You dont know what you want, seriously.
Kata lelaki yang saat ini masih membakar rokoknya. Menghisapnya dalam-dalam, dan membuang abu rokoknya sembarang.
Aku cuma mau kamu memilih. Aku, atau dia…Segampang itu saja.
Kataku, sembari bersungut. Menyanggul rambutku yang terurai sekenanya. Membiarkan segala baju tidurku yang tipis dan menerawang hingga ke dada. Cuek. Aku sudah tak tahan dibuat lelaki ini.
Dia datang padaku untuk segala yang katanya dia tak pernah dapatkan dari pasangannya. Dia puaskan segala nafsu dan birahinya, denganku. Kelak dia katakan, tak ada partner terbaik di tempat tidur selain aku. Hanya aku. Cuma aku.
Lelaki ini tampan untuk pria umur setengah baya. Lebih empat puluh, belum lagi menginjak lima puluh.
Dia direktur perusahaan besar, juga nilai plus yang tentunya aku suka. Hey, hari gini naksir juga bukan cuma perkara tampang dan hati. Seberapa dalam isi kocekmu? Aku perlu tahu itu.
“Aku milikmu. Apa itu belum cukup?”
Katamu. Kali ini kau memelukku dari belakang, berbisik di tengkukku. Aroma tembakau yang baru saja kau bakar bercampur dengan Aigner yang entah kapan semprotkan. Aku suka menghirupnya dalam-dalam.
“Aku ingin memilikimu tanpa berbagi.”
Begitu kataku. Sebelum akhirnya kau bawa aku kembali ke tempat tidur, kau cumbui aku, kau sentuh aku di tempat-tempat yang aku suka, dengan cara lembut yang kau tau pasti aku nikmati.”
“Kita sudah nikmat begini. Kita bisa nikmati ini selamanya. Dan aku akan tetap memenuhi segala keinginanmu…”
Uh…
Bahkan di saat kau sedang di atasku, memasuki tubuhku pelan dan kencang secara bergantian, kau tetap mau menang sendiri.
Sialannya, aku tak sanggup menolak ini. segala kesal dan nikmat menjadi satu, membuatku mengumpat dalam satu lenguhan kepuasan panjang.
Dan kita melalui malam itu seperti biasa.
Bercakap-cakap dengan segelas wine, berciuman, bercumbu, dan bergumul di tempat tidur hingga subuh tersuruk pagi.
“Kau tak akan mencintaiku jika kau memiliki ku utuh. Jika aku harus memilihmu dan menceraikan istriku, aku hanya akan menjadi gembel tanpa sedikitpun harta yang bisa kau pinta. istriku, adalah pemilik harta yang selama ini kau anggap aku miliki. Tanpanya, aku bukan siapa-siapa.”
Itu katamu semalam. Sebelum akhirnya aku kembali hanyut dalam lumatan bibirmu, serta sensual sentuhanmu yang kau lakukan sembari mengguncangku di tempat tidur.
Sialan, aku salah pilih orang yang memeliharaku…
