Kalo lo udah benci sama orang itu. Dia ngaji juga lo salahin. Sementara kalo lo sayang sama dia. Dia nyolong juga lo belain.
Semalam, kalimat itu betul-betul menampar saya. Saat saya sedang asik menggila ngoceh sekenanya di garis waktu saya. Saya seperti tertegur oleh kalimat itu.
Sebutlah saya pernah punya sahabat. Setidaknya saya definisikan dia sebagai sahabat saya. Pada saat itu. Entahlah dia, menganggap saya sebagai apa.
Lantas karena suatu dan lain hal, yang saya tidak perlu sebut lagi di sini tentang apa. Kami berjauhan.
Sedih, memang.
Apalagi, saya ingat saya sempat kagum banget sama dia. Bangga banget jadi temannya. Dan pernah beranggapan dia hebat sekali. Well, dia memang masih hebat. Sampai sekarang. Dia hebat di satu bidang tertentu.
Jadi semalam dia yang mulai. Dia mengoceh tentang apalah yang saya juga gak tau, itu buat saya apa bukan. Ya, saya sih gak sensitif. Lebih dari itu, saya hanya ingin menjelaskan. In case, kalau kamu menulis itu memang buat saya.
Saya tidak pernah mengumpulkan massa untuk membencimu. Tidak pernah. Saya punya gaya yang cantik untuk melawan orang. Dan cara pengecut seperti itu, bukan gaya saya. Kalau kamu lupa. Sebelum dengan saya, kamu pernah berselisih paham dengan dua orang sahabat-sahabat kita dahulu. Dua orang. Dan saya jadi orang ketiga yang masuk di dalamnya. Kami bertiga adalah kumpulan orang yang kamu kecewakan. Jadi siapa yang mengumpulkan massa? Kami cuma teman-teman kamu yang selalu berkata jujur. Dan jujur, memang sering menyakitkan. Tidak manis, seperti pujian-pujian yang dilontarkan oleh penggemar-penggemarmu itu.
Semoga kamu ingat dan bisa sedikit membuka pikiran.
Nah, lantas apa lagi?
Kamu bilang kita bergerombol membencimu?
Hey, kamu lupa???
Siapa yang membiarkan sahabatnya berargumentasi di dinding Facebookmu? Tanpa kamu bertindak sesuatu. Tidak sesuatupun! Kamu hanya mendiamkan saja kedua teman-temanmu ini berbalas kata-kata kejam. Lupa? Tetap kita yang jahat di matamu???
With you, is a love you and hate you situation.
Saya pernah menangis menyadari kehilangan seseorang, hanya karena dia tidak kunjung mengerti apa yang kami sarankan.
Saya bahkan sudah ada di taraf cuek. Cuek aja menerima, kamu mau jadi apa, mau bagaimana. Suka-suka kamulah….:)
Cuma satu hal yang harus kamu ingat.
Sebuah cerita, masing-masing punya dua sisi. Tidak usahlah membuat orang menerka-nerka, menebak-nebak, atau bersimpati padamu, atas sebuah cerita. Iya-iya, saya tau, lebay memang sifatmu. Tapi, oh…come-on….
Mungkin, kita memang sudah saling benci. Sehingga apapun yang kita lakukan, jatuhnya menyakiti.
Mungkin, kita memang tidak berjodoh untuk berteman.
Mungkin, seperti katamu, kamu bukan tipikal orang yang membenci. Anehnya, kamu seperti menuai kebencian itu di antara teman-teman dekatmu. Sayang, ya?
Pagi ini, saya mendapat kalimat manis sekali, dari seorang sahabat yang sering saya panggil Uda.
SUKA & BENCI janganlah berlebihan, karena bisa jadi yang kau sukai itu sesungguhnya buruk untukmu & yang kau benci itu sebenarnya baik untukmu, kita tidak pernah tahu.
Ps:
Berhentilah berpikiran buruk tentang saya.
Karena saya, mungkin tidak punya waktu untuk sekedar memikirkan kamu

*ngelap air mata*
Damn, after all this time. Masih sakit aja mengingat ini…
some people just love to blame others, even actually they needed them the most..
sabar mbak sabar hehe~
ehh nyambung dsini
*bantuin ngelap air mata yessy pake kanebo* :p
btw mnrt gw ini postingan yg manis lohh
cheers
*puk-puk Yessy*
sangat..emosional.. tp ini bs saya jadikan pelajaran berharga..
semangat mbak!
hei hei, sy pny kawan semacam itu…
bagai dementor tiap dia datang, serasa semua kebahagiaan hilang.
tapiii, its okay, sy malah kasihan sma dy.
saya masih punya banyak teman *hehe*
Hai, Yessy, apa kabar?
With you, is a love you and hate you situation.
Ihikss.. baca kalimat di atas itu bikin gua teringat akan pertemanan gua sendiri dengan seseorang yang ‘pernah’ gua anggap sebagai my very 1st best friend.
Ngga tau apa yang salah.. tapi rasanya terus berada bersamanya itu hampir selalu ada tendensi secara ngga sadar untuk saling menyakiti
Karenanya menjauh adalah pilihan yang terbaik.
Hanya sajaa.. biar gimana ngga segampang membalikkan telapak tangan untuk melenyapkan ‘kenangan’ manis yang terjalin selama sekian tahun.
Semoga2.. suatu hari nanti.. ntah rasa sakitnya yang semakin berkurang atau hubungannya yang pulih kembali ya, Yessyy.. take care..
Gw kebelet boker
coffee talks, yuks?
yuks?
yaya.. saya mengerti situasi ini…
/sodorin kopi hangat
//tawarin gula
posisi yang sama yang saya rasakan saat ini mba
menjauh perlahan dari segala kenangan manis yang sudah qta bertiga lalui selama ini.
keep smile and dont give up
Kenapa gak tanyain ke orgnya aja lsg yes? Apa bener itu buat lu atau bukan?
Bersahabat memang cocok2an sih
kalo gue gak mau tanya dan gue emang pengen bikin tulisan ini aja, kenapa?