Kepada yang terhormat, bapak-bapak dan ibu-ibu yang katanya pemerintah, golongan pejabat, atau para penggede-penggede yang mengatur segala sesuatunya di negara kita yang tercinta ini.
Apa kabar kalian?
Sudah makan siang?
Sudah ngopi-ngopi?
Atau lagi ngerokok-ngerokok di cafe mahal yang harga secangkir kopinya melebihi uang belanja ibu saya seharinya?
Semoga kalian selalu dalam keadaan sehat, sejahtera, tidak bingung, tidak pusing. Karena kalau kalian bingung, pusing, stress…apa kabar jalannya negara kita ini, ya?
Para bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati.
Boleh saya bertanya?
Ada apa dengan gas elpiji 3 kg kita saat ini?
Kenapa terus meledak?
Kenapa terus menerus menebar teror dan ketakutan, bahkan ancaman kematian setiap saat?
Siapa yang salah di sini ya, pak?
Siapa yang bertanggung jawab di sini ya, bu?
Kalo pemasoknya saja sudah menolak di salahkan, lantas kami-kami ini harus mengadu kepada siapa?
Kami sudah letih menyalahkan diri kami ini sebagai orang susah. Sudah capai menyalahkan Tuhan atas rejeki yang rasanya belum cukup-cukup. Kami hanya ingin beryukur. Bersyukur atas gas elpiji subsidi, beryukur atas dana BOSS yang kami dapatkan, bersyukur atas semua kerja keras pemerintah yang katanya mampu menata pembangunan dengan suksesnya.
Bapak, ibu.
Kami tidak pernah minta makan, barang sesuap. Kami sadar, menjadi orang miskin, adalah sepenuhnya derita kami. Walaupun, kalau menurut UUD 1945, katanya fakir miskin dan anak terlantar menjadi tanggung jawab negara.
Tapi sudahlah, kami tidak mau mengeluh, pak…
Kami tidak mau terus merengek, bu…
Kami cuma mau hidup tenang, di gubuk berukuran 1 kamar ini. 8 orang anggota keluarga. Di sini kami berbagi kisah dan menyambung satu persatu nafas dan hidup kami.
Pak pemerintah, boleh saya tanya? Kenapa jalan selalu macet?
Ayah saya kerja jauh dari rumah. Setiap hari berangkat subuh…kalau saya tanya, “kenapa harus berangkat pagi-pagi, yah?”
Ayah selalu tersenyum dan menjawab…”Supaya tidak terjebak macet, nak”
Tapi setiap hari pula, ayah saya pulang larut malam. Setiap kali saya bertanya.
“Kenapa pulangnya malam sekali, yah?”
Jawaban ayah saya selalu sama…
“Ayah terjebak macet, nak…”
Macet itu siapa ya, pak?
Macet itu kenapa ya, bu?
Padahal bapak saya tiap hari pulang dan pergi naik bus. Tidak sanggup kredit motor, apalagi beli mobil. Untuk beli beras literan di warung saja, ibu saya masih sering hutang.
Terakhir bapak saya bilang. Katanya ongkos bus mau naik. Karena tarif jalan tol katanya juga akan naik.
Oh…jadi jalanan itu saja bayar, ya, pak pemerintah?
Kalau sudah bayar, berarti harusnya bisa lancar, ya kan, pak?
Tolong saya, pak, bu…
Kami ingin mengerti kesibukan kalian, kami ingin mengerti kerja keras kalian, yang katanya rapat terus menerus. Walapun kerap kali saya liat di televisi, bapak-bapak sampai terkantuk-kantuk. Ah, saya tau…mungkin bapak dan ibu begitu khidmatnya mendengar penjelasan pak ketua pemimpin sidang.
Sekarang, saya cuma mau minta tolong , pak…
Supaya gas elpiji jangan meledak lagi. Apa mungkin karena kami yang bodoh ya, pak? Jadi kami tidak bisa menggunakannya? Mungkin kami yang tidak mengerti, ya, bu? berulang-ulang gas elpiji meledak. Tapi apa kalian akan diam saja tanpa tindakan?
Sudah banyak makan sekian korban…
Sampai kapan mau tambah lagi, bu?
Saya doakan untuk bapak dan ibu pemerintah, yang akan menjalankan segala penataannya di negri ini.
Supaya bapak dan ibu semakin di berikan kesabaran oleh yang di atas. Supaya mau sabar menghadapi kami-kami ini…
Mungkin kami cuma bisa mengeluh. Tapi ini yang mampu kami lakukan saat ini. Keluhan ini adalah kristalisasi airmata dan keletihan raga dan tenaga.
Bapak dan ibu pemerintah…
Semoga selalu di berikan kekuatan. Untuk bisa memperlihatkan mana yang benar, dan mana yang salah…
Bantu kami-kami ini yang katanya tidak pernah mengerti.
Oh, kami memang tidak pernah mengerti, pak.
Kami tidak mengerti bagaimana kalian bisa dapat fasilitas mobil mewah, pada saat harga cabai di pasar saja tidak terjangkau untuk kami beli.
Kami tidak mengerti, akan gaji bulanan kalian yang terus mengalami kenaikan. Padahal, di saat yang bersamaan, pendapatan kami pas-pasan…kekurangan…jauh dari cukup.
Kami tidak mengerti akan tertawanya kalian, tidak mengerti dengan kebaya dan jas-jas bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat. Termasuk juga sanggul sasak nan maha dashyat itu. Maaf bu, kami hanya tau, betapa untuk mendapatkan penampilan seperti itu, butuh uang yang tidak sedikit. Sementara kami masih mengais rejeki, di mana uang untuk kehidupan esok hari belum terpikirkan lagi.
Kami tidak mengerti akan bagaimana cara kami bertahan hidup. Resiko jadi orang miskin yang bahkan tidak sanggup sakit. Bagaimana mau sakit? Kalau perngobatannya saja tak terjangkau? Katanya masuk rumah sakit sekarang gratis. Berobat ke puskesmas bisa gak bayar. Tapi rasa-rasanya lebih baik berpura-pura sehat dari pada menerima perlakuan warga kelas tiga. Haduh, kami ini memang tidak tau diri. Sudahlah miskin, masih maunya di perlakukan manusiawi.
Kami bahkan tidak mengerti bagaimana kalian memandangan haram dan halal. Dimana menjadi waria rasanya lebih haram dari pada mencuri uang negara. Di mana ciuman bibir artis rasanya lebih perlu di bahas dan di komentari daripada bagaimana cara membuat kami-kami ini lebih sejahtera.
Maaf ya pak…
Maaf ya bu….
Saya cerewet sekali hari ini.
Cuma mau memastikan saja. Katanya, kalian-kalian itu kerja untuk rakyat. Betul tidak?
Kalau betul…Boleh saya tanya lagi?
Rakyat yang mana yang kalian wakilkan?
Adakah suara kalian mewakili kebenaran?
Semoga Bapak dan ibu tidak hanya memberikan jawaban, tapi juga tindakan.
Salam sayang saya
Warga Negara Indonesia
******
BAB X WARGA NEGARA DAN PENDUDUK
Pasal 28H
1. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
2. Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.
3. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabai.
4. Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang oleh siapa pun.
BAB XIV. KESEDYAHTERAAN SOSIAL
Pasal 33
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.
2. Tjabang-tjabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasasi hadyat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.
3. Bumi dan air dn kekajaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pasal 34
Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara