Yang paling menyebalkan dari pekerjaan seorang konsultan HR itu adalah, kita sibuk mikirin gaji orang yang minimal dua digit, lantas bernegosiasi dengan klien, lantas kembali ngobrol sama kandidat, supaya mereka mau menerima offeran-nya, sampai akhirnya bisa dengan sukses kita close deal-nya. Placement!
Baru kemudian bisa senyum-senyum membayangkan komisi yang bisa didapatkan akhir bulan bersamaan dengan gaji.
Begitulah apa yang saya lakukan setiap hari.
Tapi tidak pagi ini.
Pagi ini, ketika saya meletakkan bokong saya ke kursi dan meja saya yang berdepanan dengan sahabat saya, Desta. Dia sudah memberitakan sebuah kabar duka. Oh well, kabar duka buat saya, buat dia siy gembira aja.
“Gue mau berangkat ke India! Cuti 10 hari, dont you miss me ya sweety!”
Katanya dengan menjura.
Saya, hanya meletakkan tas saya di atas meja. Memura-murakan wajah saya untuk terlihat tidak sirik. Entah berhasil, entah tidak, tapi kemudian saya katakan padanya.
“Lo jalan-jalan melulu. Banyak banget ya duit lo cyiinnttt…”
Lantas sedetik kemudian, Desta menanggapinya dengan senyum yang menurut saya cenderung sinis, namun nada suaranya manis.
“Lo mau oleh-oleh apa siy? Nanti gue bawain deh, say…”
Owh…
Saya tidak bisa tidak tergoda demi mendengar oleh-oleh…
Tapi belum lagi saya hendak mengeluarkan serentetan daftar yang akan saya minta kepadanya. Desta sudah mengeluarkan sebuah kalimat.
“Oleh-oleh paling berharga yang akan gue kasih ke elo nanti adalah, cerita. Nah, lewat cerita itu, gue akan bagi pengalaman gue selama gue di India sana. Pasti seru. Lo bakalan suka, and lo bisa tulis itu semua. Jadi duit, kan? Keren dong ide gue, say?”
Dan, ya…Desta ternyata tidak sebaik yang saya kira.
Saya hanya membalas kalimatnya dengan sebuah senyuman, kemudian memulai kesibukan saya dengan merespon beberapa email dari klien-klien saya.
Begitulah…
Another day in FrontWorld Consulting.
Nama saya, Biyan. Umur 30 tahun. Saya cuma seorang perempuan yang kebetulan punya energi lebih untuk menulis, selain menjadi konsultan head hunter. Ini cerita saya, teman-teman saya. Juga sekeliling saya.
Desta, yang tadi saya ceritakan di atas adalah sahabat saya di kantor. Selain iseng, jahil, dan sering mengeluarkan komentar tidak penting, dia adalah lelaki melajang yang menikmati hidup dan menyayangi keluarganya sepenuh hati, terutama ibunya. Cerita ini nanti akan banyak berkisah tentang dia. Sahabat, serta orang-orang yang saya kasihi.
Cinta?
Aih, kata apa pula itu?
Saya tidak suka membicarakannya. Untuk apa bicara tentang kata yang belum jelas lagi artinya.
Ini hanya cerita tentang segala ketidak pastian. Karena ketidak pastian membuat semuanya menjadi mungkin. Memungkinkan apapun. Termasuk menggapai semua mimpi, dan keinginan hati.
Bicara tentang hati? Ada yang mengerti?
Cerita ini akan saya mulai di sini. Mari berbagi.
Sssttt, ceritanya, tulisan ini nanti akan dibalas sama teman sayah. Kita nantikan cerita teman saya gimana, ya?
![]()
Wew
Wow
Fiksi Kolaborasi
kenal mbak yessy di ngerumpi,,suka deh,,,
Ini bukan kisah nyata kan Yess ?
settingan ceritanya keren …
Konsultan HR
(nyiapin CV aaahhh …)
hehehe
salam saya Yess
mana mana terusannya?
*pasti seru*
Done! susah juga y menulis
bagus tulisannya
Done, check my blog, susah juga y menulis
Ping-balik: Cerita Biyan. « Let Me Do It My way…
Ping-balik: Cerita Biyan. — Kumpulan Blog Teman-teman nyenius