Have I Told You Lately That I Love You.

“What time you will know that your boyfriend is the one? You know, the one that you will spent your lifetime with?”

Kemarin, seorang anak baru di kantor saya memberikan saya pertanyaan itu. Di dalam perjalanan pulang, di mobilnya yang ia kemudi.

Saya lantas memasang muka aneh, tersenyum. Lantas menjawab.

“You just know. That simple.”

Teman saya yang ceriwis dan baru akan menginjak usia 22 di tahun ini lantas kembali bertanya.

“How???”

Saya kembali mengangkat bahu. Memasang muka geli, lantas kemudian berkata.

“Sekarang kamu ngerasa cinta gak sama pacarmu?”

“Baru putus, setelah pacaran 4 tahun. Yup, four f*cking years.”

Jawabnya, dalam nada kesal.

Oh…pantes…

Baiklah.

“Honestly, i can’t answer that question, darl. You just knew it…”

“Mencintai, bukan karena kamu semata menyukai matanya, bibirnya, atau segala hal yang indah tentangnya…”

“Mencintai, bukan karena  semata kamu menyukainya. Merindukannya. Tak sanggup melepaskannya.”

“Terlebih lagi bukan karena kayaknya dia bakal jadi papa yang asik buat anak-anak kamu. Atau kamu pikir kamu takkan sanggup jika tak bersamanya, karena percayalah, akan ada masa di mana dia tidak akan semenarik itu…”

“Tapi mencintai, karena ternyata kamu pikir kamu akan bisa bersama dengannya dalam waktu yang lama. Karena kamu dan dia akan saling berusaha, saling mengupayakan, dan saling menjaga. Kata saling, adalah kuncinnya…”

“Mau saling intropeksi atas kesalahan yang kerap dilakukan, mau saling memaafkan saat marahan, mau saling mendengarkan jika hati panas dan emosi sedang labil…”

Teman saya, mulai memandang saya dengan gamang di sela kemacetan mampang, untungnya lampu merah.

“Mencintai, semacam terus mengenalnya dengan cara yang baru dan berbeda. Karena akan ada hal yang selalu kamu ingin tau. Yang ingin kamu temukan. Yang akan kamu adaptasi kembali.”

“Mencintai adalah tentang saling selalu berusaha memikat hati pasangan, dengan cara apapapun. Dan kalian, tidak akan berhenti.”

“Okey…now i get it”

“Good.”

“Now i dont feel miserable anymore because of my stupid broke up. Wanna know why?”

Saya mengangguk.

“Cos it was always me who is trying. I was the one who try to get to Jakarta, just because i wanna get closer to him. I was the one who always say i love you before we hang up the phone, and he just always  say like…ehemmm…Oh f*ck. It was always me. “

Saya mengelus bahunya.

“You just open my eyes, Yess…Thanks!”

Saya tersenyum. Tak lama kemudian saya kembali menoleh padanya.

“And don’t get bored to say i love you. Just dont. Always…and i mean, always. Say it.”

Teman saya hanya mengangguk sambil tersenyum.

 

 

 

 

So, Have i told you lately, that i love you?

I love you. Yes…You, Yah.

We’ve Only Just Begun.

We’ve only just begun to live
White lace and promises
A kiss for luck and we’re on our way
We’ve only just begun

Before the rising sun we fly
So many roads to choose
We start our walking
And learn to run
And yes! We’ve only just begun

(*) Sharin’ horizons that are new to us
Watchin’ the sings along the way
Talkin’ it over just the two of us
Workin’ together day to day, together

(**) And when the evening comes we smile
So much of life ahead
We’ll find a place where there’s room to grow
And yes! We’ve only just begun

Saya mengenal lagu ini ketika Sabtu kemarin mbak Shasha memamerkan karyanya diiringi lagu tersebut. Entahlah, apa mungkin  lagunya yang mellow mendayu-dayu, atau mungkin memang karyanya mbak Shasa yang menakjubkan. Saya sempat berkaca-kaca.

Kemudian ketika saya mencari lagu tersebut di You tube. Saya kembali seperti sedang jatuh cinta.

We’ve only just begun.

Tidak ada hubungannya dengan saya yang sedang memulai hal baru. Tidak begitu.

Tapi saya rasa lagu ini mewakili semua perasaan orang yang memiliki pasangan…entah itu baru atau sudah lama…Rasa-rasanya tidak ada yang salah dengan judul lagu dan segala lirik dan isinya…

We’ve only just begun.

Ada saya dan suami saya yang baru enam tahun, beserta cemburu-cemburu yang perlu dan tidak perlu.

We’ve only just begun.

Ada teman saya dan pasangannya yang baru saja jadian minggu ini…Penuh rindu walau baru sedetik tak bertemu.

We’ve only just begun.

Dan semua kekasih-kekasih dalam pengharapan yang mendalam. Dengan cinta baru dan mimpi-mimpi yang bersemayam di dini hari.

Cinta. kita memang baru memulainya.

Untuknya, kita akan berusaha.

Kenapa?

Karena cinta itu mempertahankan, bukan membiarkan. -Adi Ismail.

 

 

Katanya, ini hari valentine. Saya siy gak perduli. Jadi, Selamat hari Selasa teman-teman :)

Cinta, Sekali Lagi.

 

Pablo Neruda

Sonnet XVII (100 Love Sonnets, 1960)

I don’t love you as if you were the salt-rose, topaz
or arrow of carnations that propagate fire:
I love you as certain dark things are loved,
secretly, between the shadow and the soul.
I love you as the plant that doesn’t bloom and carries
hidden within itself the light of those flowers,
and thanks to your love, darkly in my body
lives the dense fragrance that rises from the earth.
I love you without knowing how, or when, or from where,
I love you simply, without problems or pride:
I love you in this way because I don’t know any other way of loving
but this, in which there is no I or you,
so intimate that your hand upon my chest is my hand,
so intimate that when I fall asleep it is your eyes that close.
________________________________________
Puisi Pablo Neruda di atas selalu bisa membuat saya meleleh, atau setidaknya merasa “nyess”. Entah kenapa.

Cinta memang seharusnya begitu. Menyentuh kita tanpa harus ada kenapa dan bagaimana, juga tidak dengan maksud dan tujuan tertentu.
Cinta ya cinta saja, dengan asa dan harap-harap yang abu-abu.

Dan tiba-tiba kamu merasa jatuh cinta lagi. Itu mungkin saja. Tidak ada yang tidak mungkin untuk cinta yang datang setelah cinta yang lain.
Pertanyaan kemudian datang kepada pilihan…cinta yang mana yang kamu pilih.
Cinta, tetaplah cinta dengan asa.
Kepada cinta, saya merasa selalu sanggup untuk tersipu…

Cinta itu jujur.
Sejujur luka yang menganga jika dia terluka.
Cinta itu cerah.
Seindah rindu yang menjalar dan masuk di relung-relung.
Cinta itu kita.
Kamu, aku…dalam sebuah cerita.

Jadi, bagaimana kisah cintamu?

 

Penampilan, Kemasan.

Saya gak pernah suka dinilai dari penampilan dan tampang. Bukan, bukan begitu. Kalo di kalangan yang saya kenal dan saya dalami, percayalah, style saya biasa saja. Tapi di kalangan orang yang gak tau…mm…susah juga jadinya.

Karena suami pergi, tidak ada yang mengantar dan jemput lagi. Syukurlah, saya punya teman tebengan yang cuma harus saya capai dengan membayar ojek lima ribu rupiah setiap paginya.

Permasalahan di mulai ketika saya harus dianter ojek. Perjalanan yang cuma makan waktu dua tiga menit itu berasa neraka rasanya. Mata mereka gak lepas memandang saya.

Begini niy gaya saya kalo ke kantor, eksis dikit boleh, ya. *ngedipin mata sebelah*

 

Kalo udah begini, saya jadi ingat jaman dulu lihat ekspresi mertua lihat gaya saya berpakaian :)

Dulu banget. Saya pernah memproklamirkan diri saya, kalau saya akan jadi mertua paling asik yang bakal ada di muka bumi. Woh, seru bener, Yess  :p

Gegaranya saya dendam. Iya, saya gak suka dinilai cuma karena baju dan dandanan saya.

Saya udah ngebayangin, kalo nanti calon menantu saya pakaiannya gak asik, bakal saya make over. Kalo dia bajunya seru-seru sesuai dengan trend masa kini, ya gak papa, boleh aja.

Tapi itu dulu…Sekarang?

Emm…

Mungkin karena saya sudah tua, ya…Saya melihat anak-anak alay sekarang lebay banget pake bajunya.

Usia baru tiga belasan udah tanktopan dan celana pendek kemana-mana. Terus rambutnya juga, ekstension semuaaaaa. Apa lagi itu, anu…gaya-gaya sok korea. Dan yang paling bikin saya sebel…lensa mata.

Ada yang biru, ungu, abu-abu…Hadeh…

Mending cakep, neng…*ketawa jahat*

Tambah jelek iya. Udahlah dekil, baju kebuka. Kalo saya emaknya, bakal saya gosok dulu tuh daki baru boleh pake baju pendek-pendek. Belum lagi yang dadanya belum tumbuh…situ pikir okey ya pake baju kebuka dengan dada rata? Enggak kalik.

Dan yang bikin sebel Tattoo. Iya, tattoo.

Saya pemuja dan pecinta tattoo. Tapi kalo yang make anak umur enam belas tahun, lha…yang ada pengen saya tabok orangnya. Kayak ngerti aja, emang dia yakin aja kalo lima tahun ke depan dia masih menginginkan tattoo itu?

Terus apa lagi kelakuan anak alay jaman sekarang? Sejuta deh :)

Nongkrong di seven eleven. Eh hallo…kerenan nongkrong di Langsat, ada obsat.

Udah, udah saya ngomelnya :)

Ternyata memang sulit untuk tidak menilai orang dari penampilan. Sulit sekali. Selama saya ada di kalangan teman-teman saya dan pekerjaan saya. Bagi saya aman saja menggunakan baju yang saya sukai. Tapi di luar itu? Nanti dulu…

Sekarang, saya cuma ingin bisa lebih dewasa menyikapi dan menilai orang dari penampilan. Dunia saya tidak semuanya glamour dan mahal. Beberapa di antaranya ada yang sederhana dan biasa saja.

Menyesuaikan. Mungkin itu yang paling benar…

Nah, semoga anak-anak alay itu juga sadar. Kalo penampilan mereka lebih terlihat ribet dari pada keren. Buat yang suka make mini-mini. Gak usah dulu lah…nanti aja kalo dewasa. Kayak saya misalnya…:p

Kalo Gue sama Elo Pacaran.

 

Seorang perempuan mengetik Blackberrynya kepada seorang teman.

“Hari ini pulang tenggo yuk, boleh?’

Ping!

Terdengar suara melenting di ujung pojok sebelah sana. Tak berapa lama kemudian, pesan pun berbalas.

“Kapan siy gue pernah bilang enggak sama lo?”

Si perempuan bernama Cesa. Lajang di usia matang, yang kemudian berteman akrab dengan koleganya di kantor bernama Bryan. Bree, nama panggilannya.

Bree sendiri juga masih melajang. Semua teman-teman di kantor kerap mengolok-olok mereka sebenarnya berkencan, namun tak pernah mengakuinya. Padahal mereka tidak pernah benar-benar berkencan. Okey, mereka mungkin sering nonton bareng, sering ngopi-ngopi santai, atau sekedar menikmati nasi goreng kambing di jalan Sabang. Sun pipi? Biasalah. Lebih dari itu? Tidak.

Cesa terlalu gengsi untuk menjalin hubungan dengan kolega di kantor. Nyari jodoh kok di kantor. Nyari duit tuh baru bener. Itu selalu yang ada dalam pikirannya. Sementara Bree. Womanizer yang kerap berkencan kesana dan kemari, tanpa pernah mau terikat dengan bunga manapun.

“Kita masuk toll ya, biar cepet.” Seru Bree di tengah lamunan suntuk dan letih selepas jam kantor.

Dengan sigap cesa mengambil uang untuk membayar tollnya dan menyerahkannya kepada Bree.

“Apaan siy lo? Gua belum kayak orang susah kali sampe minta dibayarin toll sama lo.”

“Yaelah norak banget. Lo gengsi dibayarin toll sama gue?’

Ketika akhirnya Tucson putih itu menepi di loket. Cesa dengan sigap melepas seat beltnya, dan merangkak di atas paha Bree, merunduk dan cepat membayar uang tol kepada sang petugas.

Bree yang tidak siap dengan gerak cepat Cesa, seperti tak bisa bernafas sebentar. Tak bisa dipungkiri bahwa Bree sedikit terganggu dengan tubuh sintal Cesa yang tepat berada di depan matanya, dengan separuh badannya bertumpu pada paha sebelah kanannya.

Okey…Tarik nafas dalam-dalam Bree, gak lucu kalo Cesa tau lo bergairah cuma karena insiden bayar tol mendadak begini. Bree berkata dalam hati.

Selesai membayar, Cessa kembali ke pososi semua dan memasang kembali seatbeltnya. Mukanya tak merasa bersalah sama sekali…

“Kenapa lo?” Tanya Cesa dengan lirikan ciri khasnya yang sinis.

“Gak papa.”

Cesa, membuang pandangannya ke jalan tol yang ramai lancar. Beruntung, tol Jorr menuru rumahnya tidak begitu padat. Dibandingkan dengan tol arus balik di sebelahnya misalnya.

Bree menangkap sedikit gundah pada wajah Cesa yang unik. Cesa, perempuan yang tidak pernah berhenti bicara. Tangannya yang bergerak-gerak. Kemudian mengganti posisi duduknya. Sebentar-sebentar dia akan memainkan rambutnya. Kemudian dengan santay menyentuh lawan bicaranya.

Tertawanya lepas. Bicaranya lugas. Dia akan bicara apa yang ada di otaknya. Bersiaplah untuk sakit hati jika kita baru mengenalnya. Lidahnya cukup tajam untuk sesuatu yang dia katakan. Tapi dia juga tidak sungkan memuji atau berkata manis untuk sesuatu hal yang dia rasakan.

Cesa, perempuan mandiri yang juga bisa manja di saat yang bersamaan. Dia bisa membuat pria merasa dibutuhkan tanpa perlu merasa bergantung kepada pria manapun. Cesa…singkatnya, bukan perempuan yang bisa kamu lewatkan begitu saja. Dia menggoda, sayangnya dia terlalu sombong untuk mau gue goda. Sialan.

“Lo mikirin apaan siy, Bree? Jangan bilang lo ngelamun jorok ya!’

“Setan!Apa harus selalu senegatif itu pikiran lo sama gue?’

Cesa tergelak. Rok mininya semakin terangkat ketika tubuhnya berguncang karena tertawa.

“Lo tuh yang kayak orang galau. Kenapa? Ditinggal pacar lagi? Emang udah laku? Perasaan lo forever jomblo.”

“Anjrit! Gue jomblo juga high quality! Emang situ! Murahan…badak dibedakin aja lo doyan…”

Gue tertawa miris. Cesa tertawa puas. Rasanya menyenangkan bisa membuat dia riang kembali. Entahlah. Gue gak pernah tau apakah gue punya perasaan lain sama dia selain teman. Yang gue tau, gue gak pernah suka liat dia muram atau sedih. Persis seperti beberapa bulan lalu, ketika dia diputusin Leo, pacarnya yang anak pejabat jaman orde baru. Pengen gue gebukin rasanya.

“Bree…Kalo gue resign lo bakal kangen gue, gak?’

Tanya cesa tiba-tiba.

“Lo mau kemana? Jangan bilang lo akhirnya mau ke perusahaan client lo itu. Emang mereka sanggup bayar lo berapa?”

“Pertanyaan bukan itu, Nyet. Gue tanya, kalo gue resign, lo bakal kangen gue, gak?’

“Ces! Yang kangen lahhhhh. Siapa lagi yang bakal nebeng gue pulang??? Siapa lagi cewek muka mesum yang bisa gue cela-cela di kantor??? Siapa juga cewek yang kepedean pake rok super pendek, dan sepatu gladiator buat meeting sama client???”

Cesa tertawa terbahak.

Gue ikut tertawa. Separuh geli. Separuh khawatir. Gue takut gak siap untuk gak ketemu dia setiap hari.

“Offernya tempting. Gak mungkin gue gak ambil. Plus gue rasa gue udah harus move on. Gua gak mau kelamaan cuma jadi staff senior, gue butuh karier, Bree…’

“Lo udah pikirin? Yakin?”

“Yakin…”

“Perkapan?”

“Akhir bulan ini terakhir…”

Bree terdiam. Hanya nafasnya yang terdengar memburu satu-satu.

Di sebelahnya Cesa tak kalah terlihat khawatir. Antara gamang dan bimbang. Cesa pun tak benar-benar yakin dengan apa yang dia ambil.Dia hanya tau kalau dia tak mungkin selamanya dekat dengan Bree. Lelaki yang tak pernah punya cinta, sementara benih-benih itu mulai tumbuh subur di hatinya.

Bree…

Bersama Bree, cesa merasa tak perlu menjadi orang lain. Bebas mengungkapkan apa yang ingin dia bicarakan. Gak perlu jaim. Intinya dia merasa benar-benar utuh menjadi diri sendiri.

Sayangnya, Bree seperti tak pernah bisa melihatnya selain teman akrab dan nongkrong. Cesa pun tak pernah bisa menebar kode-kode seperti perempuan lainnya.

Ketika yang lain memuji wajahnya yang sensual, Bree bilang mukanya mesum.

Ketika yang lain bilang kulitnya mulus, Bree bilang kulitnya gak punya bulu. Gersang.

Ketika yang lain bilang rambut panjangnya keren dan indah, Bree bilang rambutnya gak karuan. Sebelas dua belas sama sundel bolong.

Bree…Pria ini biasa saja. Cuma cara dia bisa menerima gue apa adanya, itu yang bikin gue merasa spesial…

“Ces. Kalo entar lo pergi, gue di kantor sama siapa?’

“Sama Boss bule lo yang gendut dan galak itu dong…”

Bree diam. Cessa diam.

Jalan pulang itu terasa makin panjang…

Malam hari di kamar Bree.

Blackberry berbunyi. Dari Cessa.

“Besok gue gak masuk. Lo gak usah nungguin gue ditempat biasa.”

Bree malas membalas. Alih-alih mengetik, Bree menekan tombol nomer telepon Cessa.

“Kenapa lo gak masuk?”

“Males, udah mau resign ini…”

“Dasar!”

Klik…telepon ditutup.

Telepon berbunyi lagi. Kali Cessa yang menelponnya.

“Kok ditutup siy???”

“Lo bilang males, ya gue juga males dengerin lo.”

“Idihh!”

“Lo tuh yang idih!”

“Bree…”

“Apa???”

“Jangan galak-galak!”

“…”

“Bree?”

“Hmm?”

“Besok ngedate yuk? Nonton gituh…tapi beneran ngedate, bukan kayak yang biasa…”

“Eh…maksud, lo?”

“Iya, ngedate, kayak yang biasa lo lakukan sama cewek-cewek lo itu. Kita nonton, pegangan tangan, ciuman…yuk?’

“Bwuahuahuahuahuahu!!!”

“Kok lo ketawa siy? Gue kalah cantik emang sama cewek-cewek lo itu?”

“Wakakakakakakakakakakkkk!!!”

Klik.

Telepon ditutup.

Cesa menutup teleponnya, dan mematikannya.

Malam ini, Cessa terlelap dalam linangan air mata. Lebaynya…

Paginya…

Cessa terbangun ketika jam wekernya menunjukkan pukul enam. Sialan, semalam dia lupa mematikan alarm, padahal hari ini dia tidak bekerja. Hufff….

Turun dari tempat tidur, menyalakan handset yang semalam dia matikan.

Dan pesan bertubi-tubi memasuki handsetnya. Dari Bree…

Cessa membacanya. Seketika tawanya lepas dengan berurai air mata.

Begini isi pesannya.

 

Cessa. Kalo lo inget, gue adalah cowok yang melongo pertama kali ketika melihat sosok lo di kantor ini. Gue, junior lo yang susah payah menahan ego untuk gak flirting sama lo. Cewek judes dengan muka mesum yang selalu pake rok kependekan.

Lantas ketika gue dekat sama lo, dan semakin dekat. Banyak hal yang makin bikin gue sebel. Tapi lebih banyak lagi hal yang bikin gue suka…dan em…tertarik sama lo.

Jadi kalo boleh. Gue gak mau cuma ngedate aja sama lo….Ijikankan gue untuk jadi laki-laki yang bisa menemani elo. Gue gak mau jadi pelindung lo, karena lo kayaknya lebih jago berantem dari gue.

Gue gak mau jadi imam atau pemimpin lo, karena gue juga gak tau apa lu suka dipimpin atau ditunjuk.

Gue cuma mau jadi pasangan lo yang menemani lo makan, kencan, atau marah-marah gak jelas, atau ya…kalo lo kepikiran kawin. Gue temenin deh ke KUA. Iya…gue jadi suami lo…Kalo boleh.

Sekarang…buka pintu dong. Gue udah dari jam 4 subuh nungguin di depan pager rumah lo. Kalah deh antri sembako…

Cessa bergegas berlari keluar. Dan segera menghambur ke Tucson putih yang parkir dengan manisnya.

 

Bree terlelap. Cessa mengetuk jendela.

“Hai…”

“Jadi ini tampang lo sebelum mandi?”

Cessa tergelak, dan memainkan rambutnya yang berantakan.

 

“Jadi…kita…?”

“Jadi kita pacaran, gituh maksud lo?”

 

Cessa kembali tergelak.

 

“Emang kenapa kalo gue sama lo pacaran?”

“Gak tau…”

“Tuh dia, makanya karena gak tau, ya cari tau aja dulu.Perkara yang lain belakangan. Ribet amat.”

Cessa mengangguk tersenyum. Iya juga ya, ngapain repot. Kalo gue sama elo pacaran..yah at least jadi gak penasaran, kan? ;)

 

 

 

 

Err….Kayaknya hari ini gak cuma Cessa yang bolos ke kantor :p

Mengeja Rindu.

 

 

Aku merindukanmu dalam setiap kedipan mata. Dan jeda di antaranya kugunakan untuk mendoakanmu.

 

Aku tak ingin mengeja cinta dengan terbata-bata. Akan ku kukatakan dengan lugas, sehingga aku boleh memagut bibirmu dengan puas.

 

Aku ingin merabamu dalam satu kata. Bagaimana jika Jauh? Persis seperti gaduh-gaduh rindu yang sibuk mengeluh.