagum berat.. xixixi
Saya dulu pernahnya waktu SMA, punya secret admirer yang ketahuannya baru pas kuliah.. mungkin karena saya galak, jadi dianya ga berani bilang sampai beberapa tahun kemudian, hahaha..
Ceritanya lucu, selamat melanjutkan senyum2 sendirinya aja deh.. xixixi
Yessy, nggak heran deh kalo Yessy punya banyak pengagum. Siapa sih yang nggak terpesona dengan auramu?
Ehm … sama seperti pertanyaan Mbak Imel, dia baca tulisan ini nggak ya? Ow-ow …
Mengetahui kita memiliki secret admirer kadang-kadang memang bisa bikin ‘shock’. Ada secret admirerku yang baru membuka perasaannya setelah … 25 tahun! Pengen pingsan deh …
Yessy…jangan-jangan bukan cuma dia yang mengagumimu…hehehe….
tenang Yessy…biar Yessy makin semangat…mungkin semangatmu ini yang buat orang kagum…
………………
Kalo gw ke kantor loe, kenalin ya. Gw mau nanya, apa dia pernah sentuh ujung rambut loe. Kan jampi-jampi loe ada di ujung rambut megaloman itu….
*ditendang*
Yes, kadang-kadang cewek 30′s yg udah menikah,punya anak, dan punya karir…itu so damn’ sexy dan menarik karena mereka nyaman dgn dirinya sendiri dan tahu banget menonjolkan kelebihan dan menutupi kekurangan,dibanding anak sekolahan, yg bingung dgn dirinya sendiri, ngga pedean, ngga tahu mau ngapain, so jangan heran…kalo ada wanita menikah, janda….yg ditaksir ama berondong…it makes a sense!!! Usia 30-an keatas itu sebenarnya saat-saat wanita sedang bersinar-sinarnya….
hihihi bagussss