Setengah Hari Saja.

Saya selalu suka dengan Sarah Jessica Parker. Catat ya, saya suka dengan SJP, bukan Carrie Bradshaw si penulis kolom terkenal dalam film Sex and The City.

Kenapa?

Mm…mungkin saya mau egoisnya saja. Tokoh SJP sendiri lebih kompleks dari pada si Carrie. Well, siapa siy yang gak bisa jadi Carrie? Siapa?

Menikah, dengan pasangan ganteng dan kaya, sukses…tanpa anak.

Owh…bukankan tantangan terbesar dalam pernikahan adalah memiliki dan membesarkan anak serta hidup dengan segala masah yang timbul karena nya?

Sabar…:)

Sabar dulu ibu-ibu muda yang menikah dan memilih untuk menunda anak. Tulisan ini tidak saya buat untuk menyerang kalian kok :) Jangan sensi banget gitu don ah ;)

Saya tau, menikah adalah pilihan hidup. Sementara anak? Sekarang juga sudah menjadi pilihan hidup. Orang sah-sah saja rasanya kalau ingin menikah tanpa keturunan, atau mungkin menundanya.

Saya sendiri baru tau, bahwa menjadi seorang ibu, seorang istri, dan seorang karyawan di saat yang bersamaan adalah satu tugas berat tersendiri dalam hidup. Siapa yang bilang akan mudah untuk menempuh hari yang belum tentu asik di kantor, lantas mesti menemani anak bermain setelah berletih ria. Saat anak sudah tidur, apakah tugas selesai? Tentu tidak. Sekarang giliran bapak dari si anak yang harus di urus. Apa menunya malam ini? Berbincang-bincang santay tentang hal yang terjadi seharian? Atau cukup menonton DVD tema drama percintaan? Atau mungkin mau langsung bercinta saja?

Sampai di sini. Adalah kalian berpikir bahwa semua perempuan yang menikah, punya anak, dan memiliki karier yang amat sukses adalah perempuan yang Super?

Terserah siy gimana pendapat kalian, menurut saya sih, super jaya!

Saya sendiri mengalami bagaimana bingung rasanya membagi waktu. Bukan hanya mencoba memanage waktu agar semuanya dapat berkualitas. Tapi juga memanage perasaan saya. saya sendiri, toh harus nyaman dan bahagia dengan kondisi ini :)

Saya harus menipu raga saya yang mungkin sudah lelah sehabis seharian berkutat di kantor. Saya harus menyeting ulang otak saya agar kembali berpikir waras dan jernih tanpa ada kasak dan kusuk sepenggal memori akibat bertengkar dengan boss mungkin, dan saya harus selalu dalam keadaan “ingin”. Susahnya ampun-ampun. Tapi toh, saya harus mencobanya, kan :)

Ada banyak tradisi dalam pernikahan. Penerapannya dalam pernikahan tentu saja bergantung dengan gaya masing-masing pasangan yang terlibat dalam pernikahan tersebut.

Selama semuanya nyaman, maka semuanya akan baik-baik saja.

Bagaimana dengan saya?

Saya memiliki seorang putra super lucu nan ganteng yang di anugerahi Tuhan kepada saya. Dengan dia, saya bercanda dan bergurau lepas. Anak saya, adalah orang yang amat saya cintai sepenuhnya dalam hidup ini.

Tapi menjadi seorang ibu dengan anak lucu yang menawan, menjadi seorang istri dari seorang suami yang baik hati. Ternyata belum tentu cukup.

Ternyata saya masih menginginkan karier dalam pekerjaan saya. Saya merindukan bahagia menjadi diri saya sendiri. Karena ternyata ada rasa bahagia yang berbeda dalam ketidak hadiran anak dan suami saya.

Terkadang saya butuh untuk menikmati diri saya sendiri. Seutuhnya. Saya, cuma saya, dan hanya saya.

Bukan karena saya tidak sayang mereka, owh…mereka adalah hidup dan mati saya.

Hanya saja, sesekali rasa-rasanya sah-sah saja jika saya ingin menjadi cuma seorang saya.

Saya butuh hari libur.

Mungkin bukan satu minggu. Atau juga, tidak harus seharian penuh.

Setengah hari…

Ya…setengah hari saja.

Sayabutuh libur.

persis seperti yang akan saya dapatkan hari ini. Setengah hari libur dari semua rutinitas saya sehari-hari. Di hari libur yang katanya hari  kemerdekaan Republik Indonesia.

Saya mau libur jadi diri saya sendiri, setengah hari saja.

Selamat menikmati libur teman-teman :)

Buat yang ngantor libur-libur begini….

Cuciannnn dehhh looooo ;)