
Seorang perempuan mengetik Blackberrynya kepada seorang teman.
“Hari ini pulang tenggo yuk, boleh?’
Ping!
Terdengar suara melenting di ujung pojok sebelah sana. Tak berapa lama kemudian, pesan pun berbalas.
“Kapan siy gue pernah bilang enggak sama lo?”
Si perempuan bernama Cesa. Lajang di usia matang, yang kemudian berteman akrab dengan koleganya di kantor bernama Bryan. Bree, nama panggilannya.
Bree sendiri juga masih melajang. Semua teman-teman di kantor kerap mengolok-olok mereka sebenarnya berkencan, namun tak pernah mengakuinya. Padahal mereka tidak pernah benar-benar berkencan. Okey, mereka mungkin sering nonton bareng, sering ngopi-ngopi santai, atau sekedar menikmati nasi goreng kambing di jalan Sabang. Sun pipi? Biasalah. Lebih dari itu? Tidak.
Cesa terlalu gengsi untuk menjalin hubungan dengan kolega di kantor. Nyari jodoh kok di kantor. Nyari duit tuh baru bener. Itu selalu yang ada dalam pikirannya. Sementara Bree. Womanizer yang kerap berkencan kesana dan kemari, tanpa pernah mau terikat dengan bunga manapun.
“Kita masuk toll ya, biar cepet.” Seru Bree di tengah lamunan suntuk dan letih selepas jam kantor.
Dengan sigap cesa mengambil uang untuk membayar tollnya dan menyerahkannya kepada Bree.
“Apaan siy lo? Gua belum kayak orang susah kali sampe minta dibayarin toll sama lo.”
“Yaelah norak banget. Lo gengsi dibayarin toll sama gue?’
Ketika akhirnya Tucson putih itu menepi di loket. Cesa dengan sigap melepas seat beltnya, dan merangkak di atas paha Bree, merunduk dan cepat membayar uang tol kepada sang petugas.
Bree yang tidak siap dengan gerak cepat Cesa, seperti tak bisa bernafas sebentar. Tak bisa dipungkiri bahwa Bree sedikit terganggu dengan tubuh sintal Cesa yang tepat berada di depan matanya, dengan separuh badannya bertumpu pada paha sebelah kanannya.
Okey…Tarik nafas dalam-dalam Bree, gak lucu kalo Cesa tau lo bergairah cuma karena insiden bayar tol mendadak begini. Bree berkata dalam hati.
Selesai membayar, Cessa kembali ke pososi semua dan memasang kembali seatbeltnya. Mukanya tak merasa bersalah sama sekali…
“Kenapa lo?” Tanya Cesa dengan lirikan ciri khasnya yang sinis.
“Gak papa.”
Cesa, membuang pandangannya ke jalan tol yang ramai lancar. Beruntung, tol Jorr menuru rumahnya tidak begitu padat. Dibandingkan dengan tol arus balik di sebelahnya misalnya.
Bree menangkap sedikit gundah pada wajah Cesa yang unik. Cesa, perempuan yang tidak pernah berhenti bicara. Tangannya yang bergerak-gerak. Kemudian mengganti posisi duduknya. Sebentar-sebentar dia akan memainkan rambutnya. Kemudian dengan santay menyentuh lawan bicaranya.
Tertawanya lepas. Bicaranya lugas. Dia akan bicara apa yang ada di otaknya. Bersiaplah untuk sakit hati jika kita baru mengenalnya. Lidahnya cukup tajam untuk sesuatu yang dia katakan. Tapi dia juga tidak sungkan memuji atau berkata manis untuk sesuatu hal yang dia rasakan.
Cesa, perempuan mandiri yang juga bisa manja di saat yang bersamaan. Dia bisa membuat pria merasa dibutuhkan tanpa perlu merasa bergantung kepada pria manapun. Cesa…singkatnya, bukan perempuan yang bisa kamu lewatkan begitu saja. Dia menggoda, sayangnya dia terlalu sombong untuk mau gue goda. Sialan.
“Lo mikirin apaan siy, Bree? Jangan bilang lo ngelamun jorok ya!’
“Setan!Apa harus selalu senegatif itu pikiran lo sama gue?’
Cesa tergelak. Rok mininya semakin terangkat ketika tubuhnya berguncang karena tertawa.
“Lo tuh yang kayak orang galau. Kenapa? Ditinggal pacar lagi? Emang udah laku? Perasaan lo forever jomblo.”
“Anjrit! Gue jomblo juga high quality! Emang situ! Murahan…badak dibedakin aja lo doyan…”
Gue tertawa miris. Cesa tertawa puas. Rasanya menyenangkan bisa membuat dia riang kembali. Entahlah. Gue gak pernah tau apakah gue punya perasaan lain sama dia selain teman. Yang gue tau, gue gak pernah suka liat dia muram atau sedih. Persis seperti beberapa bulan lalu, ketika dia diputusin Leo, pacarnya yang anak pejabat jaman orde baru. Pengen gue gebukin rasanya.
“Bree…Kalo gue resign lo bakal kangen gue, gak?’
Tanya cesa tiba-tiba.
“Lo mau kemana? Jangan bilang lo akhirnya mau ke perusahaan client lo itu. Emang mereka sanggup bayar lo berapa?”
“Pertanyaan bukan itu, Nyet. Gue tanya, kalo gue resign, lo bakal kangen gue, gak?’
“Ces! Yang kangen lahhhhh. Siapa lagi yang bakal nebeng gue pulang??? Siapa lagi cewek muka mesum yang bisa gue cela-cela di kantor??? Siapa juga cewek yang kepedean pake rok super pendek, dan sepatu gladiator buat meeting sama client???”
Cesa tertawa terbahak.
Gue ikut tertawa. Separuh geli. Separuh khawatir. Gue takut gak siap untuk gak ketemu dia setiap hari.
“Offernya tempting. Gak mungkin gue gak ambil. Plus gue rasa gue udah harus move on. Gua gak mau kelamaan cuma jadi staff senior, gue butuh karier, Bree…’
“Lo udah pikirin? Yakin?”
“Yakin…”
“Perkapan?”
“Akhir bulan ini terakhir…”
Bree terdiam. Hanya nafasnya yang terdengar memburu satu-satu.
Di sebelahnya Cesa tak kalah terlihat khawatir. Antara gamang dan bimbang. Cesa pun tak benar-benar yakin dengan apa yang dia ambil.Dia hanya tau kalau dia tak mungkin selamanya dekat dengan Bree. Lelaki yang tak pernah punya cinta, sementara benih-benih itu mulai tumbuh subur di hatinya.
Bree…
Bersama Bree, cesa merasa tak perlu menjadi orang lain. Bebas mengungkapkan apa yang ingin dia bicarakan. Gak perlu jaim. Intinya dia merasa benar-benar utuh menjadi diri sendiri.
Sayangnya, Bree seperti tak pernah bisa melihatnya selain teman akrab dan nongkrong. Cesa pun tak pernah bisa menebar kode-kode seperti perempuan lainnya.
Ketika yang lain memuji wajahnya yang sensual, Bree bilang mukanya mesum.
Ketika yang lain bilang kulitnya mulus, Bree bilang kulitnya gak punya bulu. Gersang.
Ketika yang lain bilang rambut panjangnya keren dan indah, Bree bilang rambutnya gak karuan. Sebelas dua belas sama sundel bolong.
Bree…Pria ini biasa saja. Cuma cara dia bisa menerima gue apa adanya, itu yang bikin gue merasa spesial…
“Ces. Kalo entar lo pergi, gue di kantor sama siapa?’
“Sama Boss bule lo yang gendut dan galak itu dong…”
Bree diam. Cessa diam.
Jalan pulang itu terasa makin panjang…
Malam hari di kamar Bree.
Blackberry berbunyi. Dari Cessa.
“Besok gue gak masuk. Lo gak usah nungguin gue ditempat biasa.”
Bree malas membalas. Alih-alih mengetik, Bree menekan tombol nomer telepon Cessa.
“Kenapa lo gak masuk?”
“Males, udah mau resign ini…”
“Dasar!”
Klik…telepon ditutup.
Telepon berbunyi lagi. Kali Cessa yang menelponnya.
“Kok ditutup siy???”
“Lo bilang males, ya gue juga males dengerin lo.”
“Idihh!”
“Lo tuh yang idih!”
“Bree…”
“Apa???”
“Jangan galak-galak!”
“…”
“Bree?”
“Hmm?”
“Besok ngedate yuk? Nonton gituh…tapi beneran ngedate, bukan kayak yang biasa…”
“Eh…maksud, lo?”
“Iya, ngedate, kayak yang biasa lo lakukan sama cewek-cewek lo itu. Kita nonton, pegangan tangan, ciuman…yuk?’
“Bwuahuahuahuahuahu!!!”
“Kok lo ketawa siy? Gue kalah cantik emang sama cewek-cewek lo itu?”
“Wakakakakakakakakakakkkk!!!”
Klik.
Telepon ditutup.
Cesa menutup teleponnya, dan mematikannya.
Malam ini, Cessa terlelap dalam linangan air mata. Lebaynya…
Paginya…
Cessa terbangun ketika jam wekernya menunjukkan pukul enam. Sialan, semalam dia lupa mematikan alarm, padahal hari ini dia tidak bekerja. Hufff….
Turun dari tempat tidur, menyalakan handset yang semalam dia matikan.
Dan pesan bertubi-tubi memasuki handsetnya. Dari Bree…
Cessa membacanya. Seketika tawanya lepas dengan berurai air mata.
Begini isi pesannya.
Cessa. Kalo lo inget, gue adalah cowok yang melongo pertama kali ketika melihat sosok lo di kantor ini. Gue, junior lo yang susah payah menahan ego untuk gak flirting sama lo. Cewek judes dengan muka mesum yang selalu pake rok kependekan.
Lantas ketika gue dekat sama lo, dan semakin dekat. Banyak hal yang makin bikin gue sebel. Tapi lebih banyak lagi hal yang bikin gue suka…dan em…tertarik sama lo.
Jadi kalo boleh. Gue gak mau cuma ngedate aja sama lo….Ijikankan gue untuk jadi laki-laki yang bisa menemani elo. Gue gak mau jadi pelindung lo, karena lo kayaknya lebih jago berantem dari gue.
Gue gak mau jadi imam atau pemimpin lo, karena gue juga gak tau apa lu suka dipimpin atau ditunjuk.
Gue cuma mau jadi pasangan lo yang menemani lo makan, kencan, atau marah-marah gak jelas, atau ya…kalo lo kepikiran kawin. Gue temenin deh ke KUA. Iya…gue jadi suami lo…Kalo boleh.
Sekarang…buka pintu dong. Gue udah dari jam 4 subuh nungguin di depan pager rumah lo. Kalah deh antri sembako…
Cessa bergegas berlari keluar. Dan segera menghambur ke Tucson putih yang parkir dengan manisnya.
Bree terlelap. Cessa mengetuk jendela.
“Hai…”
“Jadi ini tampang lo sebelum mandi?”
Cessa tergelak, dan memainkan rambutnya yang berantakan.
“Jadi…kita…?”
“Jadi kita pacaran, gituh maksud lo?”
Cessa kembali tergelak.
“Emang kenapa kalo gue sama lo pacaran?”
“Gak tau…”
“Tuh dia, makanya karena gak tau, ya cari tau aja dulu.Perkara yang lain belakangan. Ribet amat.”
Cessa mengangguk tersenyum. Iya juga ya, ngapain repot. Kalo gue sama elo pacaran..yah at least jadi gak penasaran, kan?
Err….Kayaknya hari ini gak cuma Cessa yang bolos ke kantor :p