“Emang bisa jatuh cinta sama orang yang gak pernah ketemuan?”
Tanya saya kepada seorang teman, di waktu yang lama bangettt…jaman dahulu.
“Lantas, bisa kenal dengan orang itu, medianya apa? Tanya teman saya.
“Chatting” Jawab saya mantab.
“Bisa!” Jawab teman saya pasti.
“Loh, bisa dari mana? Chatting doang loo…foto bisa menipu, suara gak pernah terdengar, webcaman aja gak pernah…Suka kok sama orang yang gak jelas gituh siy!” Jawab saya ngotot dan sewot.
“Karena kata-kata itu sifatnya kuat, lebih kuat dari suara itu sendiri.”
Dan saya terdiam mendengar jawaban teman saya itu.
Entah kenapa. Saya sedang ingin bicara tentang cinta. Cinta dan cinta. Dalam segala bentuk penampilan, rasa, dan teman-temannya. Sejauh saya hidup di muka bumi ini. Cinta hadir dalam beragam bentuk dan gaya.
saya kenal cinta dari sejak usia remaja. Rasa-rasanya masih lekat dalam ingatan saya, ketika saya sengaja lewat kelas 3 II, di sebuah SMP negri, tempat saya bersekolah dulu. Saya ingat betul sepatu yang ia gunakan. Sepatu pantofel hitam untuk upacara, khusus hari Senin. Sisanya, sepatu keds merek Spotec, haha…warnanya juga hitam.
Rambutnya belah tengah. Tipikal poni lempar, rambut paling keren untuk ABG jaman dulu. Kakak kelas ini kenal dengan saya. Kami juga satu Organisasi di PMR, palang merah remaja. Iya, alasan saya untuk ikut dalam organisasi itu adalah agar saya sering bertemu dengannya.
Hidungnya mancung, kulitnya putih, rambutnya agak ikal. Orangnya tinggi. Senyumnya manis sekali. Ahaha…lucu banget deh jika mengingat rasa itu.
Kemudian saya mulai memberanikan diri untuk menegur lebih dahulu. Lebih sering menyapanya jika kami berpapasan di lorong sekolah. Sengaja sering-sering lewat depan kelasnya, sekedar ingin meliriknya. Dia sedang apa, ya? Dia tadi ngeliat aku gak, ya?
Aih…hihih…Centilnyaaa….
Cuma batas keberanian saya hanya sampai di situ. Selebihnya, saya memendam jauh-jauh perasaan saya. Saya tidak pernah memberitahukan rasa suka saya kepadanya. Tidak pernah. Karena saya malu. Saya takut. Saya tidak siap dengan segala resiko yang akan timbul. Kalau dia tidak membalas perasaan ku, gimana? Kalau dia malah jadi benci sama aku, apa yang mesti aku lakukan? Atau mungkin yang paling parah dalam otak saya jaman SMP dulu. Dia putih, saya item…apa yang akan di otaknya kalau saya bilang padanya bahwa suka dengan dia?
There…
Semuanya saya simpan sendiri. Rasa suka saya bercampur segala ketakutan saya kalau dia tahu saya suka padanya.
Sampai suatu ketika, si kakak kelas pujaan hati itu malah jadian sama seorang cewek yang saya kenal persis. Teman sebangku saya.
Maka si kakak kelas makin sering main ke kelas saya. Saya bisa melihatnya lebih dekat lagi. Saya malah bisa menikmati senyumannya setiap hari. Beberapa kali dalam sehari. Dengan semakin dekatnya hubungan teman sebangku saya dan kakak kelas saya itu, di saat yang bersamaan juga. Saya tau, bahwa saya telah patah hati.
Semenjak kejadian itu saya menjadi semakin berani. Apalagi ketika saya tahu, bahwa ternyata teman saya inilah yang menyatakan perasaannya duluan lewat surat. Kemudian saya berjanji dalam hati. Bahwa saya tidak akan pernah memendam perasaan saya lagi. Saya harus katakan isi hati saya. Toh resikonya cuma dua. Di terima, atau di tolak.
Waktu terus berjalan, tidak lama kemudian saya sudah mengenakan seragam putih abu-abu. Dan saya jatuh cinta, lagi.
Kali ini saya sudah menginjak kelas 2 SMU. Saya naksir teman sekelas saya. Orangnya ramah, baik. kulitnya hitam manis. Rambutnya botak model Keanu Reeves di film Speed. Itu model rambut cowok paling in jaman itu.
Di saat yang bersamaan, ada seorang cowok yang juga naksir saya. Dia bukan teman sekelas saya.
Berbeda dengan cowok yang saya taksir. Jika saya mengibaratkan cowok yang saya taksir adalah pangeran. Maka cowok yang naksir saya ini persis dakocan. Dengan kulit yang amat sangat gelap. Rambut yang amat sangat berminyak. Dan penampilan yang tidak pernah rapi. Halahhhh! anak SMU gitu loo, mau rapih gimana seeehhh?!?
Si dakocan ini rupanya berani untuk “menembak” saya. Kepada saya sehabis pulang sekolah dia katakan.
“Lo mau gak jadi cewek gue?”
Kepada dia saya katakan….
“Sorry ya, gue masih pengen belajar…kita kan masih bisa berteman…”
Yak…sesingkat itu. Rasanya saya sudah menghancurkan hatinya. Semenjak saat itu, si dakocan itu tidak pernah mau kembali menyapa saya. Tidak pernah mau menelpon saya, padahal dulu dia biasa menelpon saya berjam-jam…kemudian kami tidak pernah lagi bercakap-cakap. Kenyataan bahwa saya menolaknya untuk di jadikan pacarnya, membuat saya dan dia, seperti orang yang tidak pernah saling kenal.
Belajar dari patah hati yang pertama. Saya ingin menyatakan perasaan saya kepada cowok yang saya taksir ini. Saya memberanikan diri, karena rasanya cowok ini juga memberikan sinyalnya kepada saya. Dia sering menghampiri saya untuk meminjam buku catatan. Atau kemudian menelpon saya untuk minta di ajarkan PR bahasa inggris yang dia tidak mengerti. Yang tentu saja berakhir dengan saya memberikan contekan cuma-cuma kepadanya.
Pernyataan saya hanya lewat surat.
“Mau gak jadi cowok gue?”
Jelas. Singkat. Padat.
Tidak mesti menunggu lama, saya mendapatkan jawabannya.
“Sorry ya, gue masih pengen belajar…kita kan masih bisa berteman…”
Sejurus kemudian. Saya berharap, saya tidak pernah di lahirkan.
Cinta semasa saya remaja, bukanlah cinta yang ramah. Mereka jahat, egois, dan seperti tidak menghargai perasaan saya sebagai perempuan. Kepada cinta saya marah. Kepada cinta saya akan membalas dendam.
Waktu silih berganti…
Tanpa terasa saya kemudian kuliah. Menjadi mahasiswi. Di semester awal, dunia tetap tidak ramah. Banyak perempuan cantik bertubuh model, oh ya…mereka model beneran. Berseliweran di depan mata. Tubuh mereka jangkung-jangkung. Hidung mereka mancung-mancung. Kulit mereka putih-putih. Walupun sering kali IP mereka tidak lebih dari angka satu koma.
Ahh…IP. Catat ya, tidak ada hubungannya berapa IP kamu sama berapa cowok yang naksir kamu semasa kuliah.
Saya perhatikan lambat-lambat tampang cewek-cewek yang wara-wiri di hadapan saya ini. Mereka miliki apa yang saya tidak punya.
Kulit putih? *PLAK!*
Hidung mancung?? “PLAAKK!”
Rambut panjang??? “PLA…” Eh…sebentar…
Saya tidak mungkin merubah warna kulit dan bentuk hidung saya. Tapi rambut? Hmm…rambut? Saya kan bisa belajar memanjangkan rambut saya???
Ya, akhirnya…
Saya menyerah kalah kepada penampilan. Saya berlutut, atas nama ingin menjadi perempuan-perempuan yang gampang punya pacar. Minimal, kuliah ada yang ngantar dan ada yang jemput. Malam minggu ada yang ngajak keluar malam. Ada yang akan kangen, ada yang akan sering-sering telepon. Oh ya, pacar jaman kuliah semester awal, adalah definisi untuk kalimat-kalimat yang saya sebutkan barusan.
Sebut saja 3 bulan.
Hanya 3 bulan. Tiba-tiba rambut saya sudah melebihi bahu. dan sebulan kemudian, rambut saya masuk kategori…panjang. Bermodalkan Rp 250.000. Saya sudah bisa memiliki rambut lurus, hitam, bercahaya…ala rebondingan.
Kemudian, saya mulai berdandan. Tipis-tipis saja. Berbagai pupur dan perona, sampai mascara…bikin wajah saya terlihat…mm…lumayan.
Kalau sebelumnya penampilan saya persis seperti tiang listrik bondol. Setelah segala proses itu, saya berubah menjadi tiang bambu gondrong. Tidak begitu kurus, tidak berambut pendek.
Ajaib…
Saya mulai dapat teman dekat.
Dari seorang, sampai beberapa orang, sampai akhirnya…Owh…Susah dapetin cowok jaman kuliah??? Gak pernah lagi!
Saya tidak pernah menyangka, bahwa cinta sanggup menjamah saya ramah. Walaupun, ada beberapa usaha yang harus saya lakukan. Merubah penampilan. Merubah tatanan dan gaya. Abrakadabra…saya bukan lagi tikus got, tapi hamster yang di bilang lucu dan imut untuk piaraan.
Jaman sekarang cinta semakin canggih. Dia datang dalam bentuk elektronik berupa percakapan jarak jauh yang di wakili dengan internet dan layar komputer. Bermodalkan yahoo mesanger, picture profil yang keren. Wusah! Anda bisa dapatkan pasangan.
Alurnya akan menjadi seperti ini.
Chatting-tukeran nomer telepon-ketemuan-jadian.
Apalagi semenjak semua orang punya Facebook. Owh, liat foto orang di FB temen-message-add-wall-chatting-tukeran nomer telepon-ketemuan-jadian.
Segampang itu saja kawan.
Sialan….
Jaman saya dulu belum ada Facebook. Adanya Friendster, tapi kebanyakan yang main mas-mas gak penting, dan mbak-mbak pabrik.
saya pernah punya teman yang berhasil memiliki hubungan dengan modus operandi tersebut. Menikah. Punya anak. Sekarang dia sudah di boyong ke Belanda sana. Dia bahagia. Saya turut bahagia.
Saya juga pernah punya teman yang bisa pacaran seperti yang saya sebut di awal tulisan ini. Hanya bermodalkan sebuah foto dengan tampang kebulean. Mengaku separuh orang luar negeri. Dan teman saya termehek-mehek padanya. Saya tanyakan, kenapa dia percaya…sementara dia tidak pernah menelpon, tidak pernah mengajak chatting via webcam…teman saya menjawab…“I choose to believe in him”
Antara bodoh dan pintar, saya tidak tau teman saya berada di mana.
Cinta menurut saya. Ibarat semangkuk bakso. Di mana harus ada komposisi yang pas untuk bihun, mie kuning, bakso, tahu, dan kuah.
Harus ada tetesan cuka yang pas untuk memberikan rasa asam. Mesti ada paduan tumbukan cabai yang tepat untuk memberikan rasa pedas. Percampuran semua bumbu tersebut ternyata amat sangat nikmat. Siraman kuah panas lengkap dengan bulatan daging bakso, memberikan sentuhan akhir yang sempurna.
Cinta, ibarat semangkok bakso. Selera saya dan selera anda bisa saja tidak sama. Saya ingin lebih banyak sambal, tanpa kecap, dengan banyak kuah. Sementara orang lain? Kecap dan sambal adalah paduan yang wajib, dengan mie kuning saja. Tanpa bihun, sedikit bakso.
Ya…
Menurut saya cinta seperti semangkok bakso.
Yang bisa di nikmati santai saat hujan, atau penuh keringat saat matahari terik.
Cinta menurut saya, adalah semangkuk bakso. Di mana si penjual bakso, harus memiliki chemistry dengan pembeli baksonya.
More Over…
Cinta seperti semangkuk bakso.
Di mana si penjual baksonya harus berhenti di tempat yang tepat, agar baksonya habis terbeli
![]()