Rok Mini. Lagi.

Lagi, saya membaca sebuah tulisan opini tentang rok mini. Intinya si rok mini itu disalahkan lagi.

Saya sebenarnya males menjawab. Toh hal ini gak akan selesai, terus berputar di antara salah dan benar. Kelak, bukan salah dan benar lagi yang dipermasalahkan, melainkan siapa yang menang debat, dan siapa yang kalah pendapat. Merasa tak jago urusan seperti itu, baiknya saya pergi saja.

Tapi tidak, tulisan tersebut terpampang angkuh di sebuah forum yang sudah saya anggap rumah sendiri. Di ngerumpi.com

Ini tulisannya:

http://ngerumpi.com/baca/2012/05/29/rok-mini-dimata-lelaki.html

Kemudian, dikarenakan saya gemas, saya memposting sebuah tulisan bagus dari Okke sepatu merah. Linknya ada di blog beliau: http://blog.sepatumerah.net/2012/02/salah-saya-salah-pakaian-say/

 

Sampai di sini perasaan saya bercampur antara gemas dan marah.

Bukannya kenapa-kenapa. Saya, yang notabene suka rok mini. Bingung dengan pendapat kalian-kalian yang begitu membenci. Sampai sebegitu kreatifnya gak mau disalahkan kalau terjadi pelecehan, digodain. Toh kita bisa merasa terganggu dengan asap rokok di tempat umum, boleh juga dong merasa terganggu dengan keberadaan rok mini di keramaian?

Keren bener.

Entah keren entah keblinger. Saya udah gak begitu paham.

Tapi begini saja. Ternyata susah, ya? Hanya memakai baju yang kita suka, dengan gaya dan selera yang kita pilih, tanpa ada tanggung jawab dan beban norma di belakangnya. Susah ya? Cuma mau pakai rok mini tanpa perlu dicap perempuan murahan, gak bener, dan mengumbar aurat. Edan…Saya keki banget, deh :)

Kalau yang katanya mengumbar nafsu itu mengganggu. Apa kabar pakaian yang mengganggu nafsu yang lain? Misalnya, orang lusuh dengan baju kumal beraroma tak sedap. Itu juga menimbulkan nafsu, kan? Nafsu mau marah misalnya. Udah asik-asik tampil kece, eh ini orang sebelah kok bau badan siy. Sial bener.

Bisa gak siy kita samakan saja kasusnya begitu?

Saya bersyukur, saya ada di lingkungan yang menghargai perempuan, yang kalaupun mungkin mereka tetap menikmati rok mini dan kaki tersebut, mereka ini masih bisa behave dan wajar. Perdebatan rok mini dan penggunanya sering kali melebar dan meluas, kemana-mana, sudah gak begitu penting lagi dibahas.

Apa lagi kalau udah dibawa ke agama, dosa dan sebagainya. Ampun, saya angkat tangan,

Tapi begini saja. Pemikiran kita mungkin berbeda dan tidak sepaham, tapi tentang rok mini. Kenapa siy gak kita anggap fashion aja? Kelak dia akan berlalu digantikan trend rok panjang, atau mungkin sarung lebar. Semudah itu saja, kan?

Seorang teman menjawab dengan keren perihal rok mini ini. Saya langsung kutip saja komentarnya, ya…

Setau saya, ide tentang kebebasan memakai rok mini itu lahir dari konsep kedaulatan tubuh. Dimana orang bebas untuk berbuat apa saja terhadap tubuhnya. Dan orang lain tidak diperkenankan untuk melanggar kedaulatan tersebut.

Namun, perlu juga dipertimbangkan bahwa konsep tersebut tidak lahir di ruang hampa. Ia lahir sebagai teks dari konteks budaya tertentu. Budaya yang disebut sebagai individualisme. Dimana manusia diharapkan hidup berdasarkan pilihan-pilihannya sendiri dan selama tidak merugikan orang lain dalam arti menghambat kebebasan orang lain secara fisik, maka apa saja dibenarkan.

Ketika konsep kedaulatan tubuh diperkenalkan dan dikampanyekan di konteks budaya yang berbeda, yaitu kolektivisme, maka ia mendapat tantangan hebat. Ini gejala sosial yang lumrah.

Budaya kolektivisme menekankan harmoni dan kepedulian sosial, bukan pilihan pribadi. Kebebasan pribadi bukan menjadi nilai utama. Kebebasan pribadi harus tunduk di bawah keselarasan sosial. Pilihan tetap dihargai asal tidak mengguncang harmoni sosial.

Sebaliknya individualisme menghendaki dunia sosial memiliki aturan yang menjamin kebebasan pribadi.

Jadi ya wajar aja sih pro kontra soal ini. Nyatanya negeri ini memang berbudaya kolektif kok.

 

Ah, keren banget siy komentarnya, dan saya setuju banget sama teman saya itu…:)

About these ads

12 pemikiran pada “Rok Mini. Lagi.

  1. Aku malah jadi inget tulisannya Djenar masalah Mo Ral, Kak.
    Sometimes, when we live in such complexity. Beberapa orang yang tidak memiliki “suara”, akhirnya cenderung disalahkan. Namun, tidak berarti yang punya “suara” jga benar.

    Suka juga sama komentarnya Ayah. :D

  2. Rok mini masih temuan yang relatif baru bahkan di dunia barat sekali pun. Belum 100 tahun yang lalu wanita Amerika dan Eropa masih memakai rok panjang berlapis-lapis, dan di Jawa masih pakai kain jarik panjang. Jadi perlu waktu agar bisa diterima semua kalangan tanpa pro kontra yang berarti. Mohon sabar ya, baik yang pakai maupun yang menonton harus sa…bar.

  3. Jujur nih …
    saya pribadi …
    terlepas dari apapun pakaian apa yang membungkusnya …
    Lebih “tergugah” … (dan … maaf … menjadi mempunyai fikiran yang tidak-tidak ) kalau melihat perilaku tertentu …

    Walaupun memakai … rok panjang misalnya … tetapi kalau tingkah lakunya lenje-menje … “mengundang” ya … jadilah “mengundang”

    So … once again … ini kalau saya lho …

    Salam saya

  4. ah aku ngga peduli orang mau pake apa… ngga akan tergoda, meskipun si cewe telanjang juga hahahha :**soalnya aku bukan lesb*ng sih heheheh***
    Tapi, gue malah iri mrk yang bisa pakai mini. Sepanjang tidak kasih liat CD (atau ngga pake CD) sih aku OK-ok aja hehehhe. BUT sekali lagi harus disesuaikan dgn tempat juga. Kalau ke gereja pakai rok mini ya kok keterlaluan ya :)

  5. Personally sih menurut gw rok mini (bukan rok mikro ya!) ok2 aja asal dipake dengan benar (pas jalan gayanya ga skanky) plus ga dipake ditempat2 yang ga seharusnya (rumah ibadah, kampung pedalaman atau penjara pria, misalnya) :)

    Maklum aja, kita tinggal di negara yang masyarakatnya banyak yang jauh dari dewasa (bukan dewasa secara umur yaaa….). Jadi yaaa..mikirnya gitu deh.. *sigh*, dan mannernya ngaco. Peradabannya belom nyampe kali.

    ‘Boys’ will be ‘boys’ anyway. Mereka (yang masih berpikiran sempit dan one-sided seperti itu) bukan gentleman atau Pria. Di arab aja yang pake burka banyak diperkosa anyway, di Iran, hak2 wanita ditekan (punya KTP aja susah), diIndo, banyak pria yang ingin punya istri lebih dari 1 menyalahgunakan agama (Islam) sebagai alasan nikah lagi. Jadi mereka demi membela diri, menggunakan berbagai cara untuk memperkuat alibi mereka (menyalahkan perempuan). Sabaarrr…. :)

  6. Eh anda muslim bukan?Kalo anda muslim tentu tau bhwa memamerkan aurat adlah dosa bsar.Knpa dosa?Krna memamerkan aurat akn mndtngkan sifat iblis bgi yg mlhatnya.Tp kalo anda kafir/yahudi ya terserah,krna orang kafir dan yahudi hnya d beri knikmtan dunia saja!!!!

  7. kalo wanita memilih bebas berbusana, atau bahkan memilih bebas dengan tanpa busana berarti kami para lelaki juga bebas dong menikmati pemandangan yang diperlihatkan kalian (wanita).
    jadi, kalian (wanita) yang pake busana terbuka jangan marah kalo kami para lelaki menikmati pemandangan paha atau payudara kalian.
    inilah kebebasan. kalian bebas, kami juga bebas. :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s