Ulang Tahun dan Kesedihan.

*Sangat disarankan membaca yang ini dan yang ini dulu. Maksudnya biar ngerti gituh gimana saya bisa menulis sekasar ini…*

Segala hal yang menyangkut pembelian rumah ini sesungguhnya bangsat.

Iya, sebangsat itulah saya ingin memaki kepada manusa-manusia tak tau diri yang sekarang ini sedang berhadapan dengan saya, dalam urusan jual beli rumah ini. Semua ahli waris yang menyebalkan, bodoh, rakus, dan sepertinya menantang saya.

Saya sudah ada di tahap ingin menyerah saja.

Saya ingin menyerah untuk membeli rumah ini, tidak ingin melihat wajah mereka lagi, dan kalo boleh. Saya ingin bakar rumah itu. Sungguh. Saya gak jadi beli rumah. Mereka juga kehilangan rumah mereka. Adil.

Saya letih menceritakan segalanya. Capek. Antara mereka yang keblinger bodohnya, atau saya yang memang tidak cukup sabar. Siapa yang cukup sabar? Siapa?

1. Mereka sampai sekarang belum mau menandatangani persyaratan tanda tangan yang dibutuhkan untuk KPR. (Pada akhirnya saya dapat pinjaman lain tidak dalam bentuk KPR, dengan bunga lebih tinggi, tapi persyaratan lebih mudah.)

2. Dari awal rumah ini ingin di jual, sampai detik ini, butuh waktu hampir 3 bulan untuk mereka cuma sekedar tanda tangan. Itupun mereka mengatur saya agak baru bisa keluar dari rumah itu habis lebaran.

3. Rumah tersebut sejatinya akan langsung saja renovasi. Diuruk, dicat, dibetulkan kamar mandinya. Dan rencananya saya akan menyewa tenaga salah seorang seorang ahli waris yang jujur dan sejak awal mau bekerja sama dengan saya. Sampai kemudian ahli waris yang lain, yang kalo boleh udah saya panggang hidup-hidup tuh orang ikutan minta kerjaan, dari pada nganggur. There…singkat kemudian saya bilang. “Rumah itu gak jadi saya renov, kayaknya mau saya diemin dulu aja.”

Dari pada harus bayar orang yang bikin sakit hati beberapa bulan ini? Sungguh. Antara gak punya muka dan gak punya penis, tuh manusia keterlaluan gak tau dirinya.

Saya marah. Lebih dari itu saya kecewa.

Yang bikin ruwet, mama saya selalu membela mereka.

Iya mereka orang susah, kita harus kasian.

Iya mereka orang bodoh, butuh pengertian.

Iya mereka lemah, kita yang punya uang yang kuat.

Coba tolong telaah kalimat terakhir yang bikin saya membara.

Saya, yang punya uang. Tapi kenapa mereka malah membodoh-bodohin saya dan sepertinya menepuk dada sambil ngomong

“Nih gue, kalo gak ada tanda tangan gue, lo gak bisa beli ni rumah!”

Rasanya saya ingin memutar film masa lalu, masa di mana awal pertama kali saya bisa berurusan dengan keluarga ini.

Film dimana harusnya, kalau mereka berpikir, sesungguhnya mereka akan malu. Malu…dan malu.

Tapi ya. Mungkin yang sekarang ini sudah bukan lagi mereka yang dulu. Aneh. apanya yang berubah, ya?

Tidak ada yang berubah selain dari fisik mereka keliatan lebih tua, dan dari ekonomi mereka jauh lebih miskin dan susah.

Huft…

Saya sedang marah dan kecewa kepada semuanya. Termasuk mama. Seandainya dari dulu mama mau menuruti kata saya, mungkin saya tidak akan sejauh ini murkanya kepada orang-orang itu. Mama terlalu banyak bicara yang tidak perlu. Terlalu banyak komentar yang gak penting, yang ujung-ujungnya maksudnya mengangkat mereka untuk berbaik hati mempermudah proses penjualan. Tapi hasilnya tidak begitu. Mereka semakin congkak. Semakin angkuh. Semakin merasa dibutuhkan.

Kemarin. Mama saya ulang tahun.

Hanya ucapan yang bisa saya berikan. Segala uang, sudah dibayarkan untuk kebutuhan rumah ini. Itulah kenapa saya ingin menggunakan KPR, supaya punya cicilan santay, masih punya uang nganggur di rekening, dan masih gemah ripah foya-foya.

Tapi apa lacur.

Rencana tinggal rencana. Sekarang semua uang konsentrasinya ke rumah itu. sudah di DP 3/4. Sisanya tinggal 1/4 pembayaran lagi, rumah tersebut lunas, jadi milik saya.

Di antara kemarahan. saya sedih. September lalu saya masih bisa makan besar di restaurant mahal (dalam ukuran saya) untuk merayakan ulang tahun papa, juga memberikannya kado.

Kali ini, cuma ucapan yang saya bisa ucapkan untuk mama.

Selamat ulang tahun ya ma. Maaf yessy gak bisa beli apa-apa buat kado mama. Uang yessy bener-bener abis buat rumah ini. Nanti ada rejeki lagi, kadonya nyusul ya, ma.”

Sms terkirim.

Tidak berapa lama kemudian. Sebuah sms dari mama.

“Anak-anakku sehat semua, itu sudah kado terindah buat mama.”

Dan sekarang, saya banjir air mata…

About these ads

3 pemikiran pada “Ulang Tahun dan Kesedihan.

  1. Selamat ulang tahun untuk mamanya Yessy ya…
    dan sms mama itulah yang paling penting

    masih hidup
    masih sehat
    masih bisa berjumpa

    dan itu tak bisa kuucapkan utk mamaku yang Sabtu besok (sebetulnya) berusia 74 (kalau dia masih hidup). Sehat-sehat ya yess… ngga boleh sakit, krn nanti akan butuh duit lagi ;)

    hugs

  2. Saya hanya bisa berharap …
    Semoga urusannya cepat kelar ya Yes …
    dan tidak ada lagi masalah …

    Dan satu lagi …
    Selamat Ulang Tahun untuk Mamanya Yessy
    Semoga sehat dan berbahagia selalu

    salam saya

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s