Sebut saja nama perempuan ini Loly. Perempuan cantik, matang, mapan, lajang.
Hari ini dia datang berkunjung ke seorang temannya dengan muka gundah dan rokok filter putih yang tak kunjung putus dari bibir penuhnya yang merekah merah.
Sebelum duduk, dia sibuk mengatur rambut. Kembali melirik gadgetnya yang 2 biji, dan kemudian baru tersenyum dan menyorongkan pipinya ke seorang perempuan yang duduk di kafe itu 30 menit lebih dahulu.
Pelayanan datang, pesanan sudah disebut, dan kemudian percakapan siap dimulai.
“I dont like him. I hate him!.”
Perempuan yang sedari tadi menunggunya hanya tersenyum, dan menyesap kopinya pelan-pelan, sembari menunggu cerita berlanjut dan mengalir.
“Lelaki itu selalu begitu. Dia akan jatuh cinta dengan wanita yang bisa dia ajak berlari bersama, memenuhi dan melengkapinya, bisa dia ajak berdiskusi, sex dan ngobrol seru, berantem, baikan, ciuman. Tapi lantas tetap memilih perempuan lugu nurut yang cenderung dungu untuk dinikahi!”
There…
Semburan pertama untuk pertemuan sore di Jakarta gerimis yang galau maksimal.
“Kenapa harus jadi lelaki? Bukannya wanita juga akan melakukan hal yang sama? Bercinta liar dengan lelaki badung, bertualang dengan sosok sombong, tapi tetap akan menikah dengan lelaki mapan, tampan yang sudah harus naik tempat tidur jam 9 malam.”
“Lantas di mana bedanya?”
Kata si perempuan yang satu, dengan sabar, teruntai lancar begitu saja dari bibirnya yang tipis dan berbalut warna coklat pekat, dengan pupuran bedak dan rias mata gelap, tajam, seperti siap untuk menelanjangimu dalam.
“Beda dong. Perempuan mungkin streotypenya begitu, tapi pada dasarnya perempuan itu yang dipilih, bukan yang memilih. Biasanya yang datang melamar itu bukan si pria badung dan petualang, melainkan bujang anak mama yang selalu minta diurus segala kebutuhannya. Beda-kan?”
Si perempuan yang satu terdiam. Separuh setuju, separuh lagi ingin lebih mendengarkan penjelasan sahabatnya.
“So what happen with your guy?”
Kali ini si sahabat meletkannya cangkit lattenya. Mengatur sepan hitam yang melekat ketat di tubuhnya, dan duduk menyilangkan kaki dengan anggun. Siap mendengarkan.
“You know we’ve been dating for about 5 years. I know him since he was nothing. Now he is like the most wanted bachelor. And you do know that it is all becasue of me. I mean, seriously…he was nothing when came to me, then i made him my partner in my law firm.”
“Terus?”
“Well, instead of nikahin gue, dia malah mutusin gue dan nikah sama anak umur 23 tahun yang baru aja lulus kuliah! Gue gituh? Dibandingin sama anak ingusan itu? Ouw come on! Tell me one thing that i dont have?”
“Young age?”
Dan dia diam. Dia, si wanita tangguh yang baru saja memuntahkan isi hatinya mulai membisu dengan ujung mata yang mulai basah.
Si sahabat yang satu mendekat ke sebelahnya, mengelus-elus punggungnya…”there, there…everything will be just fine…”
“Lelaki selalu bisa memilih, sementara kita? Apa kabar?”
“Lelaki bisa memilih, kita juga bisa. Jika dia tidak memilihmu, mungkin dia memang bukan milikmu. Iya kan?”
“I hate when you always right…”
“I hate when you cry because of a man…”
“Tapi kenapa harus sama dia? Ketika gue pikir semuanya udah fine, semuanya udah okey. I feel him, and he feel me. And that’s it? He just think that i dont deserve to be his wife?”
Si sahabat mengangkat bahunya.
Kopi pesanannya sudah dingin, dan senja pun melipir menuju malam dengan bulan yang sedikit muram.
***
Hidup ini permainan, terkadang, kita tidak bermain dengan orang yang suka kita ajak bermain. Tapi dengan orang yang kita yakin seorang lawan yang bisa kita kalahkan.
Mungkin begitu juga dengan pernikahan, kita gak selalu mencari yang cocok dan sanggup membawa kesenangan. Tapi yang akan kelak bertahan, dan mau berpegangan. Bagaimana?

begitulah Yess kalo sdh pernikahan masing2 cari aman, oh ya mungkin laki2 itu irresistable tapi pas udah kawin kita merasa insecure terus-terusan, dimana enaknya?
lalu, si cowok gak ngasih penjelasan gitu kenapa putusin dia?
setuju, kelak yang mau bertahan dan berpegangan…..