Aku benci Jakarta malam.
Coraknya gembira. Dengan lampu-lampu mobil serta hiasan gedung yang indah dan genit berkerlap-kerlip. Sungguh tak sepadan dengan perasaan ku yang gundah dan marah.
Harusnya kita bertemu di sini. Malam ini. Detik ini.
Aku tak sabar menunggu malam ini. Seperti janjimu, yang akan menjadikan malam ini malam terindah seumur hidupku.
Seperti katamu, yang dengan bodoh dan naifnya ku percaya begitu saja.
“Tunggu aku di sana. Aku akan datang dan kita akan bergembira.”
Katamu.
Senyummu selalu menawan. Berpadu dengan aroma kayu dan rempah manis. Selalu memancing aku untuk menghamburkan diri memelukmu.
Aku hanya ingat tersenyum kala itu.
Sejenak sebelum kamu lagi-lagi lumat bibirku. Brutal. Liar. Yang sungguh aku nikmati betul. Bagaimana tidak? Bibir penuh itu gemar sekali bermain-main dan menjelajahi setiap jengkal tubuhku. Iya. Setiap jengkalnya. Sebut saja, bibir penuh itu pernah berada di sana…dengan lidahnya yang lincah..Uh!
“Memangnya mau apa malam besok?’
Tanyaku lirih. Separuh beratnya dengan konsentrasi yang terganggu karena asik menikmati setiap gerakanmu. Ciuman-ciuman lembutmu di leher, sentuhan-sentuhan ringan tanganmu saat sopir taksi sibuk menyetir, dan kita mencuri-curi kesempatan di belakang. kancing bajuku entah sudah terbuka beberapa.
“Lihat saja nanti…pokoknya kamu pasti suka…Aku jamin…”
Jawabmu sambil terengah akibat ulahku yang sibuk di pangkuanmu.
Dan ketika Taksi berhenti. Kita sibuk merapikan baju yang berantakan, aku geli menyaksikanmu dengan resleting yang belum lagi tertutup sempurna. Rambut ku yang kusut. Dan kita terbirit-birit menuju kamar hotel yang sudah disewa jauh hari hanya untuk menuntaskan nafsu kita yang masih tanggung.
Ya…
Harusnya aku menunggu saja malam ini.
Tidak perlu sok kreatif datang menjemputmu di kantor. Menunggumu. Dan akhirnya tak sabar masuk ke ruanganmu saat sekertaris mu sudah pulang…
Harusnya aku menunggu saja malam ini.
Tak perlu sok-sok memberikan kejutan manis di kantormu dengan berdandan cantik serta mengenakan laces thong seksi di balik rok ketat yang aku kira menjadikan kejutan manis untukmu.
Alih-alih memberikanmu kejutan. Justru aku yang terkejut.
Pintu ruanganmu sedemikian mudah aku buka.
Dan pemandangan selanjutnya, sesungguhnya ingin ku tak percaya.
Kamu, dengan wajah penuh nafsumu yang kuhapal betul. Sibuk dengan seorang wanita setengah baya yang sepertinya menikmati sekali setiap gerakan maju mundurmu…
Perempuan setengah baya itu merintih. Seragam cleaning servicenya sudah terbuka. Bra lusuhnya juga sudah tidak berletak di tempat yang semestinya. Belum celananya…Astaga…Celana dalamnya?!?!?
Edan. Yang beginian juga kamu doyan???
Sial.
Apa kamu gak bisa cari yang lain? Selain wanita setengah baya yang sudah peyot, dan aku tak bisa bayangkan aroma tubuhnya.
Entah siapa yang kamu jadikan selingan. Aku? Dia?
Najis.
Harusnya aku memang menunggu saja tadi.
Harusnya aku tahu, apa yang akan terjadi di malam yang katamu tak akan aku lupakan seumur hidupku.
Setidaknya, aku kan jadi gak penasaran begini…

penasaran mau tahu yang selingan itu siapa? hihihi
glek..
selingkuh sama petugas cleaning service
waahhhh kerens
mampir ke blog gw yaaa