Saya percaya, yang namanya hidup, gak mungkin selama-lamanya mulus aja. Sekali-kali lancar, kali lain seperti luncuran wahana dunia fantasi, atau bahkan berhenti. Di saat kepala berada di bawah, dan kaki di atas.
Ya, saya percaya, hidup sungguh mampu melakukan segala yang baik dan buruk di saat yang bersamaan.
Saya bisa saja terpuruk, sakit, marah, atas suatu hal yang terjadi dan tidak sesuai rencana saya. Tapi lantas, apakah saat saya sedang sebal kemudian dunia ikut berhenti berputar dan bersimpati kepada saya yang berkutat dan merutuk pada hal yang tidak berjalan sesuai dengan rencana saya itu? Tentu saja tidak.
Di saat saya memaki, marah, bahkan pitam pada apa yang terjadi dan menyakiti saya. Kenyataannya adalah, dunia tidak akan berhenti berputar bahkan sedetik saja.
Demi marah dan kesal berlarut-larut. Saya sudah tertinggal bukan hanya selangkah dua langkah oleh orang lain. Tetapi juga beratus-ratus langkah.
Siapa yang rugi? Saya sendiri. Pasti.
Maka…
Huff…
*tarik nafas panjang…*
*Hembuskan pelan-pelan*
Saya memutuskan untuk berserah. Kepada Tuhan, kepada Dia yang katanya memberikan ini semua.
Ada saat Allah memberikan kita rejeki dan nikmat. Lantas, ada kalanya tentu Dia memberikan kita ujian dan cobaan.
Toh segalanya milik Dia. Saya hanya bisa berserah, dan ya…kalah…Jika itu namanya.
Hadeh…Entah merepet tentang apa saya ini…
Begini.
Mama dan papa saya tidak jadi berangkat haji.
Setelah ratiban, keberangkatan ke bandara yang dimulai dengan doa dan adzan, belum lagi di antar sanak saudara serta tetangga. Mama dan papa saya, batal naik haji.
Apa lacur…Visa yang keluar ternyata hanya milik papa, dan milik mama, entahlah…
Kami memilih yayasan dan travel yang salah. Bayangkan. Ustadz dan ustadzah yang terkenal seantero rumah kami, yang katanya jidatnya hitam, yang katanya kalo ngomong dikit-dikit hadist nabi, ayal al-quran. Mampu menipu sedemikian rupa.
Saya sudah curiga. Dari awal, tanggal keberangkatan berubah-ubah. Dari tanggal 23 November, kemudian 27 November, lantas mundur lagi tanggal 29, dan…masih mundur lagi sampai tanggal 31.
Sampai akhirnya kami berangkat tanggal 31 pun, kami masih harus menunggu. Dari yang katanya berangkat jam 8 pagi, diundur jadi jam 12 siang.
Singkat cerita…Kebatalan papa dan mama saya berangkat baru kami ketahui pukul setengah 5.
Di antara lemas dan marah. Ada satu rasa yang dengan keras rasanya menampar-nampar pipi mama dan papa saya. Malu.
Apa kata tetangga?
Masak udah berangkat, udah selametan, kok batal???
KENAPA???
Lebay? Enggak juga. Coba situ ada di posisi saya. Mungkin situh bunuh diri saking malunya…
Uang pembayaran sudah lunas berbulan-bulan jauh sebelum keberangkatan. Belakangan baru kami ketahui, yayasan dan travel ini “mengakali’ jalannya ONH Plus ini.
Orang yang pintar dan tahu seluk-beluknya, justru makin keblinger dan berani ambil jalan yang entah apa, demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
Lucunya, mereka membujuk papa untuk tidak membatalkan keberangkatannya. Begini katanya…
“Bapak ini tamu Allah, lo…masak dibatalkan? Mungkin baru bapak yang sudah dipanggil Allah, kalo ibu belum!”
Oh…
Kamu bisa bayangkan betapa pitamnya saya mendengar kalimat itu.
“Gak usah bawa-bawa panggilan Allah. Yang namanya naik haji itu wajib! Kalo mampu tenaga, mampu duit, ya berangkat!!!”
Begitu jawab saya…
Bukan panggilan Allah…
Aih…kok ya sedemikian naif mereka mengatakan itu.
Alasannya adalah mereka tidak jeli mengurus jemaaah haji ini, mereka hanya ingin uangnya saja. Edan…asal tau aja ya. Keuntungan yang dimiliki travel atau yayasan untuk memberangkatkan satu orang naik haji itu bisa 20 jutaan. Dua puluh jutaan, untuk satu orang….
Ibadah haji untuk yang mampu. Setuju. Kalo gak mampu, mampus aja lu.
Begitu banyak hal yang saya pikirkan di benak saya.
Betapa mungkin, orang yang katanya dekat dengan Allah dan taat beragama itu bisa-bisanya menipu dan berbohong.
Kalau memang sampai tanggal keberangkatan visa untuk mama saya belum muncul, kok ya sebegitu teganya kami disuruh ke bandara???
Kenapa gak ya dibilangnya aja jujur, transparant gituh lo…
Batal naik haji tapi belum ke bandara itu punya emosi yang berbeda, dari pada sudah di bandara terus pulang lagi.
Ya Allah…
Bapak dan ibu haji itu tega banget…
Sampai pada suatu titik, saya berkata. Apa ya dosa mama dan papa saya, sampai begini banget mau berangkat naik haji aja…
Tapi helloowwwwww….yang visanya gak beres, bukan cuma mama saya aja dong. Masih ada 8 orang lagi dari Samarinda yang juga gak berangkat. Apa semua orang itu juga berdosa??? Ya gak gituh juga kali!
Saya marah.
Jujur. Saya murka.
Rasanya gak tega liat mama yang menangis. Kami seperti menanggung hukum sosial di masyarakat
Tapi.
Sekali lagi.
Kami mampu menghadapinya.
Hari ini, mama dan papa sudah ketawa-ketawa. Semalam, mereka berangkat untuk menenangkan diri dan berlibur di Pekan Baru, kampung halaman papa. Mau berkurban di sana katanya.
Perjanjian di awal, seluruh uang yang sudah dibayarkan bisa dikembalikan jika satu dan lain hal mama dan papa saya tidak jadi berangkat naik haji. Apalagi, ini murni kesalahan mereka…*awas aja kalo enggak*
Ada banyakkkkk banget yang saya gatel dan nyinyir untuk nulis semua. Maksudnya, biar kalian berhati-hati jika kelak memilih travel dan yayasan untuk berangkat haji.
Nanti…
Saya akan tuliskan lengkap, nama ibu dan bapak haji pemilik yayasan dan tavel yang gak beres ini. Lengkap sama fotonya.
Saya gak takut. Saya cuma ingin gak ada lagi yang ketipu mulut manis tuh ibu dan bapak haji…Yaelahhh, mereka bahkan dateng ke rumah dan ngebujuk mama dan papa saya untuk berangkat haji tahun ini donnnn.
Selebihnya….
Saya biarkan dulu mama dan papa saya berlibur dan menenangkan hatinya…
Masya Allah, kok ya tega bener ya, mbak?? MAsa untuk urusan ibadah masih diakali untuk ngambil untung… Pun dapet duit juga gak akan barokah tuh…
ini nulisnya sambil nangis lo. Marah tapi sedihhhhh gituh…
Batal berangkat tahun ini bukan berarti tidak jadi sama sekali kan Yes..
Masih ada tahun depan, yang siapa tahu tidak hanya Papa Mama saja yang berangkat, tapi juga Yessy…. Waw.. Betapa indahnya jika momen itu benar-benar terjadi..
Ok, soal haji memang masalah agama, dan itu sepenuhnya merupakan bentuk kepatuhan kita pada perintah Allah, tapi urusan travel, itu sepenuhnya urusan bisnis duniawi, dan itu harus diselesaikan atas hukum yang berlaku di dunia..
So, aku setuju dengan Yessy untuk meminta pertanggungjawaban si pemilik travel. Tapi, tentu dengan cara yang bijak. Sebab, api jika disiram minyak, tidak akan padam, malah bertambah besar dan membakar yang lainnya..
Iya uda, terimakasih atas semuanya, ya
Terima kasih juga Yessy sudah menceritakan ini kepada kita semua. Dengan demikian, kita bisa lebih berhati-hati dalam memilih biro travel haji..
Aku rasa predikat Haji atau Hajjah tidak selalu mencerminkan kebaikan pemiliknya. Tidak ada yang sempurna selain Tuhan. Tidak di agama Islam, agama Kristen.Katolik….selama berhubungan dengan manusia, ada saja yang menggunakan “jabatan/status” untuk kepentingan diri sendiri. Biarlah mereka menanggung dosa nya sendiri.
Aku rasa kamu tidak perlu malu kok. Bukankah agama Islam selalu mengatakan, Insya Allah? Peluk Yessy…. dan semoga Yessy bisa memeluk mama papa dan meyakinkan mereka bahwa tidak perlu malu. Tentu saja masalah uang harus diselesaikan, tapi ingat saja…. Insya Allah akan ada jalan lain, di tahun tahun mendatang. Ya Yess….
Aku setuju mbak.
Tidak perlu malu, sesungguhnya aku juga tidak malu. Tapi beban atas pertanyaan tetangga, pandangan mereka, atau apalah itu, sesungguhnya mengganggu. Itulah makanya mama papa pergi berlibur ke Riau, Pekan Baru.
Aku suka komentarmu, mbak. Insya Allah itu terdengar lebih bijak dari pada sekedar mengatakan belum panggilan Allah…
*glek*
Semoga kedepan lebih baik mbak, akan ada hikmah disetiap masalah
tapi ya kalo gak jadi gitu padahal udah lunas kok ya tetep gonduk atinya >.<
weh mbak…iya mbak tahun ini bnyak kejadian seperti ini
Prihatin banget ya….
Trimakasih sdh menuliskannya, agar menjadi perhatian buat siapa yg membacanya…
huaaaaaaa…ikutan esmosi bacanya!
tega bener itu orang2 yg mau ambil keuntungan dari orang yang niat ibadahnya tulus.
menyebalkan pasti ya yess…
sabar2 ya sayang, titip salam buat mama papa…semoga tahun depan jalan mereka lebih mudah
*peluk2 yessy*
sedih sekali membacanya.. semoga orang tuanya dapat berangkat haji kembali dengan pelayanan yang lebih baik.