Aqidah.

“Emang bisa? “

Kata saya dengan mata melotot, mulut menganga, belum lagi ekspresi aneh yang ikut serta menambah lebay segalanya,

“Ya diusahakan…”

Jawab teman saya.

 

 

Kami sama-sama riang dan genit. Memiliki selera baju yang sama. Ketat. Pendek. Terbuka. Bedanya saya lebih suka warna, teman saya itu hanya suka hitam dan abu-abu.

Sebagian orang benci melihatnya. Sebagian besar lagi tentu saja suka. Banyak yang munafik, merasa risih melihat kami. Kami cuma mengenakan baju yang kami suka. Gak suka, ya jangan liat. Setuju?

Suatu ketika teman saya ini tetiba saja dekat dengan seorang pria. Pria tersebut tampan. Hidungnya bangir, matanya tajam, alisnya tebal. Cuma satu yang saya gak begitu suka…Celananya. Cingkrang.

Entahlah, katanya itu celana 7/8. Celana yang sengaja dipakai para sufi-sufi supaya tidak terkena najis, dan tidak membatalkan sholat.

Sahabat saya sepertinya menyukai lelaki itu. Saya sebagai teman dekatnya, tentu saja ikut bahagia melihat dia bahagia.

She found someone.

Efeknya tentu saja saya dan dia menjadi jarang bertemu. Saya sibuk dengan dunia saya. Dia pun demikian.

Sampai akhirnya kemudian saya dapati dia dengan penampilan terbarunya.

Perubahan, adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia ini. Hal itu saya amini. Tapi saya tidak mengharapkan perubahan sedrastis ini dari dia. Sahabat saya.

“Since when?”

Tanya saya.

“Baru sebulan kok, dear”

Jawabnya riang, sembari membetulkan sejumlah peniti yang melekat di hijabnya yang hitam, lebar, panjang ke belakang.

“Kemauan lo? Atau paksaan?”

Teman saya itu tersenyum.

“Gue lagi belajar aqidah, Yess…”

“Maksudnya?”

“Nanti gue kasih bukunya ke elo, ya. Bukan, gue gak maksa lo ikutan jilbaban juga, cuma kalo lo mau belajar aqidah, gak salah juga, kan?”

Saya diam.

“Jilbab itu wajib, Yes. Harus. Jadi gak ada alasan merasa terpaksa atau sudah panggilan. Tau kan hukumnya wajib?”

Tanya dia lagi.

Saya mengangguk.

“Nah, ya udah. Wajib itu, dikerjakan mendapat pahalan, ditinggalkan berdosa.”

Ketika saya kembali ingin berkata-kata dia sudah bicara…”Lo mungkin mau bilang jilbabin aja hati lo, baru fisiklo, gituh? Duh Yess…Hijab ini menjaga kita. Dengan hijab ini, kita jadi malu kalo mau buat dosa. Beneran, deh.”

Jawab teman saya itu sembari tersenyum.

Sementara saya, menyesapkan kata-kata demi kata yang dia ucapkan siang ini lambar-lambat.

Seperti bukan dia.

saya…masih belum terbiasa.

 

 

Well, if it’s good to her, than its good. Gudlak, sist…

About these ads

2 pemikiran pada “Aqidah.

  1. biarkan saja setiap orang dengan pandangannya masing-masing. Dan aku lebih suka yessy yang ini! I love you just the way you are! Meskipun kamu berubah, aku tahu pemikiran kamu yang asli gimana kan ;)

  2. “Sesungguhnya Allah menyukai oranag-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang suci diri” (Al Bakarah:222)
    “Suci itu separuh dari iman”
    Alhamduliah, aku benar suka dengan tulisan kamu Yessy(Adakah nama yang sebenar). Memang benar dengan tulisan dikira berkarya dapat kita meluaskan fikiran kita di kesenambung ini kita sentiasa peka dan tidak lalai dengan tanggung jawab dan FIQAH WANITA. Allahualam. Wasalam

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s