Dear Tangguh.
Hai bang, lagi apa?
Di saat bunna tulis surat ini, mungkin abang sedang di sekolah dianterin bi Tun. Eh hari ini ada testing, ya?
Ah tenang aja, abang kan pinter, pasti bisa. Kalopun abang nanti gak bisa, kita belajar lagi di rumah ya, nak?
Bang, saat bunna tulis surat ini, abang mungkin baru akan bisa membacanya entah kapan. Entahlah, sampai abang mulai mengenal blog bunna ini nanti. iya, nanti.
Bang, abang tau kan bunna suka pake celana pendek kalo kita pergi? Abang juga tahu bunna suka pake baju tidur tipis menerawang di kamar, yang kata abang jadi bikin badan bunna berbayang-bayang. Iya, yang kalo abis pake baju itu bunna jadi dobelin sama jubah tidur. Iyalah, gak mungkin bunna pake baju kayak gitu keluar-keluar kamar, hehe.
Itu semata karena bunna suka. Lain bukan. Tidak ada hubungannya dengan baik atau benar. Toh abang tau sendiri, baju apa yang bunna kenakan kalau kita silaturahmi kerumah nenek, pergi ke mall, atau cuma sekedar makan di restaurant pantai kesukaan abang itu.
Bunna cuma mau abang kelak mengerti. Abang mesti bisa menghargai perempuan nanti. Kenapa? Karena bunna juga perempuan. Dan perempuanlah yang melahirkan abang.
Perempuan itu unik bang. Jika abang nanti menegur di hari yang salah, mungkin moodnya sedang kacau, abang bisa kena semprot. Persis seperti yang sering bunna lakukan tiap bulan “berdarah”. Abang ngerti, kan?
Bang. Bunna akan membesarkan abang dengan segala sudut pandang dan gaya. Abang bisa belajar mengaji yang baik dari ayah. Bisa mendalami agama dari mbah dan nenek Karet. Dan bisa belajar bisnis ke opa dan ompung.
Nah, datanglah pada bunna jika kelak abang ingin mengerti perempuan. Jika kelak abang ingin belajar mendekati lawan jenis. Bunna akan ajarkan semua yang bunna tau dan kelak bermanfaat untuk abang.
Bang, nilailah perempuan dari cara dia memperlakukan keluarganya.
Jika dia perduli kepada keluarganya, maka dia baik.
Jika dia sayang kepada mama, papa, atau kakak dan adiknya. Dia baik.
Jika dia tidak bisa memasak, tapi dia bertanya apakah abang sudah makan. Dia baik.
Jika dia tidak bisa berdandan, tapi dia selalu tersenyum tulus yang membuat abang bergetar, dia baik.
Jika dia diam, tak banyak bicara, tapi dia pendengar setia. Dia baik.
Jika dia banyak bicara, susah untuk mendengar, dia juga baik. Ajarkan saja satu kata untuk dia pahami dan pelajari. Gantian.
Jika dia menggunakan rok mini dan abang tidak suka. Bukan berarti dia tidak baik. Kasih dia pengertian, pemahaman. Tidak ada yang bisa diselesaikan dengan komunikasi.
Jika kelak dia menyakiti abang dengan cara yang paling sakit. Bukan berarti dia tidak baik. Terkadang hidup memang membuat kita belajar dari jatuh dan sakit yang kelak membuat abang lebih kuat.
Jika ternyata suatu ketika dia seperti tidak mencintai abang lagi, abang harus merelakannya pergi. Perempuan terkadang ingin pergi sebentar lalu kembali lagi. Nah, di sini, abang akan bisa menilainya dengan pintar, pantaskan dia untuk abang terima kembali.
Bang…
Kelak bunna harap abang akan jatuh cinta dengan perempuan tangguh, yang berjuang untuk hidupnya. Yang tau apa yang dia inginkan, dan yang bersedia untuk berkorban untuk memperjuangkan mimpinya.
Semoga abang akan jatuh kepada perempuan yang hidup. Yang bukan cuma sekedar pemimpi dan putri yang ingin diselamatkan dari menara.
Semoga abang kelak akan jatuh kepada perempuan seperti itu.
Kenapa bunna katakan ini jauh hari, nak?
Karena abang akan mengalami banyak hal yang jauh lebih rumit dari pada sekedar bermain dengan ayah dan bunna. Hidup abang akan lebih beragam dari pada sekedar bermain dengan teman-teman di TK. Abang akan lihat masing-masing orang dengan pikiran dan pencitraannya. Iya, sering kali apa yang dia pikirkan akan jauh berbeda dengan apa yang dia ingin orang pikirkan tentang dirinya.
Kelak, abang mesti bisa katakan apa yang ingin abang katakan.
Speak your mind. Speak it out loud.
Hidup ini beragam, bang, bukan seragam.
Hiduplah kelak tanpa rasa takut. Karena ini cuma hidup. Dia cuma butuh dijalani.
Bersiaplah dengan rencana, dengan upaya, dan segala hal yang harus abang usahakan kelak supaya kaya.
Kayalah hati, nurani. Bukan cuma perkara kecil yang abang nilai dari pakaian seseorang.
Bukan bang. Bukan cuma sekedar yang melekat di tubuh, dan yang orang nilai dari yang dia kenakan.
Pintar-pintarlah berargumen. Tapi pilihlah lawan yang pantas. Jangan sibuk berdebat dengan orang yang sudut pandangnya sempit. Pilihlah kawan yang tepat, lawanlah musuh dengan hebat.
Bunda ingin mendidik abang dengan cerdas. Sehingga tidak perlu ada yang perlu diselesaikan dengan baku hantam yang tak pantas.
Pun jika kelak abang ingin berkelahi. Jadilah laki-laki, bertarung sendiri-sendiri.
Haha, panjang-panjang bunna menulis ini hanya karena bunna gemas dengan orang yang menilai orang cuma dari penampilan.
Bang, sedikit aja pesan bunna. Hormati masing-masing manusia. Hormati perempuan.
Hargai dia dengan pemikiran dan penampilannya. Itu cuma cara dia berkarya dan bergaya. Tidak lebih.
Abang tidak suka? Cari perempuan yang lain. Gak mungkin semua perempuan punya gaya seragam dan abang sama sekali tidak meliriknya. Ya kan?
Jika kelak abang tergoda dengan pemandangan yang abang lihat, tahan.
Tidak ada yang salah dengan mereka menggunakan sesuatu. Tidak juga salah, jika kelak abang memiliki nafsu.
Ini bukan cuma perkara salah atau benar. Bukan mana yang harus tersingkir dan menyingkir.
Lebih dari itu bang…
Kita manusia, punya akal dan nurani. Bukan binatang, Yang cuma bisa rebut hal yang dia suka dan membuat manusia lainnya terluka.
Iya, ini surat buat abang baca suatu hari.
Nanti…
Reblogged this on Penikmat Senja and commented:
Tangguh punya Ibu yang luar biasa keren. Semoga tangguh menjadi seperti yang Kak Yessy dambakan.
Senang bisa ikut mengintip pesan-pesan Yessy utk Tangguh…. Semoga Tangguh membacanya dan mengerti betapa Bundanya sangat mengasihinya dan menginginkan yang terbaik untuknya.
Surat yg menyentuh sekali mba. Tangguh akan menjadi lelaki hebat kelak karen unya Bunna sekeren mba
Bertahun-tahun saya jadi silent reader blog mbak Yessy, tapi baca postingan ini entah kenapa saya gatel pengen komen. Ini surat yang sangat kereeeeeeeen mbak. Tangguh sungguh beruntung punya Bunna sekeren mbak. Dan saya juga beruntung bisa baca surat ini
Wow, saya pertama kali berkunjung kemari, tapi saya sangat suka dengan apa yang anda tulis. Sungguh senang rasa memiliki ibu seperti anda
Reblogged this on Ordinary Journal and commented:
Surat yang menyentuh, sekaligus memberikan penggambaran tentang tipikal wanita yang disukai seorang ibu yang memiliki anak lelaki. Great!
Reblogged this on Duniaku, Celotehku and commented:
. Kebanggaan tersendiri bisa memiliki seorang ibu seperti mbak Yessy dan Tangguh pasti akan bisa setangguh Bunnanya
Andai WordPress ada ratingnya, pasti aku kasih rating megang banget
> Jika dia tidak bisa memasak, tapi dia bertanya apakah abang sudah makan. Dia baik.
> Jika dia tidak bisa berdandan, tapi dia selalu tersenyum tulus yang membuat abang bergetar, dia baik.
bangga benar abang Tangguh punya bunna yang bijaksana. Tapi abang tangguh, semua kriteria yang disebutkan bunna tadi, itu kriteria bunna banget bukan?
Kayaknya bunna cuma mau bilang sm tangguh, Bunna itu wanita yang layak dihormati dengan segala yang melekat di bunna.
hehehe
Nice, well written message Bunna!
Duh, bunna ini. Jleb banget pesennya, Tangguh pasti nurut.