Cinta Kan Membawamu.

Tiba saat mengerti
Jerit suara hati
Yang letih meski mencoba
Melabuhkan rasa yang ada

Mohon tinggal sejenak
Lupakanlah waktu
Temani air mataku, Teteskan lara
Merajut asa, Menjalin mimpi
Endapkan sepi – sepi

 

Kecupan yang kau hinggapi di bibirku sesungguhnya masih lembut terasa. Basah, menyentuh bibirku begitu saja. Hanya menyentuh, tanpa melumat, atau beserta gigitan. Dan aku menyukainya, sangat.

Cerita yang kau kisahkan malam ini sesungguhnya sama saja. Tentang dia, lelaki yang kau cintai, dan bersamamu pada suatu masa. Cerita yang menggoda, dahsyat, menggemaskan, namun pahit di ujungnya.

Bagaimana tidak? Kau kenal lelaki ini di suatu pesta. Mabuk. Seks semalam, lantas berlanjut begitu saja. Tanpa ikatan, katamu. Tanpa hati dan cinta, itu deskripsiku.

Tawamu renyah. Lepas dan keras. Seperti tiada beban. Pikiranmu lucu, sok lugu, padahal kau sering kali tau kau bermain dengan waktu yang tak ramah, yang kelak mampu meremukkanmu.

“Gue bingung sama hidup gue sendiri…”

Katamu suatu ketika.

“Kenapa?

Tanyaku, sembari membanting tubuhku ikut merebah di sebelahmu, di ranjang apartemenku, yang juga sudah seperti apartemenmu.

“Gue selalu suka sama laki orang. Selalu jatuh cinta sama yang udah punya bini. Nyebelin.”

Aku diam, namun terbahak dalam hati.

Kau selalu menyerahkan dirimu pada lelaki yang katamu dewasa. Yang katamu bisa mengerti dan memanjakanmu.

Yang bisa membiayai, lebih tepatnya.

Mana ada lelaki single yang mau mendekatimu? Kau terlalu mengerikan. Terlalu berbahaya.

Bukan…bukan karena sintal tubuhmu, lekuk dada dan pinggulmu yang menggoda. Bukan pula wajah sensualmu yang kadang bisa membuatku ejakulasi.

Tapi karena kau terlalu “tinggi” untuk diraih.

Setidaknya, itu yang aku rasakan…

“Biem…”

“Ya?”

“Kalo sampe umur 40 gue belum nikah juga. Lo mau gak jadi laki gue?”

Aku mengangguk pasti.

Belum selesai aku bicara. Kau sudah tergelak, mengacak-ngacak rambutku, mencium pipiku, lantas beranjak berdiri.

Belahan pakaiannya yang rendah membuatku bisa melihat jelas gundukan yang berada di baliknya.

Sejenak kau rapikan bajumu yang berantakan. Rokmu yang tersingkap, rambutmu yang ikal liar, dan kemudian menatapku di kasur dengan wajah dungu.

“Kenapa siy gue mesti kenal lo sekarang? Kenapa???”

Aku diam.

“Lo telat 18 tahun! Nyebelin!”

Dan wina, perempuan 38 tahun yang bau parfumnya manis seperti vanilla, yang setiap kali gerakan tubuhnya mampu menggetarkan hatiku. Keluar dari pintu apartemenku. Sebelum sedetiknya berkata.

“Gue mau ke Dubai minggu depan sama bokaplo. Kasih tau kalo mau nitip apa-apa, ya?”

Aku mengangguk lesu.

Dia, Wina…Perempuan yang ingin ku miliki, adalah perempuan simpanan ayahku.

Aku, Bima, Mahasiswa 20 tahun, yang mencintai perempuan yang menyakiti dan membuat ibuku menderita.

Dunia, ada yang bisa katakan dimana bahagianya?

Ps:

Suatu saat Wina, kau akan memilihku.

Kau mencintaiku, dan hanya kepada cinta itu, kau akan kembali.

Saat dusta mengalir
Jujurkanlah hati
Genangkan bathin jiwamu
Genangkan cinta
Seperti dulu Saat bersama
Tak ada keraguan…

Cinta’kan membawamu…
Kembali disini, Menuai rindu
Membasuh perih
Bawa serta dirimu…
Dirimu yang dulu
Mencintaiku apa adanya…

About these ads

5 pemikiran pada “Cinta Kan Membawamu.

  1. Wuih.. kompleks bener masalahnya…
    Benar-benar kisah cinta yang tak kenal logika..
    Semoga tak terjadi sungguhan ya, haha…

    Btw, itu gambar kok kayaknya gambar gay ya Yes? :)
    *kucek-kucek mata, takut salah*

  2. twist ending…. “Gue mau ke Dubai minggu depan sama bokaplo….”

    selalu menarik membaca cerita dengan akhir yang tidak saya duga sebelumnya.. Dan, gaya bertuturnya juga lancar… bagus.

    terima kasih atas ceritanya…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s