Saya sesungguhnya tidak pernah menyukai menghina seseorang dengan fisik. Tidak pernah.
Fisik, adalah sesuatu yang tercipta dari sana-Nya. Tanpa kita bisa meminta ingin hidung macam apa, kulit warna apa, atau mungkin mata yang bulat dan besar, atau yang kecil dan sipit.
Makanya, kalau saat ini saya mengenal seseorang yang hari gini mulutnya masih nyinyir ngatain fisik orang, biasanya saya hanya akan menggolongkan orang-orang itu di golongan kelas rendah. Orang seperti itu, tidak akan jadi teman saya. Biar saja.
Tapi,
Sumpah mati, saya juga sebal sama orang yang berlebihan dengan kecantikan fisiknya. Yang kulitnya putih mulus, yang katanya matanya besar dan bundar, lantas bibirnya berbentuk sensual. Tidak perlu disebutkan juga hal seperti itu terlihat oleh mata, kok, terkecuali orang-orang di sekeliling kamu buta, boleh deh, kamu teriak-teriak menceritakan itu semua.
Kenapa tiba-tiba saya bahas ini?
Entahlah…
Saya harus akui, kadang mulut sanya lebih tajam dari pada silet jika saya sedang nyinyir sama seseorang. Sering saya sesali, lebih seringnya lagi sih, saya cuma cari perkara, saya tantang orang itu kemana-mana. Bodoh ya? Banget.
Tulisan ini saya persembahkan untuk kamu-kamu semua yang berhati perempuan.
Iya, saya ulangi, berhati perempuan.
Jadi, biar kamu laki-laki yang ingin menjadi perempuan, atau bencong yang terperangkap berpayudara tapi masih berpenis pria, atau mungkin perempuan-perempuan sejati yang sudah bervagina dari lahirnya.
Iya, tulisan ini untuk kalian.
Saya hanya ingin mengatakan.
Jangan pernah kalian merasa terintimidasi oleh teman, rekan kerja, atau siapapun yang secara fisik jauh lebih cantik dari kalian. JANGAN.
Jika mereka berkulit putih, berhidung mancung, beralis tebal, berdagu belah, berkaki jenjang. So what???
Jangan pernah merasa minder.
Jika mereka menghina kalian, mencela, atau bahkan memperolok-olok kalian. LAWAN!
Jangan diam.
Katakan jika kalian tidak suka dan tidak berhak mendapatkan perlakuan itu, dan katakan, bahwa kalian berjejak di bumi yang sama, beratap langit biru yang serupa, kalau sudah begini, dimananya yang beda???
Diam itu emas. Tapi kebanyakan diam, hanya akan membuat cemas, dan membuat orang lain untuk mencela kalian semakin gemas. Percayalah.
Lantas buat mbak-mbak yang kebetulan cantik, kebetulan kulitnya putih, kebetulan secara fisik jauhhh lebih okey dibandingkan dengan teman perempuan yang lain. Apa kalian jadi merasa jauh lebih senang? Jika kalian bisa mencela teman-teman yang lain, jika kalian berhasik menggores hati perempuan yang lain? Atau kemudian membuat mereka merana dan tersiksa, hanya dengan kata-kata…”KAMU JELEK!”
Ini buat kalian.
KASIHAN, YA? KAMU?
Iya, sungguh kasihan, jika ternyata menyakiti hati perempuan lain membuat kalian merasa lebih baik. Betul-betul kasihan.
Kalian bukan saja jahat. Lebih dari itu, kalian menjijikkan.
Kalian bukan saja laknat. Lebih dari, kalian busuk.
Ingatlah, bahwa fisik, semata pemberian Tuhan. Jika suatu saat kelak Tuhan menukar wajah cantik kalian dengan muka dengan luka bakar yang tercipta akibat kecelakaan yang parah? Bagaimana perasaanmu?
Itu mungkin, tau?
Itu mungkin saja.
Dan dengan segala kemungkinan itu, berdoalah. Supaya cantikmu akrab, sampai tua.
Cantik bukan berarti untung. Dan tidak cantik? Bukan berarti rugi. Ingatlah, bahwa segala sesuatunya hanya tentang hati. Hatimulah yang akan melihat jendela dunia lebih jelas, lebih tegas.
Nah, buat semua perempuan atau makhluk dengan hati perempuan.
Percayalah, bahwa segala sesuatu ada maksudnya dan akibatnya.
Kalian sempurna. Komplit, dengan segala paketnya.
Begitu saja, bagaimana, cantik?

tapi ngga sedikit orang cantik ngga beruntung, orang yang ngga cantik2 amat beruntung ( duh jadi ngerewind Royal Wedding deh, mertua dan anak menantu
,
setuju! ^_^
a very sweet post indeed, mbak!