Istri Lelakiku.

Ada yang mengerang dan menggelinjang saat malam. Saat mata-mata sayu dan raga yang lelah mulai merebah, dan jiwa yang gelisah mulai berkelana, bertanya sesuatu entah apa. Ini bukan cuma bergerak atas nafsu. Bukan cuma segala gaya yang kamu minta lantas aku ikuti. Ini adalah permintaan ku, untuk kau genapi. Kamu, kawini aku saja. Bisa?

 

Lelaki yang masih telanjang di atas ranjang ini masih tertidur.

Beberapa ronde permainan ternyata membuatnya lelah, aku tentu saja memakluminya. Aku sendiri cukup dia buat lelah. Ter-engah-engah aku melayaninya. Dia, lelaki yang mencumbu dan menyetubuhi aku ini, adalah pria perkasa yang dengan segenap jiwa, aku cinta.

Dia terbangun. Matanya mengerjap-ngerjap. Dengan bulu mata yang lentik untuk ukuran laki-laki. Hidungnya yang tinggi, bibir manis yang saat ini langsung terpulas senyum sesaat matanya menatap pandangan mataku.

“Hai…”

Sapaku.

“Selamat pagi…”

Itu jawabnya.

“Ini belum lagi pagi. Baru jam 12 malam.”

Lelaki itu melirik arlojinya. Dan menarik nafas dalam-dalam.

“Bermalam saja di sini. Menginap. Temani aku sesekali…”

Bujukku.

“Kamu tahu, aku amat sangat ingin menemanimu di sini. Selamanya. Tapi kamu tahu, aku tidak bisa…”

Jawabnya, sembari memainkan rambutku, dan terakhir mencolek daguku.

“Kamu mau teh? Atau kopi?”

Jawabku, sembari beringsut dari kasur, beranjak membuatkan lelaki ini minuman, sambil tetap memberikan pemandangan yang luar biasa, menurutnya. Aku tanpa busana.

“Kamu seksi sekali kalau begitu…”

Katanya. Aku lihat ada yang menyembul dari balik selimut, segumpal batang yang saat ini sedang menyesak ke atas.

Aku tersenyum.

Aku berikan secangkit teh manis hangat buatanku. Dia menyesapnya. Lantas meletakkan cangkit itu di meja kecil yang terletak di samping ranjang ini.

Aku menata rambutku menjadi sanggul kecil. Di depannya.

Dia tergugah untuk menghampiriku, mencium keningku, lantas mengecup kelopak mataku, melumat bibirku, dan terus menurun ke leherku…dan tidak berhenti sampai di situ…dia meneruskan semua kecupannya, kali ini dengan lumatan yang dia lakukan kepada sepasang bundaran daging yang terletak di dadaku. Aku menikmatinya betul-betul.

Lantas lelaki ini merebahkan aku di ranjang ini. dia ulangi kembali adegan yang beberapa jam sebelumnya kami lakukan dengan pernuh hasrat. Hasrat terliar yang pernah terlintas dari imajinasi.

Dia turun naik di atasku, dengan tatapan matanya yang menatapku penuh.

Aku kembali mengulangi erangan nikmatku, sambil mengikuti gerakan yang dia lakukan. Kami adalah sepasang kekasih binal yang bertualang. Tempat tidur ini bahkan beratus-ratus kali harus kami jadikan saksi.

Tapi belum aku berhasil mencapai klimaksku. Telepon genggamnya berbunyi.

Seperti sapi yang dicucuk hidungnya. Lelaki ini bahkan tidak memikirkan aku keberatan atau tidak, yang dia lakukan hanyalah mencabut penisnya dari vaginaku dengan terburu-buru, dan tergesa-gesa menghampiri telepon genggam itu untuk mengangkatnya.

Dia membawa telpon itu keluar kamar. Tidak lama kemudian dia kembali.

Gairahku hilang. Dengan dingin aku katakan padanya…

“Pulang sana, jangan cari gara-gara. Kau tentu tidak mau diceraikan mamaku hanya gara-gara tertangkap tidak pulang karena bermalam di kost-an anak perempuannya.”

Pria itu menunduk.

Dia kenakan lengkap semua pakaiannya, dan kemudian berlalu, tanpa suara.

Sebut aku perempuan durjana. Aku adalah kekasih dari seorang pria yang beristri. Terlebih lagi, istri dari lelaki itu, ibuku.

About these ads

10 pemikiran pada “Istri Lelakiku.

  1. Ping-balik: Sebuah Penjelasan. Saya Hanya Harus Menulisnya. « Let Me Do It My way…

  2. yang penting cuma bagian ini: “Pulang sana, jangan cari gara-gara. Kau tentu tidak mau diceraikan mamaku hanya gara-gara tertangkap tidak pulang karena bermalam di kost-an anak perempuannya.”

    selebihnya…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s