Serupa galau yang tak terencana. Bersamamu, adalah binal nakal yang tertunda. Aku suka. Aku dan kamu adalah cumbu. Cumbu termanis dalam waktu. Walau saat ku tutup mataku. Birahiku tak akan berlalu. Kau rasakan itu!
Tersebutlah seorang perempuan yang saat ini sedang duduk di depan sahabatnya.
Dengan sebatang rokok kretek yang dia biarkan meracuni paru-parunya, dengan sebotol bir dingin yang sudah entah keberapa, dengan lipstik merah matte yang masih menyala, lengkap dengan uraian ikal rambut panjang yang tergerai dan jatuh membingkai dada. Aku memanggilnya Fe. Nama singkat pemberian masing-masing dari kami saat masih kuliah.
Aku adalah Re. Perempuan yang kerap kali harus terjerembab bersama saat Fe membutuhkan pelukan .Rengkuhan. Atau bahkan sekedar penghiburan. Aku, adalah orang itu. Ingin tidak ingin. Aku pasti datang saat tak di butuhkan. Butuh tidak butuh, aku adalah orang yang sesungguhnya selalu berada di sampingnya. Terlebih saat dramatis seperti ini.
“Kamu membuang waktumu, tau?” Kata ku, membuka birama.
“Biarlah, toh aku juga yang merugi, tidak kau.” Kata Fe, lamban.
“Siapa bilang aku tidak selalu merugi? Aku nyaris menjadi orang yang selalu ada di sebelahmu, Kapanpun itu.”
“Karena aku tau, kau sayang padaku, Re…” Kata Fe, sembari menghisapnya rokoknya dalam-dalam. Dia selalu berkelakar, she is better with the blow job. Karena dia merokok, aku tidak. Aku hanya merengut cemberut mendengarnya.
“Ada banyak lelaki yang bisa kau rebut hatinya. Mungkin bukan dia.” Sambung ucapanku.
“Tapi lelaki itu bukan dia. Yang membutuhkanku selalu, yang membuatku membutuhkannya. Bukan hanya di saat manis, tapi juga tragis. Aku membutuhkannya untuk malam-malamku yang pernuh orgasme. Dia, lelaki itu, adalah lelaki yang aku puja lengkap dengan segala durja. Bagaikan dosa yang paling nista, ini adalah dosa termanis yang aku punya.” Jawab Fe, panjang lebar…
Aku meringis di buatnya.
“Tapi dia tidak sendiri, Fe. Dia punya seseorang yang memiliki. Tidakahkah kau merasa bersalah karena berulah. Dia, lelaki itu, sudah memiliki seorang perempuan yang menunggunya di rumah, yang mungkin saja lebih mencintainya, lebih dari caramu mencintainya…Ada kau pikirkan aku?”
“Bedebah, perempuan itu bisa saja mencintainya. Tapi kalau betul-betul dia juga serupa, kenapa dia datang padaku!?!? Dia mengeluh jenuh! Aku berikan tubuhku! Utuh! Aku bahkan terlalu bodoh untuk kemudian memberikan hatiku…kau tau itu, kan, Re?’
Fe mulai mengendur. Matanya membasah lagi.
Dia beringsut ke arahku. Merebahkan kepalanya di kepalaku. Kali ini sambil menangis. roknya yang hanya sepangkal paha merebak kemana-mana. Sungguh ini pemandangan dramatis yang romantis. Hanya saja, seharusnya bukan aku yang saat ini dia sandari pahanya untuk merebah dan sedih. Aku membayangkan Fe menangis sambil mengulum. Serupa adegan porno yang anarkis. Haduh…
“Aku hancur, Re. Sungguh-sungguh hancur. Dia tidak membalas pemberian hatiku yang sudah ku tawarkan. Oh, bahkan sudah ku gadaikan! Aku memilih bersamanya. Kau tau sejuta petualanganku dengan lelaki. Kepada mereka aku bahkan bisa memaki. Tapi lelaki ini, aku membiarkannya mencintaiku! Dan sebegitu bodohnya untuk berharap aku dan dia dapat bersama…Re…Aku, hamil…Re…”
“Hamil?!!?”
“…”
“Bagaimana bisa!?!? Kamu bahkan selalu meminta pasanganmu menggunakan double kondom dan mengeluarkan spermanya di luar, hanya karena kamu takut hamil! Bukan cuma itu! Kamu membencinya! Kamu tak suka segala ide tentang rahim yang mengembang dan perut yang membuncit!”
“Aku membiarkannya melakukan apa yang dia mau, Re…Membiarkan segalanya, untuk kesenangannya, semata-mata hanya karena cinta”
Fe kembali terisak.
Sedangkan aku. Aku cukup sesak. Ini seperti adegan kacangan film fiksi anak remaja yang hamil karena tak bodoh dan tak mengerti. Sayangnya, kali ini seharusnya sahabatku cukup pintar untuk bisa mengerti, mana hati, mana mani.
“Katakan sesuatu, Re…”
“…”
“Re…”
“Kau mau aku mengatakan apa Fe? Sudahkah kau lupa, Dia, yang saat ini kau kandung anaknya, adalah suamiku?”
Fe tidak menjawab.
Fe, pada akhirnya, tidak pernah menjawab.
Menginginkanmu itu seperti bersalah. Rasa bersalah yang tak gelisah.
Dia hanya lelah. Karena mengulang erangan desah yang basah.
Blog yang Unik dan Apik. Salam Kenal Sis