Kita pernah saling mencintai dengan sangat. Hingga tatapan mata iri selalu kita dapati di manapun kita berada. Bahas tubuh kita, segala usapan dan belaian yang kita berikan kepada masing-masing, dan juga sikap kita yang katanya seperti menjelaskan segalanya.
Kita, seperti payung dan hujan. Seperti telepon genggam dan charger, seperti bersama. Bukan sebab akibat dan muncul nanti. Kita adalah itu. Kebersamaan. Mungkin.
Entahlah, aku sendiri sudah agak lupa. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku menelpon mu.
Mungkin dua minggu lalu, mungkin tiga minggu…Lupa. Persis seperti segala tentangmu yang tak ingin ku ingat.
When will I see you again?
You left with no goodbye,
Not a single word was said,
No final kiss to seal any scene,
I had no idea of the state we were in,I know I have a fickle heart and a bitterness,
And a wandering eye, and heaviness in my head,
”Kamu kenapa siy?!”
“Kamu tuh yang kenapa!”
“Emang salah ku apa?!”
“Salahmu semua! Semua yang kamu lakukan ke aku salah! Kamu larang aku terus, kamu membatasi pergaulanku! Sementara kamu ketemu sama temanmu, peluk-pelukan sama cewek di tempat umum! Kamu pikir aku gak punya hati!”
“Itu udah resiko, kamu kan tau apa pekerjaanku…”
Dan kamupun duduk lemah di pojokan sofa ruang tengah kita. Sementara aku, masih berang dengan tangis usang yang terus berderai.
Aku lupa di mana ada pengertian itu.
Aku lupa, apa alasan dulu aku mau menerima pinanganmu.
Aku lupa kenapa dulu kita bahkan bisa begitu mengerti akan masing-masing dan sekarang menjadi super sensitif.
Bahkan ketika aku pergi untuk sekedar mencari ketenangan, aku kira kamu pun akan berdiam dan menggunakan masa tenang ini. Untuk kembali menemukan rasa itu. Menemukan kembali hubungan kita…
But don’t you remember?
Don’t you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,When was the last time you thought of me?
Or have you completely erased me from your memory?
I often think about where I went wrong,
The more I do, the less I know,
Aku pulang dengan keadaan rumah berantakan. Debu yang tebal di meja, botol-botol bir bertebaran, dan segala yang kotor dan tak bersih.
Aku menyapu lantai dengan kalut. Aku pikir kita akan saling merindukan dengan ketiadaan ini. Tapi…Selembar kertas yang ditempel di kulkas mengatakan semuanya…
Sebaiknya kita berpisah. Aku gak tau kapan kamu pulang. Aku juga gak tau apakah kamu masih mencintaiku atau tidak. Aku gak punya kesabaran untuk menanyakan kepastian itu. Pengacaraku akan menghubungimu. Aku gak mungkin terus mencemburuimu, dan kamu gak mungkin terus-terusan menahan keliaranku. Ini bukan cuma pekerjaanku. Ini cuma aku. Kamu yang tidak pernah mengerti.Begitu saja. Segala kita dan kenangan indah yang manis. Segala yang sempurna dan tanpa cela. Lenyap, kau hapus.
But don’t you remember?
Don’t you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,Gave you the space so you could breathe,
I kept my distance so you would be free,
And hoped that you’d find the missing piece,
To bring you back to me,Why don’t you remember?
Don’t you remember?
The reason you loved me before,
Baby, please remember me once more,When will I see you again?

Time flies ada yang berubah,,, kamu, aku, mungkin kita…
Ahh,, mbak Yessy,,, ini ngena banget
tadi ketemu tulisan ini di ngerumpi, ternyata ada di blog juga. Salam kenal Mbak