Dear Tangguh.
Kelak jika abang baca surat ini. Bunna mau abang tau.
Bunna baru saja menutup telepon. Iya, baru saja bunna menelpon ke rumah. Entah untuk yang keberapa kalinya. Bunna sampai lupa. Bunna menelpon karena terlalu kuatir abang kenapa-kenapa.
Semalam, kita berdua tidak bisa tidur, bang.
Abang batuk tidak berhenti. Dan bunna hanya bisa menemani terjaga di samping abang.
Kita sudah ke dokter. Tapi obat juga butuh proses, kan? Tidak mungkin sekali minum batuk abang yang jahat itu pergi…
Jam empat subuh, abang mengigil. Bunna lekas kasih abang obat demam, lantas bunna peluk abang.
Siapapun dia, jika dalam keadaan terdesak, dia hanya akan bergantung kepada kekuatan doa dan semoga. Iya, termasuk bunna, nak…
Maka bunna berdoa dengan segala upaya. Bunna tahu ini cuma batuk. Tapi bagaimana batuk bisa sejahat itu mendera abang hingga tak bisa tidur? Bunna tau abang letih, bunna tahu abang capek…sabar, ya…
Lepas adzan subuh. Abang bisa tertidur. tapi ketika pagi bunna harus berangkat ke kantor dan mencium abang sambil berlinang karena perasaan bersalah. Abang terbangun. Bodoh ya, bunna? Bikin abang jadi terjaga.
Maaf, bunna gak bisa kebanyakan libur. Bunna sedang banyak yang harus diselesaikan, lagi pula culture di perusahaan bunna yang sekarang tida semudah itu mengerti hal-hal begini.
Bukan, bukan karena Tangguh tak penting. Tangguh itu segalanya. Tau? Segalanya.
Hari ini bunna titipkan Tangguh pada Tuhan dan bi Tun di rumah. Baik-baik ya, nak…Cepat sembuh…
Perempuan itu tidak harus selalu cengeng dan sedih. Ia boleh mengeluh, tapi jangan gaduh.
Jika serupa air mata bisa menjadi doa. Taukah kau nak, sudah berapa kali dia mengering? Berlinang untaian untukmu…
