Apa Kabar, Ma?

Banyak orang mendeskripsikan ibunya dengan kata-kata lembut, penuh kasih, dan sosok malaikat yang akan memberikan kita kenyamanan dan keselamatan.

Oh….

kalau boleh jujur. Jika saya harus mendefinisikan ibu saya dalam tiga kata, maka yang keluar akan menjadi seperti ini. Preman, cuek, tangguh.

Kenapa? Loh…katanya jujur, jujur loh saya ini. Emang saya gak boleh mendefinisikan tiga kata tersebut untuk ibu saya?

Dengar dulu cerita saya, ya? :)

Saya ingat, jaman saya masih ABG dan centilll banget ituh. Saya kan udah mulai naksir-naksir cowok tuh ya. Satu hal yang selalu bikin saya gak PD adalah…mm…

Apa??? Bukan!!! Bukan kulit hitam sayah! Saya mah PD aja sama kulit hitam saya ini. Wong saya orang Indonesia asli dan tinggal di negara tropis, what do you expect my colour to be, anyway?

Tebak ayo? Tebak dong….

BENER!!! Satu-satunya yang bikin saya gak PD adalah….idung saya.

APA!?!?!? IDUNG !?!? *gampar yang kagetnya lebay barusan*

Beneran, menurut saya, idung saya ini aneh, mekar gak jelas. Cut enggak, bray enggak. Cutbray aja biar tepat, gimana? *itu coba tolong yaaa ketawanya jangan kenceng banget!!!*

So anyway, i remember came to her with all my sad face. I asked her:

“Ma, kenapa idung Yessy jelek banget, ya? Perasaan idung mama gak ginih, idung papa juga gak ginih…kenapa?’

Kalian bisa duga apa jawaban mama saya? Iyaaaa…duga aja duluuuu…apa coba?!?!?

Kalau kalian pikir, mama saya akan menghibur saya dengan segala nasihat keibunyan, tentang bagaimana saya seharusnya bersyukur dengan pemberian Allah, dan kemudian memberikan nasihat jitu agar saya lebih percaya diri menjadi perempuan, dan segala kalimat-kalimat yang setidaknya mengatakan kecantikan itu tidak semata soal fisik belaka. Well…SALAH!!!

Cause i remember…mama cuma bilang.

“Gampang, entar kalo udah gede operasi plastik aja. Temen mama ada tuh langganan yang bagus, murah lagih…”

Sambil kalem, dan tidak mengalihkan pandangannya dari koran yang kebetulan saat itu sedang beliau baca.

Oh well, thats my mom. Saya ingat jaman kecil dulu, hubungan saya dan mama saya lebih di katakan sebagai tarian. Itu tuh, yang maju selangkah, mundur dua langkah. Mama itu musuh utama, walaupun ya, bisa di katakan sahabat juga. Saya selalu katakan siapa cowok yang saya taksir, apa yang sedang saya lakukan. Akrab, namun sering kali juga ribut. Apa yang saya inginkan sering tidak sesuai dengan apa yang mama inginkan. Saya mau ikutan teater, mama malah nyuruh saya les matematika. Saya pengen ikut paduan suara, mama malah masukin saya ke les bahasa inggris. Terakhir, saat saya katakan ingin kuliah di IKJ, ya karena dulu pacar saya juga kuliah di IKJ, saya malah dengan paksa di suruh masuk Ekonomi Trisakti.

Tapi itu dulu. Mama saya, memang cuek banget. Saat saya sibuk sama penampilannya yang sering gak matching. Kebaya ungu, jilbab orange, oh…atau…sarung batik motif cirebonan, dengan baju kurung bahan songket. Pengen bunuh diri kalo liat gaya mama saya pake baju.

Tapi, dari mama saya belajar jadi perempuan yang kuat. Perempuan, seharusnya memang harus kuat. Tidak harus selalu lembut, ramah, penuh kasih. Tapi juga kuat, mandiri, menjadi diri sendiri, dan membiarkan pikiran dan kemampuannya tereksplore dengan bebas.

Mama saya selalu bilang; “Perempuan itu lehernya laki-laki. Tanpa leher, mana ada kepala yang bisa tegak atau menoleh kekanan dan kekiri, iya kan?”

Mama juga bilang, perempuan itu jangan cengeng. Saat kemarin saya katakan bahwa saya kecewa dengan hidup saya. Dengan karier yang biasa saja, dengan kemampuan yang seadanya. Mama saya cuma berkata, adakah untungnya saya berkata demikian? Kenapa tidak saya yang lebih mengoptimalkan kemampuan dan keahlian saya dalam bekerja. Kemampuan itu cuma perkara mau atau tidak. Lain bukan. Jadi kalau saya berpikir saya biasa saja, ya itu karena saya memang belum melakukan hal yang luar biasa dalam hidup saya.

So? Mama saya?

Ah…biasa aja. Cuma perempuan dengan jiwa preman, yang tangguh, kuat, dan saya beruntung jika saya bisa jadi  seperti setengahnyaaaa aja dari beliau.

Selamat hari ibu, Ma. Sayang mama banget.

5 pemikiran pada “Apa Kabar, Ma?

  1. Ikkyu_san mengatakan:

    very very nice
    dan aku senang dengan perumpamaan wanita adalah leher
    atau tulang punggung….

    hei, selamat hari ibu juga untuk yessy :*

    EM

  2. aRuL mengatakan:

    hehehe mamanya gaul banget pasti juga sering liat2 infotaiment :D ngidolain KD ngak mamanya jeng yessy? nitip salam buat mamanya jeng :)

  3. wandypopok mengatakan:

    Mama saya selalu bilang; “Perempuan itu lehernya laki-laki. Tanpa leher, mana ada kepala yang bisa tegak atau menoleh kekanan dan kekiri, iya kan?”
    ^
    ^
    ^
    keren banget kata2nya! :) )

  4. sibair mengatakan:

    wah seneng bgt baca postingannya XD

  5. azhari mengatakan:

    tulisannya ringan enak dibaca. “selamat hari ibu (telat ya, he he)”.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s